Hafid Bahtiar, Sosok Anak Pedagang Gorengan yang Bertekad Menjadi Jenderal

Kamis, 26 Juli 2018 : 05.31
Hafid Bahtiar /foto:istimewa
TULUNGAGUNG - Hafid Bahtiar lulusan Akmil peringkat 77 Akademi Militer (Angkatan Darat) tahun 2018 si anak pedagang gorengan yang ingin menjadi seorang perwira tinggi atau jenderal. Seperti apa jejak perjalanannya hingga dia menjadi lulusan Akademi Militer?

Pria kelahiran Tulungagung 30 Desember, 23 tahun silam merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Mujani dan Supriatin.

Kedua orang tua Hafid merupakan pedagang gorengan di sebuah desa kecil di wilayah Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

"Saya dan istri mengolah adonan jajanan gorengan, Hafid mengantarkan gorengan ke warung-warung." kata Mujani kepada wartawan.

Postur jangkung dan fisik kuat yang terbentuk dari kegiatan kesehariannya sebagai pemain basket dari SMAN 1 Campurdarat Tulungagung merupakan modal awal dia mendaftar Taruna Akmil. Keinginan Hafid cukup kuat untuk menjadi Taruna Akmil.

"Dua kali daftar semuanya Akmil, usai gagal di pendaftaran yang pertama sempat ditawarin untuk mendaftar Secaba tetap kokoh untuk daftar Akmil." tuturnya.

Ia mengungkapkan, anaknya mempunyai tekad bulat menjadi Taruna Akmil meski kondisi keluarga mereka sangat sederhana.

"Los aja pak, bismilah saja. Nggak usah memikirkan biaya untuk masuk Taruna." ujar Mujani sambil menirukan ucapan Hafid saat daftar Taruna Akmil.

Anak keduanya ini mendaftar 2 kali sebagai Taruna untuk Akmil pada tahun 2013 dan tahun 2014 dan akhirnya dinyatakan lulus pada tahun 2014.

Hafid mengaku sebelum diterima sebagai Taruna Akmil, ia sering membantu meringankan beban kedua orang tuanya dalam mencari nafkah. Kemudian ia bercerita bagaimana gigihnya kedua orang tua bekerja keras menghidupi keluarga.

"Orang tua saya pernah berdagang bakso, gorengan, jagung dan kacang rebus di pinggir jalan. Masih ingat dalam memori saya, waktu sekolah di SD dan SMP membawa gorengan saya jual di sekolah." aku Hafid.

Memasuki masa remaja kala duduk di siswa SMA Negeri 1 Campurdarat gigih membantu meringankan beban orang tua.

Mulai dari menjadi tukang batu marmer sepulang sekolah hingga meluangkan waktu melatih basket anak-anak di kampungnya.

"Lumayan dapat honor buat beli makan sehari-hari dan uang saku sekolah." tuturnya.

Hafid selalu bersyukur dengan segala karunia yang diberikan oleh Tuhan YME. "Semua yang kami dapat selalu kami syukuri untuk kebutuhan sehari-hari." tambah penghobi basket dan voli ini.

Pesan moral dari orang tuanya untuk selalu semangat dan tidak mudah putus asa selalu dipegangnya hingga kini.

"Jangan pandang siapa orang tuamu atau keluargamu. Tetapi berbanggalah darimana keluargamu." ungkap Hafid menirukan pesan orang tuanya saat dia gagal daftar Akmil tahun 2013.

Meski tidak menonjol secara prestasi, pemilik tubuh jangkung ini menjabat mayoret Taruna Drum Band saat menjadi Taruna Akmil.

Keluarga Hafid hampir gagal mengikuti kegiatan Prasetya Perwira (Praspa) di Istana Presiden. Pasalnya Mujani dan keluarga mengaku belum siap sarana dan pra sarana serta akomodasi untuk datang ke Istana Presiden di Jakarta.

Mendengar kabar tersebut, Pangdam V/Brawijaya melalui Aspers Kasdam menyampaikan atensi memberikan perhatian kepada keluarga Taruna Akmil dari Tulungagung ini.

Menjawab atensi dari Pangdam V/Brawijaya, Danrem 081/DSJ dan Dandim 0807/Tulungagung memfasilitasi segala keperluan keluarga Hafid untuk mengikuti kegiatan Prasetya Perwira di Istana Presiden hingga.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik 724 Prasetya Perwira (Praspa) TNI dan Polri tahun 2018 di halaman depan Istana Merdeka Jakarta pada Kamis Juli 2018 yang lalu.

Usai Prasetya Perwira (Praspa) TNI dan Polri tahun 2018, Hafid resmi menjadi Perwira TNI AD Korps Artileri Medan (Armed). Ia tetap bangga menjadi seorang prajurit meski dari keluarga kurang mampu dan bercita-cita tinggi ingin menjadi Jenderal.

"Meski saya anak seorang kuli bangunan, tetapi cita-cita saya ingin menjadi Panglima TNI." tutup Hafid. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi