Manfaat IMF& WBG Annual Meeting di Bali: Jangan Berhenti dengan Angka-angka

Senin, 06 Agustus 2018 : 20.56
Garuda Wisnu Kencana (GWK) salah satu ikon pariwisata Bali yang akan menjadi daya tarik bagi wisatawan saat gelaran IMF & WBG Annual Meeting di Nusa Dua pada bulan Oktober 2018 
Hajatan IMF & World Bank Group Annual Meeting baru akan digelar pada 8-14 Oktober 2018 di Nusa Dua. Namun, dampaknya ke sektor mikro di Bali sudah terasa. Salah satu contohnya adalah dialami Komang Suarsana.

Sejak dua bulan lalu, penjualan produk Kopi Kintamani miliknya mengalami peningkatan drastis. Komang berjualan menggunakan both seperti di acara-acara Bank Indonesia yang digelar di Bali. Dia diajak oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Produk kopi Komang bermerek Bali Arabica Kopi Kintamani. Jenis yang dijual mulai dari Honey Processed hingga kopi luwak.

Dari setiap pertemuan yang dihelat Bank Indonesia di Kuta, dia mengaku bisa menjual hingga 40 bungkus dengan harga jual mulai dari Rp 70.000 per bungkus. Biasanya dia hanya menjual secara daring di instagram dan sejumlah media sosial. Komang selama ini melibatkan puluhan petani kopi di Kintamani untuk memenuhi pasokan.

Kintamani adalah daerah penghasil kopi arabica terbaik di Bali. Ada ratusan petani kopi di daerah ini. Jika penjualan Komang meningkat, mereka ikut ketiban berkah. Berkah sama dinikmati juga oleh Ketua Kelompok Tenun Putri Mas Ketut Widiadnyana. Sama seperti Komang, Ketut berjualan kain songket Jembrana di ajang-ajang persiapan IMF & WBG Annual Meeting.

Kini, pria yang menaungi puluhan ibu-ibu penenun tradisional di Jembrana ini kewalahan memenuhi pesanan. Pada saat normal, dia hanya mampu mensuplai sebanyak 7 lembar kain songket tradisional. Kini permintaan lebih dari 15 lembar per bulan. Harga jual tenun hasil kelompoknya dijual termurah Rp 3 juta per lembar.

“Sudah terasa, sebenarnya sejak beberapa tahun ada peningkatan. Kini  menjelang acara IMF, orang lebih tambah lagi yang tahu. Kami kewalahan ini,” tuturnya ketika ditemui di acara persiapan IMF & WBG Annual Meeting di Kuta tempo hari.

Pengalaman Komang dan Ketut merupakan salah satu bentuk dampak nyata meningkatnya aktivitas ekonomi lokal menjelang IMF & WBG Annual Meeting. Sektor mikro di Bali lainnya dipercaya mulai mendapatkan rejeki. Ini karena, pengusaha hotel hingga restoran menambah pasokan. Tujuannya memenuhi kebutuhan delegasi yang akan datang.

Informasi yang diperoleh di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), selaku salah satu lokasi pertemuan. Untuk memenuhi konsumsi sebanyak 5.000 orang delegasi, mereka menyiapkan sebanyak 750 kg beras, 500 kg daging ayam hingga 300 kg gula pasir.  Ajang ini pun juga akan menciptakan lapangan kerja. Sudah dibuktikan oleh BNDCC, selama seminggu, manajemen juga merekrut sebanyak 2.800 orang tenaga lepas untuk dipekerjakan seminggu sebelum acara hingga hari H.

Panitia Pelaksana IMF & WBG Annual Meeting, memprediksi dampak langsung yang akan diterima Bali dari hajatan ini mencapai Rp943,5 miliar. Duit itu berasal dari pengeluaran sebanyak 4,5% wisatawan nusantara yang akan datang dan 95,2% dari wisman.

Jika diperinci lagi, senilai Rp 569,9 miliar akan dikeluarkan untuk akomodasi. Saat ini, sekitar 5.000 unit kamar di seluruh kawasan BNDCC sudah habis dibooking. Di luar kawasan itu, seperti Sanur juga mendapatkan tamu sedikitnya 4.000 orang, dan daerah lain. Selain akomodasi, pengeluaran untuk makanan dan minuman ditaksir senilai Rp 190,5 miliar; transportasi Rp36,1 miliar; hiburan Rp 57 miliar dan souvenir Rp 90,2 miliar.

Ini baru dampak langsung yang sebagian kecilnya mulai dinikmati. Ketua Bali Hotel Association Ricky Putra menuturkan kualitas wisatawan yang datang level menengah ke atas. Dengan demikian, tingkat pengeluaran mereka bisa lebih tinggi. Perhitungan Bappenas, spending wisman rata-rata mencapai Rp7,7 juta per orang per hari.

 Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur jalan untuk memperlancar akses dari Bandara ke Nusa Dua terus dikebut pengerjaannya dalam mendukung suksesnya pelaksanaan IMF & WBG Annual Meeting  
Kadisparda Bali Anak Agung Gde Yuniartha Putra mengatakan devisa hanya sebagian kecil yang diterima Bali. Masih ada dampak langsung infrastruktur yang diperoleh daerah ini. Dia mencontohkan pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), underpass Simpang Tugu Ngurah Rai, perluasan apron Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Penataan TPA Suwung. Proyek itu belum termasuk penataan utilitas PLN dan telekomunikasi di Kawasan Bali Tourism Development Center (BTDC).

GM PLN Bali Nyoman Suwarjoni menambahkan pihaknya juga menggelontorkan Rp 30 miliar untuk persiapan IMF & WBG Annual Meeting. Dana itu guna mengupgrade suplai, jaringan hingga cadangan di kawasan. Kawasan ini akan mampu mengatasi beban hingga 10 MW.  Ia mengatakan listrik sangat penting karena ada 2.000 pertemuan berlangsung. Belum lagi ada belasan kepala negara datang dan menginap di hotel kawasan BTDC.

“BTDC ini nantinya mungkin akan jadi satu-satunya kawasan terintegrasi yang kelistrikannya paling siap menjadi host event berkelas internasional. Semuanya, kami upgrade sampai hal kecil-kecil,” paparnya. Dengan kata lain, paska IMF & WBG Annual Meeting, kawasan BTDC akan bisa menjadi tuan rumah perhelatan lebih besar dari ajang ini.

Nah, jika ditotal dari seluruh persiapan itu, perputaran uang di Bali bisa mencapai Rp 6,9 triliun. Uang itu untuk pembangunan sejumlah proyek yang diperkirakan Rp 4,9 triliun dan ditambah biaya operasional Rp 1,1 triliun. Sisanya untuk pengeluaran langsung.

Manfaatkan Isu Pusat Jasa Keuangan

Ketua Task Force IMF & WBG Annual Meeting Peter Jacob mengatakan dampak langsung bagi Bali hanya keuntungan jangka pendek. Manfaat jangka panjang tidak kalah penting adalah promosi Indonesia sebagai negara yang resilience krisis. Indonesia akan dapat menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini kuat. Pernah menghadapi krisis 1998, tetapi bisa bangkit dan prudent.

Bukti bisa menjadi cara menunjukkan ke dunia bahwa Indonesia siap masuk jajaran negara maju. Ia mengatakan, penting pula memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan potensi investasi. Namun, sejatinya ada manfaat lebih besar dari itu semua. Event ini ternyata juga membuktikan kepada Bank Dunia bahwa program mereka berhasil.

Apa itu? Kawasan BTDC yang dikelola Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).  Banyak yang melupakan kawasan seluas 300 Ha ini bisa eksis hingga sekarang karena peran Bank Dunia. Pada 1974 Bank Dunia pernah mengucurkan kredit senilai US$16 juta guna mendanai pembangunan kawasan.

Kini setelah puluhan tahun, pengembangan ini terbukti berhasil. Nusa Dua kini menjadi magnet pariwisata Bali. Berkat Nusa Dua, perekonomian Bali kuat. Berkat Bali, pariwisata Indonesia dikenal seantero dunia. Bahkan, pemerintah kini menargetkan pembangunan 10 "Bali" baru.

ilustrasi grafis
Nah, ajang IMF & WBG Annual Meeting seyogyanya dimanfaatkan untuk meningkatkan peran Bali. Setelah digagas sejak 1974, sudah saatnya Nusa Dua atau Bali naik kelas. Tidak lagi menjadi sekedar etalase. Ajang IMF & WBG Annual Meeting seharusnya digunakan untuk “merayu” agar pelaku jasa keuangan di dunia menjadikan Bali sebagai pusat jasa keuangan. Mirip seperti status yang sudah disandang Hong Kong dan Singapura.

Ini sejalan dengan rencana pemerintah daerah Bali menjadikan daerah ini sebagai pusat jasa keuangan berkelanjutan atau center sustainable finance dunia. Peluang kini sudah didepan mata. Tugas dari pemerintah pusat membantu mewujudkan target itu. Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan status center sustainable finance penting, untuk mengupgrade Bali.

Dari segi infrastruktur, daerah ini sudah siap. Meski diakuinya masih ada beberapa persoalan minor seperti akses jalan raya. Dia mengatakan mengandalkan pariwisata saja kurang lengkap. Harus dipadukan dengan sektor jasa. Secara spesifik, Indonesia juga belum memiliki kawasan jasa keuangan. Jika bisa menyakinkan pelaku jasa keuangan bahwa Bali siap, tentu akan menarik.

Apalagi, program dari pemerintah untuk menarik devisa sebanyak-banyaknya. Di saat harga komoditas masih fluktuatif.  Perang dagang China-Amerika Serikat juga menghantui. Pariwisata bisa menjadi solusi.

Akan tetapi, hanya mengundang wisman ke Bali tanpa memberi nilai tambah akan sangat susah. Beda halnya, jika mereka datang ke Bali sekaligus bekerja. Jika status itu bisa digelorakan, ini ibarat pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi