Kesaksian Relawan saat Merekam Kepedihan Masyarakat Pascagempa di Lombok

Senin, 20 Agustus 2018 : 20.45
Pemukiman hancur akibat gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat/foto:istimewa
LOMBOK - Kepedihan tiada tara dirasakan masyarakat korban gempa Lombok Nusa Tenggara Barat karena harus kehilangan sanak keluarga dan harta benda. Yang mengharukan, tim sukarelawan yang melakukan misi sosial menyusuri desa ke desa membantu korban gempa, masih menemukan semangat hidup dan keramahan masyarakat timur khas Indonesia.

Setelah gempa bumi dahsyat di Lombok sejak 3 minggu terakhir, Lombok kembali dilanda gempa keras hari ini. Dalam 24 jam terakhir 5 gempa bumi antara magnitudo 5 dan 7 menghantam pulau Lombok.

Sebagai sukarelawan di Yayasan Peduli Anak (www.pedulianak.org), saya mahasiswa psikologi klinis, Franka de Bruijn melakukan perjalanan sejauh 200 kilometer dengan mobil melewati Lombok Utara, episentrum sebagian besar gempa bumi.

Dengan tim Peduli Anak, saya berkendara dari desa ke desa mengantarkan barang-barang seperti makanan, minuman, vitamin, kasur, dan lain-lain di tempat yang paling dibutuhkan.

"Sebagian besar desa yang kami kunjungi masih belum menerima bantuan karena kondisi jalan yang berbahaya," tulis Franka sebagaimana dikirim ke Kabarnusa.com, Senin (20/8/2018).

Padahal, pemerintah dan LSM memusatkan posko mereka di Lombok Utara. Semakin dekat dia ke episentrum, semakin parah kerusakan yang terjadi dan semakin sulit untuk mengenali struktur rumah diantara puing-puing beton dan bata merah.

Seluruh desa hancur dan tidak bisa dihuni lagi. Tenda-tenda dalam berbagai bentuk bermunculan dimana-mana.

Masjid tanpa kubah, anak yang mengemis di sisi jalan, bangunan sekolah yang runtuh dan ibu-ibu yang tidak yakin bagaimana menghibur dan merawat bayinya adalah pemandangan yang kini terlihat, menggantikan keindahan alam pulau ini.

"Nuansa kesedihan ini sangat kontras dengan sikap positif penduduk setempat. Kami disambut dengan senyum dan keramahan khas Indonesia." ucapnya.

Terlihat seorang bapak yang membuka kembali tokonya di atas atap rumahnya yang runtuh, melambangkan usaha orang-orang untuk mencoba kembali ke aktivitas normal. Mentalitas bertahan hidup mereka memang sangat mengagumkan, tetapi masih banyak lagi yang diperlukan untuk membantu mereka bangkit kembali.

Organisasi-organisasi swasta dan tentara telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, tetapi bantuan yang lebih terorganisir di tingkat nasional dengan fokus pada kemandirian yang berkelanjutan mungkin merupakan cara yang lebih baik.

Tidak hanya kerusakan material yang nyata terlihat, kami juga merasakan ‘kerusakan’ psikologis dibalik senyuman mereka. "Ketakutan yang kami saksikan di mata orang-orang hari ini adalah ketakutan yang sama yang kami lihat di mata anak-anak di Peduli Anak," tuturnya.

LSM ini menyediakan rumah bagi anak-anak yang kurang mampu, yatim piatu, tereksploitasi dan terlantar. Saat ini lebih dari 80 anak tidur di tenda dan sekolah mereka juga kini bertempat di tenda.

"Kami ingin memberi rumah yang aman, tetapi selama bumi terus bergoyang ini sulit dilakukan," kata Pendiri Peduli Anak, Chaim Fetter. Cara terbaik untuk mendukung peduli anak kata dia, adalah dengan menyumbang uang.

"Semua donasi akan digunakan untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur." sambungnya. Donasi dapat dilakukan melalui www.pedulianak.org atau www.kitabisa.com/pedulianakgempa. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi