Nengah Becik, Mantan Wartawan yang Memilih Menjadi Sulinggih

Minggu, 01 Juli 2018 : 09.11
I Nengah Becik
KARANGASEM- Lama bergelut di dunia jurnalistik kini mantan wartawan Harian Nusa I Nengah Becik memilih mengisi hari tua dengan menjadi Sulinggih atau orang berkedudukan mulia yang berhak memimpin upacara keagamaan Hindu.

Sebelum menjadi Sulinggih atau orang suci, Becik harus mengikuti prosesi upacara Mediksa atau juga disebut dengan ‘Divya jnyana.’

Ia yang dikenal Sang Juru Dalang itu, semakin bijaksana termasuk ketika berbincang dengan awak media yang menemui di kediaman Banjar Belimbing(Dusun Kangin) Desa Tohpati, Klungkung belum lama ini.

Di Bale Agung sisi tengah halaman rumah, terlihat beberapa orang, tengah sibuk berbincang – bincang mengenai rangkaian acara.

Pria yang sempat bergelar Jero Mangku Penyarikan Dadya Kayu Selem Tohpati, Klungkung ini pun bercerita tentang karirnya di dunia jurnalis.

“Memang, di tahun 1980 an saya aktif sebagai jurnalis di media cetak," tuturnya santai.

Dia berkisah, menjalankan profesi wartawan, tidak semudah sekarang yang serba instan dan cepat.

Untuk menulis berita harus menggunakan mesin tik dan tulisan - tulisan itu dikirim ke kantor dengan bantuan kurir atau post.

Calon Sulinggih yang akan bergelar Sri Empu Jro Gede Kayu Selem, Tohpati ini mengakui dunia jurnalistik baginya begitu amat berkesan dan menyenangkan.

“Tentu sangat menyenangkan, kami yang angkatan tua begitu tangguh di tengah keterbatasan kami bia bertahan dan memberikan yang terbaik,” kenangnya.

Selain mantan wartawan, laki – laki kelahiran 31 desember 1956 ini juga di kenal sebagai juru dalang.

Bergelar Jero Mangku Penyarikan Dadya Kayu Selem Tohpati ketika menjadi Juru Dalang di tahun 1978. Membuatnya begitu dikenal di dunia budaya dan seni. Selain itu, jiwa seninya juga tercermin dalam dunia seni tari.

Ia tertarik di bidang seni dan budaya sehingga tak heran lama berkecimpung menikmati seni dalang wayang, akhirnya saya juga mulai coba – coba bejar menari. Sampai akhirnya berminat menekuni tari topeng sidhakarya.

Bahkan, sampai hari ini, jika ada kesempatan untuk menari dengan senang hati menarikan tarian itu.

Jejak sukses hidup Becik tidak hanya itu, dia berkarir di bidang pemerintahan. Pada tahun 2011 sempat menjabat sebagai Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Klungkung.

Setelah semua didapat, kini di usia senja memilih menjadi seorang sulinggih.

Untuk ini, dia beralasan, perjalanannya hidupnya merupakan sebuah perjalanan tanpa direncanakan dan tak terduga.

“Bagi saya ini semua merupakan sebuah kejutan. Kenapa? Karena terjadi begitu saja, mengalir dan akhirnya sampai disini," tuturnya.

Tidak ada yang menduga, semua yang terjadi benar – benar di luar rencana. Ketika memasuki pensiun, dia juga sudah bersiap berkebun bersama istri. Apalagi, kewajibannya sebagai orang tua sudah selesia, sedangkan, anak – anak sudah besar dan mandiri.

Untuk mengisi hari dengan kesibukan seperti berkebun . Hingga kemudian, di luar rencana, ia didorong masyarakat dan para nabe untuk menjadi seorang sulinggih.

“Awalnya saya sering mendapat bisikan untuk ke arah sana (Menjadi sulinggih), hal itu berlangsung selama setahun dan terus menerus, " ucapnya.

Hanya saja, hal itu tidak begitu ia pedulikan. Semakin ke sini justru semakin banyak warga dan orang – orang terdekat yang mendorongnya ke arah situ.

Dorongan itu semakin kuat, akhirnya dengan rasa berserah saya mohon dituntun leluhur, dan prosesnya bergulir hingga hari ini.

Kemudian, soal kegemarannya mendalang, sedikit banyak mempengaruhi jalannya di dunia spiritual.

Ketika usia tak lagi muda, yakin hampir semua orang akan mulai berfikir kearah spiritual dan agama. Mungkin dari karma saya di kehidupan lalu akhirnya di kehidupan ini ditugaskan sebagai pelayan umat.

Diketahui, Upacara  Madiksa akan diselenggarakan 28 Juli dipimpin dan diiringi beberapa Nabe. Diantaranya Ida Pandita Mpu Nabe Siwaputra Dharma Dhaksa sebagai Nabe Napak, Ida Mpu Nabe Rekadnyana Sidhanta selaku Nabe Waktra, ada juga Ida Pandita Empu Nabe Maetria Paradarma sebagai nabe saksi.

Sesuai dudonan atau jadwal, upacara mediksa digelar pukul 16.00 wita. Sulinggih, Mediksa dan Prosesi Mati Raga Bercermin dari kisah sang juru dalang yang menjadi seorang sulinggih.

Soal tugas seorang Sulinggih dan prosesi yang harus dilewati seseorang untuk menjadi seorang sulinggih.

Sulinggih merupakan seseorang yang telah mendapatkan penyucian melalui upacara yang disebut madiksa. Seorang walaka yang telah didiksa mendapatkan kedudukan sebagai sulinggih atau sadhaka.

Dalam kesempatan berbeda, Sulinggih  Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaska Charya Manuaba , menjelaskan upacara Madiksa merupakan upacara yang bertujuan menerima sinar suci ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk melenyapkan kegelapan pikiran agar mencapai kesempurnaan.

“Tujuan upacara ini agar ia yang menjalani proses mediksa dapat manunggal - kan dirinya kepada tuhan," tutur dua.

Semua itu melalui pembersihan atau peleburan. Proses peleburan tersebut dapat dilihat dalam prosesi Mati Raga yang menjadi satu rangkaian dalam upacara mediksa.

Diksa disebutkan berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata ‘di’' dan ‘'ksa’.’'Di’' artinya divya Jnyana atau sinar ilmu pengetahuan, sedangkan ‘'ksa’ artinya ksaya atau melenyapkan, menghilangkan.

Dengan demikian ‘'diksa’' artinya divya jnana atau sinar suci ilmu pengetahuan yang melenyapkan kegelapan atau kebodohan. Prosesi ‘Mati Raga’ adalah sebuah prosesi yang wajib dilakukan oleh seorang diksa. Hal ini dilakukan ketika ia hendak menjadi seorang Brahmana.

Dijelaskan, upacara ini akan menyebabkan yang bersangkutan lahir untuk kedua kalinya sebagai seoarang Vipra, Muni atau Sulinggih, dan menyandang gelar kebrahmanaan. mereka yang telah melakukan ritual ini, disebut telah melakukan Dwijati atau secara harfiah berarti lahir untuk kedua kalinya.

Pertama lahir dari rahim ibu biologis, kemudian lahir kedua kalinya dari ilmu pengetahuan. Tujuannya melebur segala kegelapan akibat kurangnya ilmu pengetahuan.

Kata Sulinggih Charya Manuaba, Hal ini dilakukan dengan menyucikan sukma sarira agar mampu menampung ilmu pengetahuan rohani.“Mati Raga merupakan bentuk usaha sadar yang dilakukan untuk membunuh semua musuh dalam manusia secara total, yakni Krodha, Moha, Mada. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi