Beromzet Rp34 Miliar, Menteri Eko: Bumdes Kutuh Jadi Percontohan Nasional

Senin, 15 Oktober 2018 : 20.19
Menteri PDTT Eko Putro Sandjojo
BADUNG - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo menyatakan Desa Kutuh ini menjadi desa percontohan bagi desa lain di Indonesia dengan keberhasilannya dalam pengelolaan Bumdes Pariwisata.

Saat ini Bumdes pariwisatanya sudah mempunyai omzet lebih dari Rp34 miliar dengan net profit lebih dari Rp13 miliar. Dan inovasi tersebut sudah mulai dicontoh oleh desa-desa lain di Indonesia.

Masyarakat Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali sebagian besar masyarakatnya hidup serba hidup dengan keterbatasan karena rata-rata menjadi nelayan siwit, (rumput laut).

Namun seiring berjalannya waktu mereka mampu memanfaatkan potensi desa dengan membuat inovasi di bidang pariwisata.

"Berkat Inovasi ini Desa Kutuh mendapatkan apresiasi dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo saat pertemuan dunia "High Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM4-CLKS) 2018 di Bali, Senin (15/10/2018).

Saat ini di sana menjadi desa yang mandiri. Awalnya sebagian besar masyarakat menjadi petani rumput laut yang cenderung banyak efek negatifnya karena sering terkena hama dan harga jual yang tak menentu harganya.

"Desa Kutuh berhasil mengubah dan mengembangkan potensi desa menjadi sebuah destinasi kelas dunia. Caranya mereka membelah bukit kapur sebagai akses jalan masuk ke pantai,” ucap Eko.

Menurut Menteri Eko, Desa Kutuh berhasil menjalankan program intensif Kementerian PDTT. Program bantuan ini diberikan bagi desa yang memiliki inovasi dalam mewujudkan pembangunan desa dimana setiap desa mendapatkan kucuran dana senilai Rp1.5 Miliar.

Akan tetapi, topik diskusi pada knowledge hari ini menurut Menteri Eko lebih mengarah bagaimana knowledge berjalan di Indonesia.

Karena setiap program inovasi desa dicatat rapi baik tulisan maupun berupa catatan video. Sehingga gampang dilihat oleh masyarakat desa. Saat ini kami sudah ada setidaknya 30 ribu inovasi yang bisa di copy dan di implementasikan oleh desa lainnya.

“Nah program Intensif inilah yang tadi kami sampaikan di dalam forum "High Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM4-CLKS) 2018 yang dihadiri oleh pada delegasi IMF/WB dan wartawan dunia. Karena model dana desa dan model implementasi inovasi negara kita mencerminkan pembangunan yang skala besar. Misalnya membangun 150000 km jalan desa. Itu yang menjadi miss dari para delegasi IMF/WB,” imbuhnya.

Tidak ada syarat tertentu untuk bisa mendapatkan intensif ini. Artinya program intensif ini blasting atau ditawarkan kesemuanya desa di seluruh Indonesia. Hanya saja jika desa yang dinilai memiliki potensi maka akan diprioritaskan.

Untuk pengawasan dalam hal ini, pihaknya tidak perlu was-was. Karena program ini akan disinergikan oleh beberapa pihak. Baik dengan pihak kepolisian, kejaksaan. Termasuk kontrol publik.

“Jadi kurang harus move one untuk persoalan anggaran. Kita percayakan kepada masyarakat desa. Kita juga berterimakasih kepada media karena sudah berperan dalam mensosialisasikan program desa,” demikian Eko.

Kepala Desa Kutuh I Wayan Pura mengatakan, pada tahun 1998 hingga 2005 Desa Kutuh menjadi pusat pengembangan rumput laut terbaik di Indonesia. Bahkan di periode itu hasil pengembangan rumput laut di desa ini pernah menjadi juara satu nasional selama 3 kali.

Namun di tahun 2006 program pengembangan rumput laut mengalami penurunan secara drastis yang diakibatkan oleh hama. Namun karena pantai di desa Kutuh memiliki potensi pantai yang bagus kemudian pemerintah desa berinovasi untuk mulai melirik untuk dijadikan destinasi wisata baru.

“Dulunya masih dikelola secara sukarela oleh warga kita. Dan pada akhirnya di tahun 2011 kita sudah mulai launching destinasi pantai Pandawa,” imbuh Purja.

Ia menjelaskan, masyarakat Desa Kuta hampir 40 persen berprofesi sebagai petani rumput laut. Namun saat ini hampir semuanya beralih profesi sebagai penyedia jasa di berbagai bidang. Baik jasa pariwisata, barang dan lain sebagainya. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi