FPM: Kebakaran di Pelabuhan Benoa Jangan Dianggap Remeh

Rabu, 11 Juli 2018 : 09.37
Pendiri Forum Peduli Mangrove (FPM) Bali Heru Budi Wasesa
DENPASAR- Kebakaran puluhan kapal di Pelabuhan Benoa Denpasar jangan sampai dianggap remeh karena berdampak besar mengancam kelestarian mangrove di kawasan Teluk Benoa

Diketahui, kebakaran di Dermaga Barat Pelabuhan Benoa Senin (9/7) subuh langsung direaksi reaksi sejumlah LSM Lingkungan khususnya Forum Peduli Mangrove (FPM) Bali yang sudah enam tahun konsisten merawat dan melestarikan mangrove di Bali khususnya di kawasan Teluk Benoa.

“Semoga kejadian tersebut segera ditangani dan tidak ada dampak yang merusak hutan mangrove di perairan Teluk Benoa Pendiri FPM, Heru Budi Wasesa kepada wartawan, Selasa (10/7/2018)

Ia memaparkan, ketika pipa oli bocor beberapa tahun lalu di pintu masuk Pelabuhan Benoa dampaknya sejumlah mangrove yang ada di sekitarnya beberapa bulan kemudian mengering dan mati.

Pihaknya telah membentuk tim untuk terus memantau dampak dari kebakaran tersebut terhadap mangrove yang ada kawasan Teluk Benoa.

Tim FPM sudah turun ke lapangan memantau dan melihat bagaimana dengan kondisi mangrove pasca kebakaran tersebut. Setiap minggu dievaluasi pada titik mana saja yang terkena limbah oli akibat kebakaran itu.

"Semoga kejadian ini bukanlah hukuman atas politisasi dan mencari populis atas lingkungan yang selama ini terjadi,” tegasnya.

Atas insiden itu, alumni Universitas Pertahanan ini juga mempertanyakan sikap Pemerintah yang dianggap tebang pilih dalam menata lingkungan, terutama di Bali. Pemerintah selaku pembuat kebijakan harus mencermati perluasan Pelabuhan Benoa.

Terutama dari sektor lingkungan hidup adi “Jagan ada dusta diantara kita. Jangan jadikan isu lingkungan untuk politisasi dan membuat diri populis.

Dia juga mengingatkan, jangan sampai kejadian kebakaran di Pulau Benoa dianggap remeh. Ini terjadi karena kecongkakan dan kemunafikan pada lingkungan selama ini.

"Kami berharap pemerintahan baru di Bali nanti, arif dan bijaksana dalam menyikapi Teluk Benoa," sambungnya.

Pihaknya juga mempertanyakan peran sejumlah pejuang lingkungan hidup dalam menyampaikan kepedulian terhadap ancaman nyata kelestarian hutan mangrove akibat kebakaran tersebut.

Ke mana para pejuang tolak reklamasi dan para selebritis tolak reklamasi yang katanya cinta terhadap lingkungan dan kawasan tersebut. Apa peran nyata mereka terutama terhadap dalam tahap dalam kejadian kebakaran ini dan peran mereka selama ini terhadap perawat itu ke hutan mangrove.

Peristiwa ini bukan cuma berbicara tentang nilai kerugian kebakaran secara materi, tetapi juga kerugian lingkungan hidup karena kebakaran ini pasti berdampak dan merembet ke hutan mangrove

Mereka yang benar-benar berjuang merawat hutan mangrove selama ini jangan jadikan kawasan kawasan tersebut hanya kepentingan politis dan mencari popularitas untuk kepentingan diri dan kelompok.

Dia mempertanyakan, langkah Pelindo dengan pendalaman alur, yang caranya juga sama dengan reklamasi hanya membuang pasir atau menimbun di tempat yang berbeda.

"Kemana kemana pemerintah yang mengeluarkan AMDAL, apakah sudah adil, Jangan tebang pilih. ini juga yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan Bu Menteri Lingkungan Hindup,”sambungnya.

Jika pemerintah tebang pilih, maka atas dasar keadilan untuk kawasan Teluk Benoa, sebaiknya dimoratorium untuk kepentingan dan kelestarian lingkungan, dan semua yang ada di atas harus kembali menjadi daerah konservasi dengan segala aturan yang berada di dalamnya.

“Atas dasar keadilan, kalau perlu di Teluk Benoa dilakukan moratorium dan kembali menjadi kawasan konservasi dengan segala peraturan,”tegasnya

Heru menyoroti kenapa selama ini kawasan Teluk  Benoa yang dianggap suci justru terlihat dimarjinalkan terutama hutan mangrovenya.

Dijelaskan, FPM sejak tahun 2012, terus berupaya memperhatikan dan merawat dengan sekuat tenaga mengorbankan semua untuk merawat dan melestarikan mangrove di Teluk Benoa.(rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi