Ini Dia Para Hacker Penyandang Cyber Jawara di Indonesia

Sabtu, 13 Oktober 2018 : 07.51
Para pemenang Cyber Jawara dalam ajang CodeBali yang digelar di Kuta, Badung
BADUNG - Para pemenang Cyber Jawara masih didominasi kalangan kampus seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil menjuarai even CodeBali, Kamis 11 Oktober 2018 malam. Tim JAV beranggotakan tiga mahasiswa ITB mempertahankan gelar Cyber Jawara 2018 dalam laga final di even CodeBali.

JAV mengungguli tim asal Universitas Indonesia (UI) Arkavidia 9 yang dalam laga final mampu menjadi tim terbaik dalam bertahan karena sukses menggagalkan 131 serangan. Namun itu hanya mengantarkan Arkavidia 9 di posisi runner up dengan skor 6.775.

Sementara posisi ketiga diraih tim CUM dari ITB yang baru pertama kali ikut kompetisi ini dengan skor 5.220. Posisi keempat ditempati tim Cakrabyuha dengan skor 4.708 yang dua anggotanya adalah mahasiswa STMIK STIKOM Bali yakni Ida Bagus Budhantara dan I Ketut Pasek Asmarajaya.

Salah satu kejutan adalah tim “Rules of Pwning” yang beranggotakan pelajar dari SMKN 1 Dompu, SMKN 2 Surakarta dan SMKN 12 Kabupaten Tangerang.

Mereka berhasil mengumpulkan skor 3.821 dan menduduki posisi kelima, mengalahkan tim lain dari ITB, UI, UGM, IPB, Universitas Bina Nusantara, Universitas Gunadarma, bahkan dari Pusdatin TNI dan TNI AL.

Jason Jeremy Iman, Aufar Gilbran dan Muhamad Visat Sutarno dari Tim JAV sejak awal ronde sudah agresif menyerang pertahanan 17 server yang dikawal tim lain. Mereka mengumpulkan poin terbanyak 7.351 bahkan mampu menyerang dengan sukses beberapa server rivalnya sebanyak 2.266 kali.

Dengan hasil ini, JAV berhak mewakili Indonesia ke kompetisi tingkat Asia Tenggara di Bangkok Desember 2018. Tiket ke kompetisi keamanan siber tingkat dunia di Tokyo Jepang dan Las Vegas Amerika Serikat bisa mereka dapatkan jika merebut gelar juara tingkat Asia di Bangkok.

Visat yang kini sudah lulus dari ITB dan bekerja di start up Bukalapak mengungkapkan, timnya harus lebih siap setelah pengalaman mengikuti kompetisi tahun lalu di Bangkok dan Tokyo.

“Kami berangkat dari komunitas, lalu dari situ kita coba untuk terus ikut kompetisi-kompetisi sejenis”, kata Muhamad Alifa Ramadhan, siswa SMK 12 Kabupaten Tangerang yang masih berusia 17 tahun.

Kemampuan anak-anak muda menguasai dunia siber sangat menjanjikan dan bisa menjadi stok keras pemerintah Indonesia menghadapi tantangan industri digital ke depan.

“Anak-anak muda yang menguasai dunia siber menjadi salah satu kunci pengoptimalan teknologi internet of think bagi berkelanjutannya pembangunan industri digital 4.0 di Indonesia,” kata Ketua ID/SIRTII BSSN, Rudi Lumanto.

Jika institusi yang mengawal dunia siber Indonesia tidak digawangi oleh mereka-mereka yang paham dan memiliki kapabilitas maka bencana siber hanya tinggal menunggu waktunya saja.

Serangan pihak-pihak yang memiliki niat jahat dari tahun ke tahun selalu meningkat secara jumlah dan kualitasnya. Sementara kondisi manajemen dunia siber di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga dan dunia.

"Anak-anak muda seperti mereka inilah yang harusnya segera dirangkul oleh negara dengan cara yang kreatif,” sambung Rudi.

Sejauh ini, mayoritas para mantan peserta kompetisi Cyber Jawara direkrut perusahaan-perusahaan industri digital mancanegara. Mereka memang menawarkan fasilitas dan jenjang karir yang sangat menjanjikan. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi