Jaga Kepercayaan Publik, Pers Diingatkan Rawat Kebebasan dan Idealisme

Rabu, 29 Agustus 2018 : 20.03
Dewan Pers dan Kominfo menggelar Editor's Forum di Denpasar Bali
DENPASAR - Kalangan pers atau media diminta terus merawat kebebasan dan idealismenya agar tetap mendapat kepercayaan di masyarakat.

Menurut mantan Ketua Dewan periode 2010-2016, Pers Prof Bagir Manan lahirnya media massa baik cetak elektronik dan online semua ingin memperjuangkan kebebasan. Pers telah berperan penting dalam melahirkan kebebasan di Tanah Air.

"Kebebasan itu menentukan mati hidupnya pers, karena itu harus kita jaga," tegas Bagir saat berbicara alam "Edito's Forum" untuk Media Bermartabat di Denpasar, Kamis (29/8/2018). Dengan kebebasan yang tetap dipertahankan itu akan melahirkan pers yang bermartabat.

Bagir menambahkan, dalam acara yang sama di Yogyakarta, baru-baru ini, disinggung fenomena media sosial yang dinikmati semua lapisan masyarakat namun di sisi lain dinilai kebablasan. "Soal medsos ini saya katakan, kita tak mungkin membunuh media sosial, pertama kebebasan ini sebagai konseksunei yang diperjuangkan pers, " tegasnya.

Kebebasan yang diperjuangkan dengan mati matian itu bisa membawa konsekuensi enak dan tidak enak, baik dan tidak baik. Selain itu, kata Bagir, media sosial ini merupakan perkembangan konsekuensi perkembangan ilmu dan teknologi. Bahkan, saat ini, setiap orang bisa melakukan kerja-kerja seperti dilakukan pers.

Mengapa, media sosial demikian sulit dibendung karena karena kontennya tidak terbatas, Medsos bisa memuaskan orang-orang paling ekstrem sekalipun sampai pada orang-orang yang frustasi semua bisa diisi di medsos.

Dalam amatan mantan Ketua Mahkamah Agung ini, mulai beralihnya atau masyarakat banyak lari ke media sosial karena melemahnya profesionalisme pers.

"Pers telah kehilangan ideaslime sehingga tidak mampu ampu memberikan kepuasan atau kepercayaan publik sehingga hal ini berakibat mencari tempat lain, seperti medsos," tandas alumnus IPB Bagor ini.

Ia juga menyinggung soal euforia politik seperti pemilu dan pilpres di mana media harus berfungsi sebagai pencerah guna memotivasi masyarakat menggunakan hak suaranya datang ke TPS. "Pers seharusnya dapat menjadi mata dan telinga, sehingga tahapan dan proses pemilu dapat betul-betul memenuhi standar pemilu yang baik," katanya menegaskan.

Pada bagian penting lainnya, Bagir mempertanyakan atau otokritik bahwa masih sanggupkah wartawan menjaga independensi dan menjaga kepercayaan publik, karena sejatinya mereka memang bekerja untuk kepentingan publik.

Pembicara lainnya Agus Sudibyo, mantan Ketua Dewan Pers juga memotret maraknya masyarakat yang mengakses dan memanfaatkan medsos sebagai rujukan informasi.

Meski begitu, Agus menegaskan, bahwa pers masih tetap menjadi rujukan referensi publik. Hal itu diperkuat hasil sebuah penelitian, bahwa 71 persen masyarakat tetap masih percaya pada media jurnalistik sebagai rujukan informasi.

Hal ini menjadi tantangan bagaimana pers menjaga kepercayaan ini dengan memberikan yang lebih baik dan lebih dipercaya dibandingkan media sosial. "Kalau media dengan karya jurnalistiknya memberikan informasi yanng sama dengan media sosial, apa artinya," katanya mengingatkan.

Semestinya wartawan atau jurnalis, dapat memberikan jurnalisme bermartabat, yang lebih baik. Hal ini agar profesi wartawan bisa tetap dipercaya masyarakat terlebih mulai memasuki tahun politik 2019.

"Media saya harapkan jangan berkubu-kubu dan dapat menjaga independensi, mungkin bisa dibentuk forum bersama untuk saling mengingatkan gerakan santun bermedia," pinta Agus.

Pembicara lainnya mantan Ketua Dewan Pers Bambang Harymurti dan Kepala Pusat Litbang Aplikasi Informatika dan Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo Wiryanta, juga dihadirkan dalam acara yang diikuti para pemimpin redaksi, editor, jurnalis berbagai platform se- Bali itu.

Pada bagian akhir, diisi deklarasi Pencanangan "Pers Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas" dengan enam butir pernyataan sikap. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi