Teror Konsumen, OJK Didesak Blokir Perusahaan Fintek Ilegal

Rabu, 12 September 2018 : 07.07
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi/dok.kabarnusa
JAKARTA- Korban perusahaan fintek (finansial teknologi) terus berjatuhan terbukti semakin banyak yang menyampaikan pengaduan.

"Konsumen terjebak menjadi korban perusahaan fintek berupa utang/kredit online," sebut Ketua Pengurus Harian YLKI dalam rilis diterima Kabarnusa.com Rabu (12/9/2018).

Saat ini sudah lebih dari 100-an pengaduan konsumen korban fintek diterima YLKI, baik berupa teror, denda harian dan atau bunga/komisi yang setinggi langit.

Untuk itu, YLKI menyerukan OJK segera menutup/memblokir perusahaan fintek yang terbukti melakukan pelanggaran hak-hak konsumen, baik secara perdata dan atau pidana.

Pelanggaran itu berupa teror fisik by phone/whatsapp/sms. Pelanggaran juga berupa pengenaan denda harian yang sangat tinggi, misalnya Rp 50.000 per hari; dan atau komisi/bunga sebesar 62 persen dari hutang pokoknya. Ini jelas pemerasan kepada konsumen;

" YLKI juga mendesak OJK untuk segera memblokir perusahaan fintek yang tidak mempunyai izin (ilegal), tetapi sudah melakukan operasi di Indonesia," tegas dia.

Dalam catatan YLKI, diperkirakan lebih 300 perusahaan fintek, yang mengantongi zin dari OJK hanya 64 perusahaan .

"Ini menunjukkan OJK masih sangat lemah dan atau tidak serius dalam pengawasannya," tegas dia.

Selain itu, YLKI meminta konsumen untuk tidak melakukan utang piutang dengan perusahaan fintek atau kredit online yang tidak terdaftar/berizin dari OJK.

Jika konsumen nekat dan terjebak pada hutang piutang dengan perusahaan fintek/kredit online ilegal, maka tidak ada pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban;

4. Selain melaporkan pada OJK, YLKI menghimbau konsumen yang menjadi korban teror dari perusahaan fintek/kredit online, untuk segera melaporkan secara pidana ke polisi. Patut diduga apa yang dilakukan pihak fintek kepada konsumen, berupa teror dan penyedotan data pribadi secara berlebihan, adalah tindakan pidana;

Pihaknya menghimbau konsumen untuk membaca dengan cermat/teliti persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh perusahaan fintek/kredit online tersebut.

"Sebab teror yang dialami konsumen bisa jadi bermula dari ketidaktahuan konsumen membaca aturan/persyaratan teknis yang ditentukan oleh perusahaan fintek tersebut," demikian Tulus. (rhm).

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi