Erupsi Gunung Agung Mengancam, Peternak di Karangasem Tetap Bertahan

Selasa, 14 Agustus 2018 : 17.36
Salah satu peternak ayam di Karangasem
KARANGASEM - Para peternak di Kabupaten Karangasem mencoba bertahan meskipun ancaman erupsi Gunung Agung bisa datang setiap saat mengancam usaha ternak mereka. Mereka dibayangi, erupsu Gunung Agung yang bisa datang sewaktu-waktu tak bisa diprediksi pasti sehingga mereka tetap waspada.

Perasaan tak menentu lantaran ancaman bencana dirasakan peternak dan petani di Selat, Karangasem. seperti Ketut Prebawa Putra (15). Dia tetap bertahan untuk beternak di kampng Dusun Geriana Kangin, Duda Utara, Selat Karangasem.

Lokasi kampung Putra termasuk radius 9 km dari Gunung Agung dan masuk zona bahaya II. Saat Gunung Agung leval IV semua warga di Desa ini mengungsi ke Klungkung dan Sidemen.

Putra mengaku tidak ada pilihan lain kecuali menggeluti ternak ayam Kampung seteleh pulang dari pengungsian. Sebelum mengungsi, dia juga beternak ayam kampung di sisi timur rumahnya.

Kendati masih duduk di kelas II SMPN 2 Selat ini mengaku menekuni sebagai peternak ayam karena hobi dan awalnya hanya iseng. Sebelumnya saat mengungsi sebagian ayam ayamnya dia jual sebagian masih di rumah.

Dia terpaksa bolak balik dari lokasi pengungsian ke rumah untuk memberi makan ayam. Dia mengaku ternak ayam kampong yang di pelihara itu mulai dari telor, penetasan sampai pemeliharaan.

“Kami mulai dari mengawinkan pejantan dengan betinanya,” ujarnya. Bisnis ayam kampung lumayan menjanjikan setidaknya dari sisi harganya yang lumayan mahal seperti pejantan bisa laku sampai Rp 300 ribu per ekor.

Selaian ayam Bali asli, Dia juga melakukan kawin silang untuk ayam Bali dengan Bangkok dan Lensi. Sehingga muncul anakan Bali, Bangkok dan Lensi. Ayam ayam jenis ini banyak peminat diantaranya untuk ayam aduan.

Untuk ayam betinanya ada yang dirawat sebagai indukan. Ada juga yang dijual untuk keperluan upacara atau dipotong. Untuk upacara banyak warga kampung yang suka ayam lokal untuk sarana upacara.

Alasannya, daging ayam kampung lebih enak dan gurih usai dipakai upacara biasanya di santap. Sementara untuk ayam betina dia jual seharga Rp 80 ribu per ekornya.

Harga ayam pejantan menurut yang mahal itu tergantung bodi dan bulu. Saat ini, masih dalam tahap ujicoba namun tak sedikit yang sudah dipasarkan. Kandang digunakan bekas garasi mobil dengan luas 5 kali 9 meter.

Pengetahuan ternak ayam yang digelutinya belajar dari internet dan cerita sukses peternak lainnya. Kendala dihadapi serangan virus di mana ayam Bali rentan terkena serangan virus. Waktu itu juga sempat terserang virus untung saja tidak banyak yang mati. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi