Terhindar Bhuta Kala, Ratusan Warga di Karangasem Jalani Nyapu Leger Massal

Senin, 24 September 2018 : 06.08
Warga Pesemetonan Sire Arya Keneruhan Bali mengikuti upacara Nyapu Leger di Karangasem
KARANGASEM - Upacara Nyapu Leger massal digelar Pesemetonan Sire Arya Kenuruhan di Sibetan Kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem Bali yang salah satunya bertujuan agar terhindar dari gangguan bhuta kala.

Ketua Panpel I Komang Kisid mengungkapkan, Nyapu Leger massal ini merupakan pemungkas pemungkas karya Ngaben dan Ngeroras masal di pesemetonan Sire Arya Kenuruhan Bali digelar, Minggu 23 September 2018.

Nyapu leger dilakukan untuk anak anak atau orang dewasa yang lahir di uku Wayan. “Ya ini juga untuk kebersamaan dengan pesemetonan,” ujarnya sembari menambahkan, Nyapu leger kali ini diikuti 114 orang.

Dengan menggelar upacara bersama ini bisa lebih menekan biaya sebab jika melaksanakan sendiri biaya sampai Rp 25 juta per orang. Ini karena harus menggelar wayang dan juga mendatangkan Pandeta. Selaian itu bebenten yang dipergunakan juga besar dan lengkap.

Sementara dengan bersama sama saat ini sudah pekat dari Ngaben dan ngeroras masal sebesar Rp 1,5 juta. khusus untuk Nyapu Leger kali ini ditambahkan sesari atau punia untuk Jro Dalang sebesar Rp 100 ribu masing masing.

Baca Juga : prosesi-nunas-don-beringin-dihadiri.html

Saat Nyapu Leger ini juga dilakukan pembacaan futru kala purana yang merupakan tatwa atau hakikat upacara ini. Keponakan Wayan Geredeg yang ikut Nyapu Leger adalah I Kadek Bayu Darma Kusuma, yang merupakan anak I Wayan Darma adik I Wayan Geredeg.

Menurut Mangku Jati selaku panitia pelaksana bidang upacara, mengatakan Nyapu Leger ini merupakan pebayuhan oton untuk anak yang lagi di Uku Wayang. "Ini dilakukan agar sang anak tidak diganggu Bhuta Kala atau Batara Kala," tuturnya.

Untuk Nyapu Leger kali ini juga ada peserta dari pesemetonan lainya seperti Arya Gusti dan juga dari semeton Pasek. Menurut Mangku Jati sesuai Kala Purana Tatwa kalau anak yang lahir di tumpek Wayang itu salah wuton. Karena itu anak tersebut diganggu Batara Kala.

Untuk itu anak tersebut harus diruwat dengan upacara sapuh leger. Ini merupakan ruwetan khusus untuk anak yang lahir di wuku wayang sesuai penanggalan Bali.

Mestinya Nyapu leger ini dilakukan tepat saat hari lahir sang anak. Namun karena biaya besar bisa dilakukan bersama sama dengan mencari pas Sabtu atau Tumpek Wayang yang jatuh di hari Sabtu.

Hanya saja enam bulan lagi sang anak harus kembali nunas tirta Ki Dalang untuk dilukat kembali dan enam bulan berikutnya. Ini dilakukan tepat saat hari lahirnya. Ini dilakukan sebanyak tiga kali barulah sempurna.

“Untuk pertama kalinya dengan menggelar wayang bisa dilakukan saau uku wayang,” imbuhnya. Pada Nyapu leger dipuput Ki Dalang Ide Made Adi Putra atau Ide Made Ukir dari Geria Besang, Sibetan dan sang sulinggih Ide Pedanda Istri Anom dari Geria Kanginan, Sibetan.

Dalam cerita wayang nyapu leger diceritakan kelahiran Batara Kumara yang merupakan putra Dewa Siwa. Betara Kumara ini bersaudara dengan Batara Kala yang juga putra Dewa Siwa. Betara Kumara ini lahir saat Tumpak Wayang.

Sesuai perjanjian antara Batara Kala dengan Dewa Siwa, kalau berhak nadah atau memasang anak manusia yang suka berkelahi, yang berjalan di siang hari bolong dan juga yang pergi tepat sandi kala. Satu lagi adalah yang lahir di wuku Wayang.

Diketahui adiknya lair di uku wayang sehingga bisa memakan adiknya. Untuk menyelematkan Betara Kumara yang setiap hari dikejar, diperintahkan turun ke mercapada. Da diminta mencari perlindungan di dunia kepada Raja Kertanegara sesuai disebutkan dalam Kala Purana.

Begitu sampai disana Betara Kumara langsung dilindungi pasukanya. Terjadi perang antara betara Kala dan kerajaan Kertagenaga dan Raja kalah. Saat dikejar lagi ada orang nyolahang Wayang. Lalu minta perlindungan ki Dalang dan masuk ke bumbung Gender wayang.

Baca Juga:  ngeroras-massal-dusun-geriana-kangin.html

Karena marah Betara Kala lalu memakan dan menyantap semua bebenten di wayang tersebut. Betara kala berhasil selamat karena Betara Kala sudah memakan banten. Dalang minta agar dikembalikan kesucian bantan. Tapi Betara Kala tidak mampu. Karena sudah mendapat labaan dari Bebenten tersebut maka Betara Kumara terbebas dari kejaran Betara Kala.

Kesimpulanya untuk menyelamatkan anak dari gangguan betara kala harus diruwat dengan wayang Sapu Leger. Bantennya sebagai tadah kala. Banten juga ada susang sumber, tadah kala dan sapu leger serta daksina sarwa empat. Ini yang jadi penebusan. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi