Sinar Api dan Letusan Gunung Agung Masih Terekam PVMBG

Senin, 02 Juli 2018 : 20.04
Gunung Agung/foto:pvmbg
KARANGASEM-  Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian ESDM hingga kini masih merekam aktivitas munculnya sinar api kegempaan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem Bali.

Ketua Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian ESDM Kasbani mengungkapkan, secara visual, kejadian erupsi masih terus teramati. 

Dari 27 Juni hingga 2 Juli 2018 pukul 09:00 WITA, ketinggian kolom erupsi (gas dan abu) cenderung menurun namun tidak terlalu signifikan yaitu dari 2500 m di atas puncak menjadi pada kisaran 200-2000 m di atas puncak. 

"Pada malam dan dini hari, teramati sinar api (glow) di atas kawah masih teramati. Hal ini mengindikasikan adanya material lava segar dengan temperatur tinggi di dalam kawah dan masih adanya pergerakan magma ke permukaan," ungkap Kasbani dalam rilis Senin (2/7/2018).

Demikian juga aktivitas seismik Gunung Agung masih didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah (hembusan dan letusan).

Tercatat, jumlah Hembusan dari 28 Juni hingga 2 Juli 2018 mengalami penurunan dari 69 kejadian per hari menjadi 14 kejadian per hari. Meskipun mengalami penurunan, namun jumlah Hembusan masih tinggi.

Gempa letusan terakhir terekam berturut-turut pada 2 Juli 2018 pukul 06:19 WITA, 06:41 WITA dan 06:55 WITA. Tremor menerus sudah tidak terekam sejak 29 Juni pukul 05:00 WITA. Gempa-gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) terekam sekitar 2 kejadian per hari.

Kemudian, amplitudo seismik Gunung Agung mengalami peningkatan tajam pada 28 Juni 2018 mulai sekitar pukul 09:00 WITA, amplitudo seismik menurun tajam pada 29 Juni 2018 pukul 05:00 WITA. Setelah itu, pola amplitudo seismik cenderung berfluktuasi dan belum menunjukkan pola peningkatan yang jelas.

"Sebelum mengalami erupsi 28-29 Juni 2018, pemodelan deformasi mengindikasikan terjadinya penggembungan (inflasi) tubuh Gunung Agung secara cepat dengan uplift mencapai 1 cm," sambung Kasbani.

Pasca erupsi 29 Juni - 1 Juli 2018, tubuh gunung sedikit mengalami pengempisan (deflasi) namun sistem vulkanik belum sepenuhnya mengalami relaksasi. Pengukuran deformasi masih mengindikasikan adanya pembangunan tekanan magma di kedalaman.

Sementara, citra satelit menunjukkan erupsi efusif berupa aliran lava ke dalam kawah masih berlangsung hingga saat ini. Pada periode 28 Juni hingga 1 Juli 2018, lava baru mengalir keluar dari tengah kawah dan menyebar secara radial (melingkar) dengan volume pada kisaran 4-5 juta meter kubik.

Sejak erupsi 21 November 2017 hingga 1 Juli 2018, volume total kubah lava sudah mencapai sekitar 27-28 juta meter kubik atau hampir 50% dari kawah Gunung Agung yang memiliki volume kosong sekitar 60 juta meter kubik. Beda ketinggian antara bibir kawah terendah (pada sisi baratdaya) dengan permukaan kubah lava tertinggi (di tengah kawah) adalah sekitar 85-90 meter.

Kata Kasbani, citra satelit masih merekam adanya Hotspot (titik panas) di kawah Gunung Agung terkait aktivitas efusi (aliran) lava. Dalam periode 28 Juni hingga 2 Juli 2018, energi termal cenderung mengalami penurunan dari maksimum 819 Megawatt ke 58 Megawatt. Meskipun mengalami penurunan namun energi termal masih termasuk tinggi.

Memperhatikan fakta tersebut, Kasbani menyampaikan analisisnya bahwa Gunung Agung masih berada dalam fase erupsi. Saat ini, erupsi yang terjadi pada umumnya bersifat efusif berupa aliran lava yang mengisi kawah dan eksplosif berupa lontaran lava pijar di sekitar kawah maupun erupsi abu.

"Kedua, kemungkinan untuk terpenuhinya kawah oleh material lava dalam waktu singkat masih rendah karena laju efusi lava saat ini masih lambat," tukasnya.

Aktivitas Gunung Agung masih dalam kondisi yang berkembang dan belum stabil dan kemungkinan untuk terjadinya erupsi (efusif maupun eksplosif) masih tinggi.

Disinggung soal ptensi bahaya, yang paling mungkin terjadi yaitu berupa lontaran batu/lava pijar dan jatuhan pasir/abu lebat di dalam maupun keluar kawah.

Hujan abu dengan intensitas lebih rendah dapat melanda jarak yang lebih jauh dimana penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Abu vulkanik jika tertahan di udara juga dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Potensi terjadinya aliran lava ke luar kawah masih rendah karena lava saat ini mengisi kurang dari setengah volume kawah. Terdapat skenario dimana kubah lava dapat dilontarkan keluar kawah dan membentuk aliran piroklastik (awan panas) namun kemungkinan untuk itu terjadi saat ini masih rendah karena pembangunan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung belum signifikan.

"Estimasi potensi bahaya terus dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan data pemantauan, dan dapat berubah sewaktu-waktu," demikian Kasbani. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi