Bupati Eka Berikan Pengobatan Usai Pentas Tari Rejang Sandat Ratu Segara

Sabtu, 25 Agustus 2018 : 15.51
Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti saat memberikan pengobatan siswi-siswi yang menari Tarian Rejang Sandat Ratu Segara
TABANAN - Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti turun langsung membantu pengobatan secara skala dan niskala terhadap siswi-siswi SMP, SMA dan SMK yang mengalami masalah nonmedis seperti kerauhan massal usai pementasan Tari Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara.

Diketahui, sekira 1800 orang penari yang terdiri dari siswi-siswi SMP, SMA dan SMK di Tabanan sukses mememtaskan Tari Kolosal Rejang Sandat Ratu Segara di Pantai Tanah Lot Kecamatan Kediri.

“Tarian itu sangat luar biasa dan mengundang banyak fenomena. Bukan saja fenomena berupa pujian termasuk fenomena trance (kerauhan/kedatangan) yang sekarang ini viral,” jelas Bupati Eka saat mengunjungi Posko Pengobatan Skala lan Niskala antisipasi para Penari Pasca Pementasan Rejang Sandat Ratu Segara, di Kediri, Tabanan, Sabtu (25/8/2018).

Bukan hanya sekedar mengunjungi, ditemani Ratu Nabe Subagia dan para Siswa Perguruan Siwa Murti, Bupati Eka-pun turun tangan mengobati dan membersihkan (ngelukat) dan menyiapkan panyengker karang buat para penari yang mengalami masalah non medis.

Karena Beliau sadar, bahwa orang yang mengalami kerauhan tidak bisa didiamkan, harus segera ditangani sesuai dengan prosedur yang ada dan tentunya juga atas kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Terlebih pasca menarikan Tarian Rejang Sandat Ratu Segara yang merupakan persembahan yang tulus Ikhlas kepada Penguasa Segara (laut) yang bersifat sangat Sakral. Mengingat kesakralannya, sudah tentu persembahan yang tulus dengan tujuan yang baik, tentu akan menimbulkan aura yang positif.

Terbukti dengan adanya Tarian ini, para penari yang terdiri dari Siswi SMP, SMA dan SMK tersebut banyak mengalami kerauhan (kedatangan). Kerauhan tersebut terjadi akibat aura positif yang mengalir ke tubuh para penari yang berisi aura negative sehingga bersinggungan dan terjadilah kerauhan.

Apalagi dari sekian siswi yang diobati beliau, banyk hal-hal aneh yang diderita mereka, diantaranya ada yang dari kelahiran merupakan keturunan Pemangku/pengiring, agar segera dilakukan pewintenan (pembersihan).

Beberapa peserta ada juga yang sabda bayu dan idepnya tidak menyatu dengan raganya, sehingga harus dilakukan upacara penebusan di Pura Dalem. Kondisi lain ada yang medis berupa magh dan asam lambung tinggi.

Sudah jelas persembahan ini merupakan Yadnya yang menimbulkan aura positif, dan Tuhan membersihkan semua yang ikut ngayah. Dengan adanya Tarian ini, yang tidak diketahui memiliki penyakit jadi bisa diketahui penyakitnya.

"Pemkab berniat membantu sampai tuntas,” jelas Eka sapaanya, dihadapan 60 Penari yang berobat, dan seluruh OPD di lingkungan Pemkab Tabanan, para Awak Media (Wartawan) juga orang-tua siswa yang hadir disana saat itu.

Bahkan dari sekian banyak pasien (siswi penari) yang ditangani Bupati Eka, ada 1 (satu) pasien dari luar penari Rejang Ratu Segara, yakni Tim Medis Dinas Kesehatan yang menderita bebayinan, saat diobati berteriak histeris. Setelah diobati Bupati Eka serta dilukat, keadaannya kembali pulih.

Srikandi asal Tegeh, Angseri menambakan, pengobatan ini wajib dilakukan. Ia sangat prihatin, mengingat siswi-siswi ini adalah penerus bangsa, penerus Tabanan kedepannya.

"Pemerintah wajib melindungi, mengawasi dan mensuport perkembangan generasi muda menuju arah yang positif. saya akan turun ke Sekolah-sekolah melakukan kegiatan pengobatan ini, karena pasca pementasan Rejang Sandat Ratu Segara ini banyak sekali siswi yang mempunyai penyakit Desti," sambungnya.

“Nanti kita akan coba turun ke sekolah-sekolah, karena banyak sekali anak-anak kita (Siswi) kena Desti. Doakan program ini agar segera terwujud. Karena apa? Karena ini buat Tabanan. Karena anak-anak ini adalah penerus Tabanan,” sambung bupati perempuan pertama di Bali itu.

Diharapkan, semua proses pengobatan semua bisa berjalan normal, dan sami rahayu. Serta mari tanamkan pikiran yang positif.

Dalam kesempatan sama, Ratu Nabe Subagia menyampaikan, fenomena trance ini. Dikatakan trance bukanlah kesurupan, melainkan kedatangan, yakni kedatangan Ida Batara (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

Kerauhan dan kesurupan itu adalah hal yang sangat berlainan. Kerauhan adalah kedatangan Ida Sang Hyang Widhi, sedangkan kesurupan adalah Kerasukan unsur jahat atau roh-roh jahat.

“Sesungguhnya kerauhan nika artinya kedatangan, bukan kesurupan. Welcome to God, artinya Tuhan datang”, jelas mantan dosen agama yang menangani bidang Kerauhan di IHDN Denpasar tersebut dihadapan seluruh elemen yang hadir di lokasi .

Kerauhan yang dialami para penari Rejang Sandat Ratu Segara pasca pementasan itu diakibatkan bergesekannya antara aura positif yang ditimbulkan tarian tersebut dengan aura negatif yang melekat di dalam tubuh penari.

"Ini merupakan fenomena yang sudah biasa terjadi di Bali. sejak kecil saya sudah sering mengalami hal tersebut. “Ini adalah bagian dari anugrah Ida Batara, jadi kerauhan itu jangan dibesar-besarkan tetapi perlu ditangani secara maksimal,” demikian Ratu Nabe. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi