Bersama Warga, Wabup Dipa Hadiri Puncak Karya Pura Peninjoan Besakih

Kamis, 15 November 2018 : 13.24
KARANGASEM - Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa bersama Nyonya Sarini Artha Dipa mengikuti persembahyangan Puncak Karya di Pura Peninjoan Besakih, Kamis (15/10/2018). Pura Peninjoan Besakih di empon oleh Pemkab Bangli.

Letak Pura ini agak kebarat-laut dari Pura Batu Madeg, melalui jalan setapak, menuruni lembah dan menyelusuri pinggir sungai kering tegalan penduduk. Dibutuhkan waktu kurang lebih antara 15 sampai 25 menit untuk sampai di Pura Peninjoan disebuah bukit kecil.

Di sana terdapat sebuah Meru tumpang 9. Dari tempat inilah konon Empu Kuturan meninjau wilayah Desa Besakih yang sekarang menjadi tempat pelinggih-pelinggih di Pura Penataran Agung dan sekitarnya.

Pembanguan dan perluasan Pura Besakih saat itu, tidak sebanyak yang kita saksikan sekarang. Dikisahkn di tempat inilah Empu Kuturan menjalankan tapa yoga samadhi bila pergi ke Besakih.

Ajaran-ajarannya tentang tata cara membangun pura, membuat pelinggih meru, kahyangan tiga, Asta Kosala Kosali dan lain-lainnya sampai sekarang masih dipraktekkan oleh segenap lapisan masyarakat Hindu.

Setelah wafat tidak lagi disebut Empu Kuturan, tetapi Bhatara Empu Kuturan, karena beliau dipandang sebagai Awatara atau Dewa Kemanungsan tidak ternilai besar jasanya dalam menuntun masyarakat Umat Hindu.

Karena itu, kemudian distanakan di Meru tumpang 9 di Pura Peninjoan ini, selain di tempat-tempat lain seperti di Silayukti (Padangbai - Karangasem). Dari Pura Peninjoan, semua pelinggih di Pura Penataran Agung dapat dilihat dengan jelas, demikian pula pantai dan daratan pulau Bali.

Di sebelah selatan kelihatan indah sekali. Selain dari meru tumpang 9, pura ini juga dilengkapi dengan dua buah Bale Pelik dan Piyasan. Bendesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiarta, mengatakan dudonan karya berlangsung selama tiga hari.

Penganyar hingga penyineban berlangsung sampai 18 Nopember 2018. Kata dia, Piodalan di Pura Peninjoan yang jatuh pada hari Wraspati Wage Tolu dipuput oleh Ida Pedande Siwa dari Geria Bangli dan Ida Pedanda Budha Ala Kajeng dari Geria Nongan.

Pada puncak karya ini bebantenan yang dihaturkan Sanggar Tawang Rong pat Catur Muka, Ayaban-ayaban sor sanggah tawang, Ayaban bayang-bayang, Sorohonan kebo.

Sarat agung, teteg agung, pule kerti agung, pule gembal agung, caru mance sia, sate bebali, dangsil 1, 3, 5, 7, 9, 11 serta soroh-sorohan bebangkit. Dihaturkan pula persembahan Tari Wali Topeng, rejang giri kusuma, rejang sari, rejang renteng dengan gamelan slonding. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi