Rai Mantra Dorong Pengembangan Pariwisata Budaya dan Berkualitas di Bali

Selasa, 12 Juni 2018 : 08.10
DENPASAR-  Bali ke depan membutuhkan pengembangan parwisata yang berkualitas dan bersandar pada budaya untuk meningkatkan daya saing dengan pariwisata negara-negara lain.

Menurut  Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali Periode 2003-2006, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra Perilaku dan pola konsumsi masyarakat mulai bergeser dari goods-based consumption (barang) menjadi experience-based consumption (pengalaman).

"Kondisi ini mendorong lahirnya leisure economy atau ekonomi bersenang-senang," katanya saat menjadi pembicara dalam One Day Talkshow "Terobosan Memenangkan Ceruk Pasar Pariwisata di Era Leisure Economy" yang digelar Ikatan Senior HIPMI (ISHI) Provinsi Bali bekerjasama sama dengan Bank Mandiri, di Hotel Aston Denpasar, Senin 11 Juni 2018.

Dalam praktiknya, leisure economy ini juga sangat identik dengan pariwisata. Sebab, kategori leisure seperti traveling, menginap di hotel, menonton film, konser musik, dan kuliner, telah menjadi konsumsi gaya hidup saat ini dan lebih penting ketimbang kepemilikan barang.

Potensi leisure economy yang berkaitan dengan pengembangan pariwisata di Bali, juga sangat besar. Hal ini ternyata mendapat perhatian serius Rai Mantra.

Untuk itu, Ia mendorong pengembangan leisure economy di Bali, agar mampu mewujudkan quality tourism atau pariwisata yang berkualitas berbasiskan budaya dan lingkungan (cultural tourism dan ecotourism).

"Kami dorong leisure economy di Bali agar mengarah ke quality tourism," sambungnya.

Dijelaskannya, leisure economy ini bukan masalah HIPMI saja, tetapi semua pelaku usaha di Bali harus mampu menangkap peluang ini.

Hanya saja, diakui, leisure economy bukan hal sederhana. Sebab pelaku usaha harus mampu memahami pergeseran prilaku dan pola konsumsi konsumen atau masyarakat.

Calon gubernur Bali nomor urut 2 itu menambahkan, konsumsi lebih ke arah jasa untuk mengejar kesenangan dan pengalaman, ketimbang membeli barang.

Leisure economy intinya bagaimana konsumen mendapatkan feel, ada rasa, pengalaman yang berbeda. Fenomena ini harus digabungkan di Bali, yang memang dominan dan domain bisnisnya adalah pariwisata.

"Namun yang dikembangkan adalah pariwisata budaya dan quality tourism," tegas Rai Mantra.

Acara menghadirkan sejumlah narasumber dan pakar di bidang ekonomi digital dan leisure economy, pakar pariwisata serta senior-senior yang pernah menjabat pimpinan HIPMI Bali seeperti IGA Inda Yudha (Ketua Umum HIPMI Bali Periode 2013-2016), I Ketut Sudikerta (Pengurus HIPMI Bali Periode 2000-2003), Yuswohady (Tim Co-Branding Kementrian Pariwisata), Dr Walter Tonetto (pakar blockchain), Kevin Wu (Founder Tripal.co) serta pembicara lainnya.

Acara ini dibuka Ketua Umum IHSI Bali yang juga Ketua Umum HIPMI Bali Periode 2000-2003, I Gede Sumarjaya Linggih alias Demer dihadiri ratusan pengusaha, stakholder dan lainnya. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi