Mengenal Lebih Dekat Pemikiran Caleg Muda DPRD Klungkung Made Satria

Rabu, 18 Juli 2018 : 14.33
Caleg Nomor Urut 1 DPRD Kabupaten Klungkung I Made Satria
DENPASAR- Diantara sekian banyak calon anggota legislatif yang didaftarkan PDI Perjuangan ada salah satu sosok muda yang sukses menggeluti bisnis properti, dialah  I Made Satria yang menjadi Caleg DPRD Kabupaten Klungkung.

Tentu saja, atas kepercayaan sebagai caleg nomor urut 1 Daerah Pemilihan Dapil Nusa Penida yang diberikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), tidak akan disia-siakan. Dia bertekad membangun daerahnya agar bisa lebih maju seperti daerah lainnya di Pulau Dewata.

Kiprah pria asal Dusun Sental, Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida itu kiprahnya sudah diketahui masyarakat luas. Untuk urusan membantu kegiatan sosial kemasyarakatan dan pembangunan pura  Satria sering merogoh kocek pribadi yang disisihkan dari keuntungan berbisnis.

Hanya saja, jika mengandalkan kekuatan modal pribadi tentulah tidak cukup untuk membantu problematika masyarakat Klungkung, khususnya Nusa Penida.  Berkat kegigihan dan dorongan sang kakak, Ketut Leo, kemudian bersama-sama berbuat dalam membangun meski masih sebatas di wilayahnya.

Kini, Satria ingin memperluas jangkauan pengabdiannya melakukan yang terbaik untuk membangun Klungkung, khususnya Nusa Penida tanpa terkendala anggaran.

Dengan menjadi calon legislator, kata Satria, sebagai salah satu upayanya dalam membangun Klungkung. Membangun Bali tidak bisa hanya terfokus pada wilayah daratan semata.

"Karena itu, dengan sendirinya, siapapun yang jadi pemimpinnya, Bali harus dikelola secara komprehensif. Saya sangat sepakat dengan konsep gubernur terpilih 2018, Wayan Koster, bahwasanya beliau mengonsep Bali dengan one island one management," tegas Satria.

Dalam konsep itu, Bali ini satu pulau, satu tata kelola dan satu perencanaan. Jika Pulau Bali diumpamakan sebagai seekor ayam, Satria menyebut kepalanya berada di Karangasem dan Bangli, badannya berada di Gianyar, Denpasar dan Badung serta ekornya itu berada di Tabanan, Singaraja dan Jembrana.

"Telurnya itu di Kepulauan Nusa Penida. Dengan sendirinya siapapun yang menjadi pemimpin Bali harus memperhatikan Nusa Penida," tuturnya

Ia melanjutkan, perhatian yang diberikan untuk membangun Nusa Penida adalah secara sekala dan niskala. Untuk membangun Nusa Penida membutuhkan dana cukup besar.

"Sejauh ini, pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten sudah mengupayakan. Namun, apa yang sudah dilakukan itu belum cukup. Karena itu, pemimpin Bali ke depan harus memberi anggaran memadai dan cukup untuk membangun Nusa Penida," sambungnya.

Selama ini banyak yang berharap Nusa Penida akan bisa maju. Namun, kemajuan itu bisa tercapai apabila dari awal sudah didesain tata ruangnya.  Jadi, yang menjadi prioritas adalah infrastruktur.

Menurut pria ramah ini, sangat mustahil Nusa Penida bisa maju, jika infrastruktur tak dibenahi, tidak didesain dari awal secara menyeluruh dan terintegrasi.

Merancang infrastruktur dan pembangunan Nusa Penida penting dilakukan sejak dini. Tentunya jangan sampai Nusa Penida itu kebablasan atau tak terkendali.  Dicontohkan, saat ini saja kondisinya belum maju, namun sudah terlihat begitu krodit.

"Seperti sekarang ini, kita baru akan memulai ke arah kemajuan. Tetapi saat ini seolah-olah Nusa Penida itu sudah maju berpuluh-puluh tahun lamanya. Krodit," tutur Satria.

Yang menjadi salah satu penyebab yakni infrastruktur yang belum tertata dengan baik. Untuk itu, pemimpin Klungkung dan Bali diharapkan memberi perhatian masalag infrastruktur Nusa Penida agar bisa didesain dengan baik.

Dengan begitu, kemajuan yang diharapkan benar-benar ditata dengan baik, tidak seperti Kuta yang dalam penilaiannya sudah terlanjut kebablasan.

"Infrastruktur yang saya maksud utamanya transportasi jalan. Itu harus dibenahi. (Jalan) yang sudah ada saat ini sangat sempit. Saya sering mengajak rekanan saya dari mancanegara ke Nusa Penida. Mereka selalu bertanya kepada saya kenapa jalan di sini sempit seperti gang," imbuhnya.

Jika kondisi seperti ini terus berjalan maka akan susah bagi Nusa Penida untuk maju. Tentu saja, investor juga sulit masuk. Pemerintah harus menyediakan infrastruktur  memadai atau dibenahi sehingga investor tertarik berinvestasi dalam jumlah besar.

"Pemerintah harus menyediakan itu terlebih dahulu. Kalau sudah dipenuhi, dengan sendirinya investor berbondong-bondong akan datang ke Nusa Penida untuk membangun sesuai dengan apa yang menjadi potensi yang bisa dibangun dan dikembangkan," demikian Satria . (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi