Festival Telur Vs Rokok Sambut Peringatan Hari Anak Nasional

Selasa, 31 Juli 2018 : 04.00
JAKARTA- Yayasan Lentera Anak bersama ibu-ibu warga Cibesut Cipinang Besar Jakarta Utara memasak 500 telur dan disajikan dalam bentuk tulisan #RokokHarusMahal pada kegiatan Festival Telur VS Rokok dalam menyambut peringatan Hari Anak Nasional 2018.

Kegiatan bertema “Penuhi Nutrisi Anak, Lindungi dari Nikotin, Cegah Stunting” digelar Senin 30 Juli 2018.

Kegiatan ini sebagai bentuk kritik sosial terhadap murahnya harga rokok di Indonesia, sehingga terjangkau oleh anak-anak dan menjadi pilihan belanja nomor 2 keluarga miskin setelah padi-padian.

Dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia termasuk harga rokoknya lebih terjangkau (affordable).  Bahkan Peraturan Menteri Keuangan 2017 (PMK 2017) tidak membuat harga rokok menjadi mahal.

Anak-anak masih dapat membeli rokok dengan harga sekitarRp 1.000 hingga Rp2000,- per batang. Lebih murah dibandingkan dengan harga telur per butir bahkan ketika harga telur meroket akhir-akhir ini.

“Setiap tahun cukai rokok selalu naik, tapi tidak pernah berhasil membatasi keterjangkauan anak dan keluarga miskin terhadap rokok, mereka masih sanggup membeli rokok," ujar Program Officer Yayasan Lentera Anak Iman Zein dalam rilis. 

Karena itulah, Lentera Anak bersama warga Cibesut Cipinang menyelenggarakan Festival Telur vs Rokok, untuk membangun dukungan masyarakat agar rokok harus mahal dan meningkatkan kesadaran untuk mengutamakan pemenuhan nutrisianak dari pada membeli rokok”.

DataTim Nasional PercepatanPenanggulanganKemiskinan (TNP2K) yang menyatakan bahwa di perkotaan dan di pedesaan, pengeluaran masyarakat untuk membeli rokok adalah 3,2 lebih besar dari pada untuk telur dan susu.

"Artinya, keluarga miskin lebih mengutamakan rokok ketimbang makanan bergizi," sambungnya.

Tati Nurhayati, warga Cibesut khawatir dengan belanja rokok. Ia prihatin melihat bapak-bapak yang kalau belanja rokok bisa habis Rp 20.000 sampai Rp 30.000 sehari,

"Mending uangnya untuk beli telur, bisa dapat sekiloan tuh,” selorohnya.

Belanja rokok yang lebih banyak dari pada untuk telur dan susu, akan berdampak kepada tidak terpenuhinya nutrisi anak dan berujung kepada fenomena anak stunting.

Menurut Penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang merokok cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil.

Festival ini dihadiri lebih dari 500 pengunjung, baik anak-anak, remaja, orang tua yang  mendapat informasi tentang manfaat telur dan bahaya rokok melalui kegiatan Wisata Telur Versus Rokok, juga tersedia terapi berhenti rokok, cek kesehatan gratis, pojok carnaval, permainan tradisional, instalasi seni dan live music.

Sementara itu, ibu – ibu warga Cibesut antusias memeriahkan festival ini dengan memasak 500 telur untuk disantap bersama masyarakat dan diakhiri dengan membaca deklarasi dukungan masyarakat agar rokok harus mahal. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi