Hasil Riset Indeks Kesehatan Laut Bali Berkategori Sedang

Rabu, 31 Oktober 2018 : 18.50
Peluncuran indeks kesehatan laut di Bali
BADUNG - Hasil riset tentang indeks kesehatan laut pada kawasan laut di Bali selama lima tahun terakhir dalam kategori sedang atau masih jauh dari ideal.

Hal itu terungkap dari hasil riset yang dilakukan Pemerintah Daerah Provinsi Bali dan Conservation International-Indonesia (CI Indonesia) meluncurkan Indeks Kesehatan Laut Bali atau Ocean Health Index (OHI) untuk Kawasan laut di Bali.

Tim pengukuran OHI+ Bali terdiri dari 13 lembaga baik pemerintah, LSM, maupun universitas mulai bekerja sejak tahun 2016 dan telah dikukuhkan sebagai Tim Teknis melalui Keputusan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut No.53/BALITBANG KP.2/XII/2016.

Seluruh tim menghimpun dan menyiapkan data time series (berlanjut) yang dibutuhkan untuk menyusun OHI+, dimana minimun data yang dibutuhkan adalah selama 5 tahun terakhir.

Ada 10 sasaran sebagai sebagai parameter pengukuran, namun hanya 9 yang dipakai di Bali. Kesembilan sasaran itu adalah Turisme dan Rekreasi, Perikanan Tradisional, Keanekaragaman Hayati, Penyimpanan Karbon, Perlindungan Pantai, Penyediaan Pangan, Kepekaan Ruang, Produk Alami, dan Perairan Bersih.

"Satu parameter yaitu Ekonomi dan Mata Pencaharian belum dapat dihitung karena masih membutuhkan lebih banyak data pendukung," jelas Kepala Kantor Perikanan dan Kelautan Bali Ir. Made Gunaja dalam keteranganya baru-baru ini di Nusa Dua.

Sembilan parameter pengukuran itu juga menunjukkan adanya kerjasama dari berbagai lembaga yang turut menyediakan data, diantaranya pariwisata, kelautan dan perikanan, tenaga kerja, dinas pendapatan daerah, perdagangan, dan lain-lain.

"Nilai total OHI+ Bali adalah 51 atau kategori sedang dari nilai total maksimal 100," sebut Gunaja. Ia menjelaskan, tantangan terberat dalam penyusunan OHI+ Bali adalah komunikasi dan koordinasi antar lembaga di seluruh provinsi Bali dalam penyediaan data time series.

”Kami berharap ada komunikasi dan sosialisasi yang lebih baik pada kesempatan yang akan datang, sehingga kita bisa mengumpulkans eluruh data OHI, dan seluruh instansi mengetahui arti penting OHI ini,” imbuhnya.

Dari sembilan parameter yang diukur, ada yang diproyeksikan akan memiliki nilai menurun, tetap dan meningkat.

Parameter Penyimpanan Karbon menunjukkan kecenderungan tetap, sedangkan Keanekaragamanan Hayati dan Perikanan Tradisional memiliki kecenderungan menurun. Tetapi enam parameter lain diproyeksikan meningkat.

Kepala Institut Penelitian dan Observasi Kelautan, Kementerian Perikanan dan Kelautan I Nyoman Radiartha mengaky tidak bisa sepenuhnya mengadopsi OHI Global karena adanya perbedaan karakteristik yang unik pada tingkat lokal, yang berimplikasi pada data yang ada.

Sementara Manager CI Pulau Bali I Made Iwan Dewantama mengungkapkan, hasil riset ini sebagai alat yang baik untuk mengelola laut di Bali, datanya komprehensif dapat dipertanggungjawabkan.

Nilai OHI+ Bali pada sembilan parameter adalah sebagai berikut: Turisme dan Rekreasi (46), PerikananTradisional (37), Keanekaragaman Hayati (94), Penyimpanan Karbon (24), Perlindungan Pantai (35). Penyediaan Pangan (59), Kepekaan Ruang (40), Produk Alami (40), dan Perairan Bersih (79). (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi