Bakti Leluhur, Pesemetonan Sire Arya Kenuruhan Bali Gelar "Mendak Isepan"

Jumat, 17 Agustus 2018 : 06.36
Pesemetonan Sire Arya Kenuruhan Bali melaksanakan ritual mendak isepan di Bebandem Karangasem
KARANGASEM - Sebagai bentuk bakti Pesemetonan Sire Arya Kenuruhan Bali mengikuti prosesi mendak isepan di Pura Penyatur Kangin, Desa sibetan, Bebendem Karangasem yang berlangsung khusyuk.

Kegiatan berkaitan upacara Ngeroras massal. Sebelumnya kegiatan ini digelar rutin selama lima kali. Untuk peserta kali ini sebanyak 335 puspa di mana per puspa dikenakan biaya Rp 1,5 juta. Upacara ngaben massal sebelumnya digelar yang kemudian dilanjutkan "ngeroras dan ada meotonan dan metatah.

Ketua Umum Pertisentana Sire Arya Kenuruhan Pusat I Wayan Geredeg mengakui kalau kegiatan ini sebagai bentuk kebersamaan pesemetonan Arya Kenuruhan dalam melaksanakan upacara.

"Ini sebagai tanda bakti kepada leluhur, dengan cara bersama sama seperti ini akan jauh lebih meringankan," tutur Geredeg, Kamis 16 Agustus 2018. Dari segi biaya dan juga dari segi penggerapan. Selaian itu juga untuk menjaga gotong royong dan kebersamaan diantara penesmetonan.

Dikatakan, tahun ini peserta sedikit turun, karena banyak yang waswas kalau kegiatan ini tidak akan digelar karena kondisi Gunung Agung yang sempat level IV dan sekarang sudah leval III.

Geredeg mengaku kagum dengan semengat pesemetonan. Bahkan saat mendek dihadiri sekitar 7000 warga. Untuk prosesi mendek isepan usai sembahyang, kemudian dilakukan peed dari Pura Catur Kangin menuju Merajan Arya Kenuruhan, Sibetan.

Menurut Jro Mangku Jati, mendek isepan itu diawali tambur yang menandakan kalau sedang ada upacara. Ritual tersebut digelar di Penyatur Kangin karena timur merupakan terbitnya matahari. Sehingga mendapat jalan atau sinar suci Dewa Surya sehingga ada jalan terang.

Upacara ini dipuput Ide Pedanda Istri Buruan dari Geria Kanginan, Sibetan. Sementara tebu yang di arak ada 108 buah tebu dengan daun dan yang lainya tebu pendek. Angka 108 mlambangkan angka tertinnggi menurut filsafat hindu sehingga sang leluhur diaharapkan bsia mencapai tempat tertinggi.

“Mendak isepan itu artinya menjemput Tebu,” jelasnya. Tebu merupakan bahan gula yang akan dipergunakan sebagai pemanis jajanan catur yang akan di buat.

Tebu menyimbulkan kalau sari tebu adalah hal hal yng baik sehingga harus diambil. Sementara ampasnya di buang. Ini juga melambangkan dalam hidup yang bagus dan positif diambil dan buang hal hal yang negative. Sementara itu Ketua DPRD Karangasem

Sumardi yang hadir dalam upacara tersebut mendorong dilekukan upacara masal seperti ini. Karena akan sangat membantu umat.

“Harapanya kalau terus dilakukan seperti ini akan bisa menekan angka kemiskinan di Karangasem,” ujarnya. sebab upacara kalau dilakukan sendirian biaya cukup besar sehingga membebani umat. Pihaknya akan terus mendorong pelaksaan ritual massal seperti itu karena umat akan sangat terbantu. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi