Ungkapan Syukur Atas Kesuburan, Warga Bungaya Gelar Tradisi Ngusaba Sumbu

Sabtu, 09 Juni 2018 : 23.12
KARANGASEM- Ada tradisi unik yang digelar masyarakat Bungaya salah salah satu desa tua di Bali yakni Ngusaba Sumbu yang merupakan ungkapan syukur warga atas kesuburan yang diberikan Tuhan di wilayah mereka.

Konon, Desa Bungaya lahir sejak jaman Kerajaan Majapahit sebagaimana tanda bukti dengan adanya intrumen Selonding di desa adat tersebut, Warga menganggap Selonding di Bungaya sebagai hal sangat sakral.

Menurut wargam makna dari Ngusaba Sumbu sendiri adalah sebagai ucapan perima kasih kepada Tuhan atas segala berkah kesuburan yang dianugrahkan.

Sebagai salah satu desa tua Bungaya juga dikenal dengan tradisi adatnya yang unik dan menarik serta sakral.

Menariknya, ada prosesi Ngusaba Dangsil yang merupakan Ngusaba terbesar di Bungaya. Ngusaba ini digelar dengan kurun waktu sekitar 30 tahun sekali. Namun, tidak ada kurun waktu yang pas untuk menggelar ngusaba tersebut.

Selain itu, Ngusaba Sumbu. Ngusaba Sumbu sendiri saat ini sedang digelar tersebut. Prosesi Ngusaba Sumbu sudah dilakukan 5 juni dan akan berakhir 12 Juni 2018.

Menurut Gede Krisna Adiwidana selaku Keliang Pura Pajenengan Dadia Pasek Kaler Kangin Pengempon Prelingga Ida Bethara Lod Pasarmenatakan prosesi Ngusaba Sumbu mulai dilakukan di Pura Pesuikan diawali menghias Prelingga Ide Betara.

Selama tiga hari prosesi ini digelar di Pura Pesuikan kemudian Ngusaba di gelar di Pura Ulun Toya dan dilanjutkan dengan di Pura Desa.

Untuk prosesinya, seteleh ngaturang Lis di Pura Puseh prelingga ke iring ke Pura Pesuikan dan dilanjutkan dengan menghias lagi Prelingga Ide Betara di Lod Pasar. Kemudian semua prelingga di Pura Pesuikan juga dihias.

Kemudian, dilakukan mesucian di Pura Batu Sanghyang dan Ke Beji Saga. Dari sana Prelingga Ide Betara kembali ke Pura Pesuikan menghaturkan banten diiringi dengan Rejang Deha.

Pelaksaan Ngusaba Sumbu dilakukan selama tujuh hari. Uniknya adalah menggunakan sumbu dan pakaian deha serta penggunaan Onggar onggar (hiasa bunga).

Untuk Sumbu diantaranya di Pura Pesuikan ada enam buah, Pura Ulun Toya dua dan Pura Desa enam buah. Sumbu terbuat dengan menggunakan bamboo kemudian di hias dengan pala gantung dan pala bungkah yakni aneka buah dan umbi umbian serta hiasan dengan menggunakan daun lontar dan janur. 

Selama Ide Batara Nyejer disetiap Pura ada Rejang Deha dan tari Pendet Deha sebagai persembahan kepada Ide Batara.

"Prosesi ini memang sebagian besar dilakukan malam hari ini menandakan Desa Bungaya sebagai Desa yang agraris," sambung Krisna.

Pasalnya, pada siang hari, wargabekerja di kebun dan sawah sementara upacara baru bisa dilakukan pada malam hari.

Meski demikian, prosesi pada siang hari tetap ada. Diantaranya Rejang Lemah yang akan digelar mulai hari Minggu 10 Juni 2018 di Pura Desa.

Krisna kembali menjelaskan makna dari Ngusaba Sumbu sendiri adalah sebagai ucapan perima kasih kepada Tuhan atas segala berkah kesuburan yang dianugrahkan.

Makanya Sumbu yang merupakan sarana utama menggunakan buah buahan dan umbi umbian. Sementara sasih  Kesada sebagai akhir masa untuk menginjak tahun baru berikutnya. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi