BATAN: Indonesia Bisa Pelopori Riset Material Sains sebagai Teknologi Masa Depan

Rabu, 31 Oktober 2018 : 17.39
Presiden MRS Indonesia Prof Evvy Kartini dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Dr Sri Adiningsih di pertemuan ICA-IUMRS di Kuta, Badung
BADUNG - Indonesia bisa menjadi pioner dalam riset tentang pemanfaatan material sains di kawasan Asia sebagai teknologi masa depan. Peneliti BATAN sekaligus President MRS-Indonesia, Prof. Evvy Kartini menjelaskan, banyak material sains yang kini sedang menjadi trend.

Sebut saja, energi electric vehicle berbasis energi baru terbarukan, dan materi lithium battery. Diskusi tentang teknologi masa depan adalah industri 4.0 dimana basisnya menggunakan material seperti vensor, device, robot.

"Kita pernah mendiskusikan apakah mungkin di Indonesia ada solarod, dimana infinity energy, energinya dari matahari, kemudian disimpan ada di solarod, kemudian electric vehicle itu bisa sambil jalan sambil di-charging, itu mimpi kita," tuturnya di sela 19th International Conference in Asia-International Union of Materials Research Societies (ICA-IUMRS) di Kuta, Badung, Rabu (31/10/2018).

Indonesia diberi kepercayaan menjadi tuan rumah pertemuan (ICA-IUMRS) yang dihadiri para ahli dari berbagai latar belakang. Diantaranya yang memiliki keahlian dibidang energi, kesehatan, lingkungan, dan aplikasi nuklir.

Banyak hal dibahas, utamanya terkait dengan perkembangan material sains di dunia. Menurutnya dunia, khususnya Indonesia dapat memanfaatkan komponen material sains untuk mendukung terwujudnya program pembangunan berkelanjutan.

Konferensi internasional yang dihadiri 200 partisipan, dan 40 pembicara dari 20 negara itu berlangsung sehari (31 Oktober 2018) di Kuta.

"Karena di negara lain pun baru beberapa negara yang mempunyai itu, seperti China baru tahun ini. Kenapa tidak Indonesia bisa memulai riset tersebut, dan bisa menjadi juga pionir diantara negara-negara Asia lainnya," imbuhnya.

Dalam kesempatan sama, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Sri Adiningsih menilai pertemuan ICA-IUMRS memiliki peran strategis. Menurutnya masyarakat material sains akan sangat membantu merealisasikan pembangunan berkesinambungan yang ramah lingkungan.

"Karena kita juga memiliki komitmen didalam kesepakatan iklim Paris 2015, mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% sampai tahun 2030, dan tentunya perlu didukung oleh semua pihak," katanya.

Pemerintah Indonesia disebut memiliki komitmen besar dalam mewujudkan pembangunan berkesinambungan yang ramah lingkungan. Salah satu wujud komitmen itu melalui penciptaan kota hijau.

Ditegaskan, Indonesia sudah bekerja keras diantaranya kan ada proper yang sudah 15an tahun perusahaan-perusahaan diaudit pemenuhannya terhadap lingkungan.

"Kota-kota juga mulai banyak yang hijau, dan juga energi baru terbarukan serta mengurangi kebakaran di pulau Sumatera dan Kalimantan dan juga hasilnya sudah kelihatan," ujar ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogkarta ini.

Melalui konferensi internasional kali ini menghasilkan capaian signfikan, diantaranya soal realisasi green technology, masyarakat material sainspun diminta merumuskan roadmap dari implementasi green technology dalam mendukung pembangunan bekelanjutan.

"Tentu saja masyarakat material sains ini kan mereka penting sekali, karena materi-materi yang kita lihat itu kan banyak yang tidak bersahabat bagi lingkungan, bisa merusak alam seperti plastik," tuturnya.

Sekarang ini mulai muncul plastik yang degradable yang bersahabat dengan lingkungan. Ia berharap banyak material-material lain yang mereka ciptakan, yang tentunya bersahabat terhadap lingkungan.

Sebab, jika tidak, ini kan bumi akan berat menanggung materi-materi yang pada akhirnya nanti banyak yang dibuang seperti untuk elektronik ataupun gawai dan sebagainya.

"Saya sangat berharap nanti Bu Evvy dan kawan-kawan berhasil mencari rencana kerja dan juga aksi konkrit, bagaimana green technology itu bisa dihasilkan dari seminar ini yang bisa menjadi komitmen masyarakat material sains," sambungnya.

Semua itu, sebagai upaya mendukung pembangunan berkelanjutan dan yang tentunya mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mengurangi yang merusak lingkungan. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi