Dampak Erupsi Gunung Agung, Pelaku Usaha Ogah Ekspansi

Rabu, 29 Agustus 2018 : 01.00
Kepala OJK Perwakilan 8 Regional Bali Nusra Hizbullah dalam update perkembangan kinerja perbankan dan LJK
DENPASAR - Para pengusaha memilih menahan diri tidak melakukan ekspansi bisnis sebagai dampak erupsi Gunung Agung dan Gempa Lombok yang memukul segala sektor ekonomi di Bali.

Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali, dengan mencermati pertumbuhan kredit selama semester pertama tahun 2018 mencapai 4,44 persen tergambar lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya mencapai 6,05 persen.

Kepala OJK Regional Bali dan Nusa Tenggara Hizbullah mengungkapkan, kondisi seretnya penyaluran kredit diakibatkan karena dampak bencana alam seperti erupsi Gunung Agung yang berdampak kepada pertumbuhan kunjungan wisatawan.

"Demikian juha dampak bencana di NTB, kemudian menjelang Pilpres dan Pileg sehingga orang belum mau ekspansi," katanya kepada awak media di Denpasar Selasa 28 Agustus 2018.

Realisasi kredit di Bali sebagaimana disampaikan OJK, selama semester pertama tahun ini atau periode Januari-Juni tahun 2018 mencapai Rp83,9 triliun atau tumbuh 4,44 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Selain itu, jumlah pencapaian realisasi kredit perbankan kepada debitur tersebut masih lebih tinggi dibandingkan posisi Desember 2017 yang mencapai Rp82,7 triliun. "Jika pertumbuhan kredit rendah, aktivitas ekonomi juga rendah atau kurang jalan maksimal," sambung Hizbullah.

OJK menilai masyarakat lebih banyak menyimpan dana mereka dalam bentuk tabungan atau deposito setelah mencermati pertumbuhan kredit semester pertama tahun ini yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Sementara dana pihak ketiga atau DPK yang terparkir di bank selama semester pertama tahun ini mencapai Rp99,7 triliun atau naik dibandingkan posisi Desember 2017 yang mencapai Rp96,1 triliun.

Dengan kata lain, sebagian besar pelaku usaha masih menerapkan "wait and see" atau mencermati situasi ekonomi terkini dan memilih cara aman dengan mengalihkan dananya dalam bentuk tabungan dan deposito.

Diketahui, sebagian besar realisasi kredit semester pertama tahun ini di Bali terserap di Kota Denpasar sebesar 54,4 persen disusul Badung sebesar 14,4 persen dan Kabupaten Buleleng sebesar 8,3 persen.

"Untuk Kota Denpasar dan Badung, penyerapan kredit di sektor bukan lapangan usaha atau konsumtif masih mendominasi masing-masing mencapai 37,8 persen dan 36,6 persen," paparnya.

Tidak hanya berdampak kepada sektor pariwisata, pertumbuhan kredit lebih rendah dipicu lesunya sektor properti yang berdampak kepada sektor turunan lainnya seperti konstruksi. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi