Ketika Guru Mendidik Karakter dengan Menabung

Minggu, 15 Juli 2018 : 14.47
Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Hizbullah/foto:kabarnusa
Pendidikan karakter adalah salah satu tugas seorang guru. Pendidikan ini tidak mungkin bisa diterapkan tanpa sebuah praktik. Berkekal keyakinan tersebut, guru-guru di Bali mengajak murid-muridnya untuk menabung.

“Karena menabung untuk mengajarkan anak hidup hemat,” kata Dayu Gde Astini, Kepala Sekolah SDN 1 Bunutin, Kabupaten Bangli.

Sejak setahun lalu, Dayu bertekad mengajar pendidikan karakter tidak hanya lewat buku tetapi praktik langsung. Pilihannya adakah karakter hidup hemat. Pilihan itu karena melihat kebiasaan masyarakat di dekat sekolahnya yang menyisihkan uangnya untuk ditabungkan ke Lembaga Perkreditan Desa (LPD).

“Dulu, guru-guru disini mengumpulkan uangnya terus disimpan di LPD. Saya pikir kok rumit dan belum transparan,” paparnya.

Dayu mengaku teringat dengan program Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel). Tabungan ini memiliki persyaratan mudah, saldo awal hanya Rp5 ribu. Menurutnya, program itu bisa diadopsi oleh siswa-siswinya. Tergeraklah dia untuk mengumpulkan melakukan rapat dengan orang tua murid.

Bak gayung bersambut, orang tua siswa sepakat. Dayu mengatakan untuk mempermudah pelayanan, pihaknya menggandeng BPD Bali. Ternyata bank milik pemda dan pemprov Bali ini menyanggupi untuk datang setiap Senin dan Rabu guna menarik dana dari siswa. Kalau untuk menarik tabungan, pegawai bank memberikan tenggat seminggu setelah informasi masuk.

“Menurut kami menabung ini benar-benar mudah. Prosesnya juga transparan, orang tua dan siswa bisa melihat. Kami para guru pun dapat fokus mendidik,” jelasnya.

Dayu Astini hanyalah salah satu guru di Bali yang tergerak mendorong calon generasinya untuk menabung. Di Denpasar, Desak Made Kesumayuni, Kepala SDN 1 Renon, Denpasar, Bali juga melakukan hal sama.

Kesumayuni menjelaskan siswa di sekolahnya juga dia dorong untuk menabung ke lembaga keuangan seperti bank. Pertimbanganya sederhana, karena bank bersedia jemput bola ke sekolah.

Setiap Selasa dan Jumat, mobil BPD Bao datang ke sekolah membawa kendaraan untuk melayani setoran tabungan. SDN 1 Renon merupakan salah satu sekolah di Bali yang memutuskan memfasilitasi siswa siswinya untuk membuka tabungan Simpel.

Dia menuturkan inisiatif menggandeng BPD Bali datang ketika melihat ada siswanya terkadang menabung di Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Lokasi lembaga keuangan milik desa adat itu berada di luar sekolah. Dia mengaku terkadang memergoki anak didiknya hendak ke luar sekolah saat jam istirahat karena semangat ingin menabung. Anak didiknya rerata merupakan anak dari orang tua yang berdagang maupun berusaha kecil-kecilan.

Melihat antusias para muridnya, dia pun tergerak untuk meminta bantuan BPD Bali memfasilitasi. Dia pun berharap tahun ini kerja sama tersebut berlanjut karena akan mengajarkan anak didiknya menyisihkan uang sakunya.

“Kalau menabung di LPD itu lokasinya kan di luar sekolah, saya tidak tega dan suka khawatir. Makanya lebih baik saya datangkan saja banknya,” jelasnya.

Astini dan Kesumayuni merupakan contoh guru di Bali yang berdedikasi mendorong program menabung. Upaya tersebut merupakan salah satu langkah nyata mengajak siswa siswi menabung dalam bentuk Tabungan Simpel.

Rekening Simpel merupakan basic saving account yang diterbitkan bank umum dan BPR dengan segmentasi bagi pelajar SD hingga SMA. Dengan rekening ini, pelajar diharapkan mengenal produk perbankan lebih dini. Tabungan Simpel hanya mensyaratkan setoran awal Rp5.000, sedangkan setoran berikutnya minimal Rp1.000 dan saldo mininum Rp5.000.

Hingga Juni 2018, jumlah Tabungan Simpel mencapai 55.188 rekening dengan total saldo senilai Rp51,7 miliar. Saat ini ada 533 sekolah di seluruh Bali mengikuti program menabung Simpel.

Direktur Operasional BPD Bali Ida Bagus Setia Yasa menuturkan rekening Simpel merupakan salah satu upaya mendekati siswa siswi. Pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan 72 sekolah. Menurutnya, pengenalan tabungan Simpel cukup efektif.

Data OJK Kantor Regional 8 Bali Nusra, jumlah bank yang mengikuti program ini di Pulau Dewata sebanyak 20 bank umum dan 69 BPR. Kendati minim dari segi nominal rekening, tabungan ini dinilao efektif meningkatkan tingkat literasi dan inklusi keuangan di Pulau Dewata. Khususnya, di daerah-daerah yang selama ini belum dijangkau oleh perbankan karena terkendala letak geografis.

Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Hizbullah menuturkan tingkat pemahaman masyarakat di Pulau Dewata akan produk keuangan sebenarnya sudah tinggi. Tingkat inklusi keuangan masyarakat di Bali pada 2016 lalu sebesar 76% sedangkan literasi keuangan di Bali baru mencapai 37,5%

Secara angka, capaian itu memuaskan karena lebih tinggi daripada nasional dan cukup melek literasi. Namun, ada fakta itu tidak terlepas dari keberadaan LPD yang pengawasannya tidak di bawah naungan OJK. Selain itu, konsentrasi masyarakat yang melek keuangan masih di seputaran kota besar.

Hal itu tercermin dari jumlah rekening di daerah ini yang sebagian besar terkonsetrasi di Denpasar, Badung, Buleleng dan Gianyar. Dugaan itu diperkuat hasil survei Bank Indonesia Perwakilan Bali bahwa pada 2017, rasio peningkatan rekening di Jembrana, Klungkung, Tabanan, Bangli dan Karangasem kurang 1.000 rekening

Karena alasan itulah, dia menilai Tabungan Simpel dapat menjadi solusi menjangkau daerah pelosok yang belum mendaptkan sosialisasi literasi dan inklusi.

“Penyebaran belum merata paling banyak di kota Denpasar kota lain agak kurang. Terkait itu OJK selalu imbau untuk meningkatkan supaya Simpel naik,” paparnya.

Dia mengatakan pertumbuhan tabungan Simpel di Bali tidak linear dengan capaian pusat. Secara nasional jumlah Simpel mengalami pertumbuhan signifikan adapun di Bali pertumbuhan pada tahun ini agak tersendat. Dia menyatakan berupaya melakukan sosialisasi ke sekolah dari SD-SMA bahkan perguraun tinggi.

Jumlah sekolah yang disasar juga akan ditingkatkan. Pihaknya juga meminta BPD Bali secara khusus untuk menggandeng LPD guna membuka rekening bagi masyrakat. Diakuinya masalah geografis khususnya daerah di pelosok menyebabkan belum semua dijangkau.

Dia optimistis tahun ini jumlah rekening ini bisa tumbuh 15%. Untuk bisa memenuhi target itu, dibutuhkan lebih banyak sosok Astini dan Kesumayuni. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi