Inilah Makna Upacara Chau Tu dan Yen Kung Bagi Umat Budha

Rabu, 07 November 2018 : 21.08
Guru Besar umat Budha Yang Mulia Passang Rinpoche akan memimpin upacara Chau Tu dan Yen Kung di Vihara Satya Dharma Denpasar
DENPASAR - Upacara "Chau Tu" dan "Yen Kung" di Vihara Satya Dharma, Denpasar yang akan dipimpin Guru Besar Yang Mulia Passang Rinpochepada Sabtu (10/11/2018) memiliki sejarah dan makna penting bagi kehidupan umat Budha di muka bumi.

Kegiatan Chau Tu ini, merupakan upacara pelimpahan jasa, sebagai perwujudan cinta kasih kepada para leluhur, orang tua, dan almarhum keluarga yang sudah meninggal.

Ketua panitia acara, Anny Go menuturkan kegiatan digelar Flourishing Buddhist Centre (FBC) bekerja sama dengan Vihara Satya Dharma, Benoa, Denpasar. Acara Chau Tu dan Yen Kung akan dimulai pada pukul 18.00, registrasi mulai dibuka pukul 14.00 hingga 17.00.

Kegiatan bertajuk "Dhamma Talk, Chau Tu dan Yen Kung" ini dipimpin langsung Guru Besar umat Budha, Yang Mulia Passang Rinpoche. Dari rilis panitia Upacara "Chau Tu" dan "Yen Kung", dijelaskan, ritual Chau Tu atau Ulambana adalah suatu pelimpahan jasa pahala baik dari keturunan yang masih hidup kepada arwah leluhur.

Dalam sutta mahayana dikatakan, bulan ke 7 tgl 15 Y.M.Monggalana membuka pintu neraka untuk menyelamatkan ibunya dengan melakukan pelimpahan jasa dari memberikan makanan bagi para bikkhu Sangha. Para umat Buddha aliran Mahayana biasanya melakukan praktek chau tu pada bulan ke 7.

Sedangkan ajaran theravada adanya upacara ulambana yaitu pada saat raja Bimbisara melakukan pelimpahan jasa tanpa konsentrasi dan melupakan para leluhurnya, di saat malam raja Bimbisara, bermimpi buruk bahwa arwah leluhur (bahkan ada yang sudah menjadi peta selama ribuan tahun) marah karena tanpa pelimpahan jasa pada mereka.

Para arwah tidak mendapat pahala baik untuk ikut berbahagia dan terlahir kembali ke alam yang lebih baik. Dalam ajaran theravada pelimpahan jasa untuk leluhur bisa dilakukan kapan saja tanpa adanya batasan waktu.

Dalam ajaran Tantrayana upacara Ulambana atau Chautu dapat dilakukan kapan saja karena pemahaman dari chau tu adalah pelimpahan jasa perbuatan baik dari keturunan yang masih hidup (dengan melafalkan sutta atau mantra, ikut berdana untuk vihara, mendengarkan Dharma dan lainnya) maka para leluhur bisa ikut berbahagia dan terseberangkan ke tempat yang lebih baik.

Dalam Tantrayana diajarkan untuk selalu melakukan pelimpahan jasa karena ini fondasi yang sangat penting untuk latihan praktek Bodhicitta yang bisa membawa kita menuju jalan pencerahan.

Apa itu persembahan Yen Kung?
Lewat Persembahan Yen Kung atau persembahan asap, kita bisa membantu para mahluk yang tinggal di enam alam penderitaan, ketika kita bervisualisasi memberikan makanan pada para arwah di "alam peta" maka mereka akan mendapatkan makanan sesuai yang kita persembahkan.

Jika kita memberikan nasi maka mereka akan menerima nasi, jika kita memberikan pakaian maka mereka akan menerima pakaian. Dari semua alam peta kita mengundang mereka datang sebagai tamu kita. Terutama yang mempunyai jodoh dengan kita.

Terutama para mahluk yang kita mempunyai hutang karma, yang dapat memberikan kita halangan seperti halangan dalam perkerjaan, halangan rumah tangga dan kesehatan.

Banyak sekali para arwah yang melekat pada kita karna karma dikehidupan lalu dan karma di kehidupan ini yang mempunyai ikatan kita, dan selalu mengikuti kita dapat menggangu dan memberikan banyak sekali halangan pada kita karena mereka iri hati dan marah pada kita, dan mempunyai niat untuk mencelakakan kita.

Semua makanan dan pakaian diperlukan oleh para mahluk alam peta karena mereka masih melekat pada keadaan pada mereka hidup dibumi.Banyak sekali tingkat para arwah alam peta ada yang mempunyai kekuatan kecil.

Ada juga yang mempunyai kekuatan besar yang ingin menyakiti dan membuat kita menderita, jika dengan setulus hati kita memohon agar semua jasa kebaikan pada saat kita melakukan puja chau tu kita limpahkan pada mereka maka mereka akan akan ikut berbahagia karena kita masih ingat pada mereka, dan mereka bisa menerima persembahan kita.

Pada saat melaksanakan puja Chau Tu dengan setulus hati, mempersembahkan pada mereka semua kebutuhan mereka dan pada saat pelimpahan jasa dengan segenap hati penuh kasih dan boddhicita kita memohon agar makanan dan pakaian untuk para mahluk tidak akan habis dan terus melimpah untuk mereka.

Semua mahluk yang melekat dan serakah pada semua milik kita seperti kedudukan kita, harta benda dan kesehatan kita juga kebahagiaan kita makan ketika kita melaksanakan puja yen kung kita dengan hati yang tulus juga memohon dan menginginkan agar para mahluk tersebut juga memilikinya agar mereka merasa puas dan senang. Kita mengharapkan mereka agar jangan melekat dan tamak pada semua milik kita.

Kita dengan iklas mengharapkan agar mereka juga bahagia, dan melupakan semua kemelekatan mereka pada kita di masa lalu, serta melupakan semua marah yang masih mereka dan kita rasakan, agar semua penderitaan dan dendam masa laku bisa dilupakan, dan jangan sampai saling membalas dendam dan amarah karena kejadian lalu.

Semua persembahan dan pengorbanan yang kita berikan pada para "mahluk peta" saat melakukan puja yang mempunyai ikatan karma kepada kita agar mereka puas dan bahagia, agar mereka membebaskan kita dari semua kemelekatan yang mereka inginkan dari kita misal kesehatan, keharmonisan, harta benda, bencana kecelakaan dan lain sebagainya.

Setelah semua para mahluk dari alam peta merasa bahagia maka kita akan mendapatkan semua yang kita inginkan, semua yang kita lakukan akan lancar, semua yang sakit akan menjadi sembuh.

Ketika kita melakukan puja Yen Kung kita harus mempunyai niat bahwa semua makanan dan kebutuhan yang kita persembahkan kepada para mahluk yang membutuhkan sebesar dan sebanyak bumi dan isinya, jangan ada pemikiran bahwa barang Yen Kung ini milik saya atau milik orang lain.

Jangan mempunyai pemahaman yang membuat kita melekat pada barang persembahan kita, tidak ada perbedaan kepada siapa atau mahluk apa kita persembahkan semua persembahan asap kita, tidak memandang warna atau jenis mahluk.

Dengan melepaskan kan ego dan rasa memiliki kita mempersembahkan semua persembahan kita maka ini adalah jalan kita mempraktekan melepas ego dan kemelekatan kita sendiri ini lah jalan menuju bosdhisatva tingkat pertama (ik ting phu sat).

Guru Besar Rinpoche pernah mengatakan bahwa dengan niat yang tulus kita mempersembahkan semua pemberian kita ketika melakukan puja yen kung, juga dengan harapan dan berikrar bahwa semua pengorbanan kita yang akan kita praktekkan dalam melatih hati boddhicita kita limpahkan kepada para mahluk tersebut maka kita akan mencapai pencerahan dan kekosongan yang sempurna.

Jika persembahan kita begitu besar dan mendalam maka dengan puja yen kung ini kita limpahkan jasa pada para mahluk di enam alam rendah agar mencapai ke-Buddhaan. Usahakan puja Yen Kung kita laksanakan setiap hari di rumah dengan niat membantu dan menyelamatkan sebanyak mungkin para mahluk yang berada di enam alam rendah. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi