Perkuat Kebijakan Bank Indonesia, 60 Paper Berstandar Internasional Dipresentasikan

Jumat, 31 Agustus 2018 : 01.06
Gubernur Bank Indonesia Peery Warjiyo memaparkan konferensi Bulletin of Monetary Economics and Banking di Kuta
KUTA- Selama dua hari sebanyak 60 paper terbaik yang merupakan hasil riset pakar dari dalam negeri maupun internasional dipresentasikan dalam memperkuat kebijakan Bank Indonesia dan sinergi dengan pemerintah.

Bank Indonesia menggelar 12th  Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB). Pertemuan itu dilaksanakan 2 hari (30 & 31 Agustus 2018) di Kuta.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan, Bulettin of Monetary Economics and Banking merupakan jurnal berstandar internasional yang memuat hasil riset terbaik dari dalam dan luar negeri.

"BMEB ini pun diupayakan dapat mendukung rumusan kebijakan Bank Indonesia," tuturnya dalam keterangan resminya di The Anvaya Hotel, Kuta, Kamis (30/8/2018).

Untuk mendukung Bulletin of Monetary Economics and Banking itu, dalam dua hari ini Bank Indonesia melakukan konferensi dari Call For Paper.

"Jadi paper-paper yang masuk baik dari peneliti nasional maupun internasional kita undang untuk kita seleksi, mana yang standarnya internasional itu kita presentasikan dalam 2 hari konferensi internasional ini," jelasnya.

Dijelaskan. dalam mendukung kegiatan ini, bekerjasama juga dengan sejumlah Profesor terkenal dan juga kerjasama dengan asosiasi ekonomi dari Asia Pasifik atau Asia Pasific Applied Economics Association (APEA).

Disebutkan, ada 180 hasil riset yang masuk, tetapi tidak semua berstandar internasional. BI terus melakukan seleksi secara ketat, dari 180 ini kemudian dipilih dan dari jumlah itu 60 paper terbaik.

"Dari 60 paper tersebut 36 itu hasil penelitian dari peneliti Indonesia, dan 24 karya peneliti internasional," sambungnya.

Pihaknya telah memikirkan sejumlah rumusan kebijakan terkait dengan kondisi perekonomian dalam dan luar negeri.

Secara garis besar, kebijakan itu untuk menjaga stabilitas dan memperkuat momentum pertumbuhan ditengah ketidakpastian ekonomi keuangan global.

Dalam pandangan BI, dari sisi Indonesia khususnya dari juga Bank Indonesia, untuk menjaga stabilitas dan memperkuat memontum dari pertumbuhan, kuncinya tidak hanya harus memperkuat ketahanan ekonomi, tetapi juga mampu merumuskan bauran kebijakan," katanya.

Dijelaskan,  Bauran kebijakan (policy mix) yang dimaksud yakni optimalisasi sejumlah instrumen.

"Instrumen pertama melalui kebijakan suku bunga, kedua berupa intervensi ganda untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, dan instrumen ketiga dalam bentuk swap valuta asing," jelasnya.

Sementara dari sisi memperkuat momentum pertumbuhan, Bank Indonesia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan, seperti relaksasi loan to value ratio downpayment kredit perumahan, intermediasi makro prudensial, rerata giro wajib minimum, pendalaman pasar keuangan serta pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Perry sekali menegaskan, bagaimana Bank Sentral menerapkan bauran kebijakan, yang terdiri tadi instrumen suku bunga, stabilisasi nilai tukar rupiah, kemudian juga makro prudensial.

Demikian juga, juga instrumen-instrumen lain pendalaman pasar keuangan, ekonomi keuangan syariah bagi negara-negara yang ingin mengembangkan ekonomi keuangan syariah. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi