Lembaga Siber di Jepang Sebut Kondisi Internet Indonesia Berisiko Tinggi

Sabtu, 13 Oktober 2018 : 00.00
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi saat membuka CodeBali di Legian Badung
BADUNG - Kondisi internet Indonesia dinilai masih masuk kategori buruk dan menunjukkan risiko yang tinggi karena banyaknya open DNS Server dan Open SMNP Server yang beroperasi di Tanah Air.

Hal itu sebagaimana hasil monitoring data dan analisa yang dilakukan oleh Lembaga Pusat Koordinasi dan Respon Insiden Siber Jepang JPCERT/CC.

“Kondisi kesehatan internet di Indonesia tergolong buruk dan menunjukkan risiko yang tinggi, terutama karena banyaknya open DNS Server dan Open SMNP Server yang beroperasi di Indonesia,” kata analis keamanan informasi Katsuhiro Mori dari Lembaga Pusat Kordinasi dan Respon Insiden Siber Jepang JPCERT/CC saat menyampaikan paparannya di acara CodeBali, Legian, Kuta, Jumat 12 Oktober 2018.

Diungkapkan, kelemahan di open DNS Server dan Open SMNP Server menurutnya dapat dimanfaatkan pihak yang ingin berbuat jahat menyerang bahkan mengamplifikasi serangan. "Akibatnya membawa terjadinya serangan DDoS," katanya menegaskan.

Ia menjelaskan, hasil monitoring itu, celah kotor internet Indonesia banyak ditemukan di alamat IP perusahaan-perusahaan layanan internet (ISP), perusahaan swasta, institusi pemerintahan pusat hingga daerah serta perguruan tinggi negeri dan swasta.

Dalam kesempatan sama, Ketua IDSIRTII/CC, Rudi Lumanto menuturkan, sebenarnya nilai buruk di dua indikator tersebut bukanlah satu-satunya gejala potensi terjadinya bencana siber di Indonesia.

Ada banyak indikator lain yang lebih membahayakan, di antaranya makin banyaknya jumlah perangkat IT yang networked ready, termasuk di dalamnya perangkat IoT yang diprediksi ada sekitar 30 miliar di tahun 2020.

Selain itu juga beredarnya aplikasi yang 95 persen memiliki kerentanan dan kemampuan manusia sendiri yang semakin sulit mengejar dan menutup banyaknya potensi ancaman.

"Upaya yang sama dan dilakukan selama ini tidak akan mampu. Oleh karena itu, kita perlu segera mencari langkah terobosan dan revolusioner agar terhindar dari bencana siber,” sambung Rudi. Menurut Rudi, sangat berbahaya jika kita terus membiarkan kondisi seperti ini, sementara kita merasa aman-aman saja.

Sebegitu kritisnya kondisi ini, mengutip ungkapan Direktur FBI, Rudi mengatakan hanya ada dua tipe perusahaan di dunia siber, perusahaan yang pernah di retas dan perusahaan yang tidak tahu bahwa dirinya pernah diretas.

“Perlu segera dilakukan langkah-langkah terobosan dari mulai perbaikan kerangka hukum, kelembagaan, kerja sama dan peningkatan kapasitas manusia secara masif,” tutur alumnus Universitas Komunikasi Elektro Tokyo Jepang ini.

Diingatkan, jika bom waktu bencana siber meledak, maka dapat dipastikan hal itu akan merugikan para pelaku industri digital serta masyarakat penggunanya sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi