Duet Nandang-Yoyo Pimpin AJI Kota Denpasar 2018-2021

Minggu, 02 September 2018 : 02.00
Ketua AJI Kota Denpasar periode 2018-2021 Nandhang Risada (kanan) dan Sekretaris Yoyo Raharyo (kiri)
DENPASAR - Konferensi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota (Konferta ) Denpasar berhasil memilih ketua Nandhang Risada dan Sekretaris Yoyo Raharyo Periode 2018-2021.

Keduanya menggantikan duet kepemimpinan sebelumnya Hari Puspita dan Feri Kristianto. Nandhang adalah jurnalis Trans7, sedangkan Yoyo dari Jawa Pos Radar Bali. Ini adalah untuk kali pertama jurnalis TV memimpin AJI Kota Denpasar.

Konferta digelar di Gedung BTB Denpasar Sabtu 1 September 2018, juga mendengarkan laporan pertanggungjawaban pengurus AJI periode 2015-2018.

Tema Konferta kali ini “Menjaga Marwah Jurnalistik di Tahun Politik” juga merupakan momen kampanye agar media tetap menjaga independensi dalam suasana tahun politik.

Peserta Konferta AJI Kota Denpasar menyepakati, agar jurnalis dan media tetap mengedepankan berita yang berpihak kepada kepentingan publik, tidak mengedepankan berita berbayar, advertorial, baik yang terselubung atau kepentingan sesaat yang merugikan publik.

Dalam kondisi bisnis media yang tengah mengalami masa sulit ini marwah jurnalistik sesuai kode etik, kode perilaku dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Pers harus tetap dikedepankan.

AJI kembali mengingatkan, kalangan pebisnis media maupun jurnalis diimbau untuk tetap berpegang pada rambu-rambu marwah jurnalistik tersebut agar tidak merugikan masyarakat akibat output pemberitaan yang salah satu karena pemberitaan yang mengedepankan keberpihakan kepada kepentingan politik kelompok tertentu.

Dalam pandangan AJI, Pemilu 2019 dikhawatirkan mengurangi independensi jurnalis, terutama oleh tekanan dari perusahaan pers dan kontestan Pemilu yang berpikir pragmatis untuk kepentingan ekonomi, politik, pribadi atau kelompoknya.

Karena itu, peserta Konferta mengajak seluruh jurnalis, di Bali khususnya, tetap memegang teguh kode etik jurnalistik, dan berani melawan pihak-pihak yang ingin merongrong independensi jurnalis.

Begitu pula bagi pengusaha media dan kontestan Pemilu 2019 agar menahan syahwat mencari untung atau kepentingan suara dari gelaran Pemilu 2019 yang mengangkangi independensi jurnalis.

Di tengah disrupsi media massa cetak, dengan kemudahan membuat media digital, muncul kekhawatiran pula tentang kualitas produk jurnalistik. Karena kemudahan membuat media online, menjadikan siapa pun bisa membuatnya.

Sementara, kapasitas, kredibilitas, dan etika dalam mengelola media online ini masih tertinggal.

Ini pula menjadi tantangan ke depan agar pelatihan kapasitas jurnalis harus ditingkatkan dengan harapan menjamurnya media online dapat menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas bagi kepentingan publik.

Karena itulah, Nandhang berharap AJI Denpasar tetap memegang teguh marwah jurnalistik. Yaitu menjaga profesionalisme dan kode etik jurnalistik. Ia juga mengajak semua anggota AJI aktif karena organisasi bukan tanggung jawab pengurus belaka.

“Kami mengajak semua jurnalis di Bali, untuk menjalankan kode etik jurnalistik dan meningkatkan profesionalisme, sekalipun dalam tahun politik," ajak Nandhang.

Hal sama disampaikan Yoyo , tugas AJI Kota Denpasar cukup berat, yakni mewujudkan Tri Panji AJI, yakni kemerdekaan pers, jurnalis yang profesional dan jurnalis yang sejahtera.

"Untuk mewujudkan itu, maka dibutuhkan kerja sama semua pihak, terutama para anggota AJI Denpasar," imbuh Yoyo. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi