Maklumat YLKI, Pemerintah dan Pelaku Usaha Diminta Konsisten Edukasi Konsumen

Senin, 03 September 2018 : 20.35
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi/dok
JAKARTA- Momentum Hari Pelanggan Nasioanl (Hapelnas) yang ditetapkan jatuh pada 4 September saat era Presiden Megawati Soekarno Putri hendaknya mempertegas komitmen pemerintah dan pelaku usaha untuk terus mengedukasi konsumen.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menegaskan Spirit Harpelnas adalah positif, jika diparalelkan dengan spirit pada UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Tulus kemudian memberikan lima catatan kritis terkait spirit Harpelnas pada peringatan kali ini 4 September 2018 .

Pertama, Posisi pelanggan (konsumen) adalah setara dengan pelaku usaha, produsen. Tak ada artinya pelaku usaha, tanpa kehadiran pelanggan/konsumen.

Baca Juga : ylki-sebut-cukai-rokok-danai-bpjs.html


Kedua, Adalah tanggungjawab pelaku usaha untuk memberdayakan pelanggannya dengan cara memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur. Bukan malah sebaliknya.

Kemudian ketiga,  Pelaku usaha juga bertanggungjawab untuk mengedukasi konsumen terkait product knowledge, bahkan bussines process atas produk barang/jasa yang dipasarkannya;

Sedangkan keempat, Agar pelaku usaha membuka banyak kanal/akses pengaduan konsumen sebagai pelanggannya.

"Pengaduan dari konsumen adalah feed back atau bahkan "konsultasi gratis" bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas produknya," tegas Tulus.

Catatan kelima, meminta pemerintah dan pelaku usaha untuk secara konsisten mengedukasi konsumen guna meningkatkan tingkat keberdayaan konsumen/ pelanggan.

Mengingat saat ini Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) di Indonesia masih tergolong rendah, baru berkisar pada skor 32.

"Bandingkan dengan IKK di negara-negara maju yang sudah mencapai skor lebih dari 50," demikian Tulus. (rhm).

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi