Pertahankan Budaya, Megawati Tidak Ingin Bali seperti Hawaii

Rabu, 22 Agustus 2018 : 00.00
TABANAN-  Presiden Ke-5 RI, Megawati Soekarno Putri berpesan agar Bali tidak seperti Hawaii yang tidak peduli dengan kebudayaannya.

“Saya tidak ingin Bali seperti Hawai dimana masyaraktnya sudah tidak peduli lagi dengan kebudayaannya bahkan sudah punah,” harapnya saat resmi menutup Tanah Lot Art and Food Festival (TLAFF) ke-2 dan Senin (20/8/2018)

TLAFF#2  berlangsung selama tiga hari itu  saat penutupan dihadiri Guruh Seokarno Putra, Ketua DPRD Bali N Adi Wiryatama, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, Wakil Bupati Tabanan I KG Sanjaya, jajaran Muspida Tabanan serta Kepala OPD di Lingkungan Pemkab Tabanan.

Selain itu juga Megawati memberikan apresiasi pada acara TLAFF, serta mendorong kepada pemerintah daerah maupun provinsi untuk lebih sering membuat event, serta tetap menjaga budaya dan kultur yang dimiliki di daerahnya sendiri.

Dalam sambutannya, Megawati mengapresiasi festival yang digelar di Tanah Lot karena sebagai bukti untuk melestarikan budaya bangsa.

“Benar kata Eka (Bupati Tabanan) kalau bukan kita yang melestarikan seni dan budaya siapa lagi,” tandas  Megawati.

Even even budaya seperti ini harus terus dilakukan di masing masing daerah. “Kalau bisa di daerah lain seperti Kabupaten Badung juga membuat festival budaya seperti ini, jadi wisatawan yang datang mengunjungi Bali khususnya dapat menikmati seni dan budaya secara langsung,” terangnya.

Selain memuji, Megawati juga menyampaikan sedikit kritikanya terhadap nama festival yang masih menggunakan Bahasa Inggris dalam tulisan Tanah Lot Art and Food Festival. Tulisan “Art and Food” sebaiknya diganti dengan Bahasa Indonesia.

Ia langsung menyarankan kepada Bupati Tabanan Eka Wiryastuti, untuk mengubah istilah Art and Food menggunakan bahasa Indonesia, menjadi Tanah Lot Seni dan Makanan Festival #2.

“Seperti halnya saat ini lebih banyak menggunakan bahasa asing, saya mengingnkan mememakai bahasa sendiri dan saya bertanya kepada Bu Eka, kenapa mesti memakai bahasa Art and Food, kenapa tidak memakai seni dan makan. Orang asing harus mengerti akan bahasa Indonesia,” tandasnya.

Megawati kembali menegaskan di pidatonya, untuk bangga akan Indonesia dan cinta tanah air, pasalnya Indonesia khususnya Bali banyak mempunyai budaya dan kesenian yang dimiliki, tidak seperti bangsa asing yang hanya mempunyai beberapa budaya.

Ditambahkam, walaupun saat ini memasuki zaman milenial, pihaknya mengajak kepada masyarakat Indonesia yang berada di Bali untuk tetap mencintai tanah airnya.

“Banyak anak muda kita berpikir kalau sudah mengikuti trend milenial merasa dirinya yang paling hebat, tetapi harus diingat jangan sampai melupakan tanah air Indonesia. Kalau mereka mau berbahasa asing ya silahkan, tetapi jangan lupa dengan tanah air,” tandasnya.

Manajer DTW Tanah Lot, I Ketut Toya Adnyana, menyatakan kritik Megawati terkait penggunaan bahasa Inggris dalam festival ini akan jadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan selanjutnya. Selain itu, pementasan yang sifatnya kolosal juga akan dievaluasi.

Menurut Toya saat acara pembukaan Tanah Lot Art and Food Festival II 2018 yang disertai pentas kolosal ‘Tari Rejang Sandat Ratu Segara 1.800 Penari’, Sabtu lalu, pengunjung penuh sesak. “Bahkan, terjadi kemacetan arus lalulintas sampai ke Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Sedangkan ke arah Tabanan, macer sampat Desa Pandak Gede,” jelas Toya Adnyana.

Bupati Eka Wiryastuti mengatakan kunjungan wisatawan ke Tanah Lot selama festival membludak. Di hari pertama saja, Eka Wiryastuti mengaku alami macet sampai 4 jam karena ramainya.

“Untuk itu, kita sebagai rakyat Tabanan tetap bangga. Kalau bukan kita yang promosi, siapa lagi? Mudah-mudahan dengan adanya festival ini, Tabanan Serasi bisa terwujud,” kata Srikandi PDIP yang pemegang predikat Bupati Wanita Pertama di Bali ini. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi