Penelitian PKJS UI: Perilaku Merokok Orangtua Akibatkan Anak "Stunting"

Rabu, 27 Juni 2018 : 07.16
ilustrasi/net
JAKARTA- Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia (UI) baru-baru ini membeberkan hasil penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi rokok pada orang tua mengakibatkan anak stunting di Jakarta.

Stunting adalah kondisi di mana seorang anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Kejadian paling banyak ditemui di keluarga miskin ini, merupakan temuan yang mengejutkan dan penting segera ditindaklanjuti.

Perilaku merokok pada orangtua diperkirakan berpengaruh pada anak stunting dengan dua cara.

"Yang bertama, melalui asap rokok orang tua perokok yang memberi efek langsung pada tumbuh kembang anak," beber Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Bernie Endyarni Medise dalam rilis Rabu 27 Juni 2018.

Diungkapkan, asap rokok mengganggu penyerapan gizi pada anak, yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembangnya.

Pengaruh perilaku merokok yang kedua, dilihat dari sisi biaya belanja rokok, membuat orang tua mengurangi “jatah” biaya belanja makanan bergizi, biaya kesehatan, pendidikan dan seterusnya," sambung Endyarni.

Diketahui, Tim Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) telah melaksanakan studi yang membuktikan efek konsumsi rokok terhadap kemiskinan dan kejadian stunting di Indonesia.

Dalam penelitian itu, menggunakan dataset longitudinal (1997 – 2014) dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) ini membuktikan bahwa perilaku merokok telah berdampak pada kondisi stunting anak-anak mereka yang ditunjukkan pada tinggi dan berat badan.

Penelitian ini jelas memperlihatkan,  konsumsi rokok sekitar 3,6% pada 1997 telah melonjak5,6% pada 2014, sedangkan konsumsi lainnya menurun secara signifikan selama 1997-2014.

Dengan kata lain, peningkatan konsumsi rokok sekitar dua persen telah digantikan oleh penurunan pengeluaran beras, protein, dan sumber lemak, serta pendidikan. Pengeluaran rumah tangga untuk daging dan ikan menurun sekitar 2,3 persen selama1997 – 2014.

Padahal, seperti yang ditunjukkan dalam banyak penelitian, jenis pengeluaran ini akan sangat mempengaruhiperkembangan masa depan anak-anak dalam hal berat badan, tinggi badan, dan kemampuan kognitif.

Seperti yang ditunjukkan oleh survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), sampai saat ini konsumsi rokok pada keluarga miskin masih sangat tinggi di Indonesia.

Menurut Kasubdit Kerawanan Sosial BPS, Ahmad Avenzora, dilihat dari catatan statistik barang konsumsi di Indonesia, “Belanja makanan bergizi di bawah belanja rokok.”

Ini artinya, jika belanja rokok dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali, kesempatan keluarga miskin untuk belanja makanan bergizi akan jadi lebih besar, dan inilah syarat utama menghindari stunting.Dari sini terlihat tarik menarik yang kuat antara konsumsi rokok, kejadian stunting, dan kemiskinan.

Hal lebih detil dijelaskan Teguh Dartanto, PhD, Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI sekaligus penanggung jawab penelitian.

“Kami mengamatiberat badan dan tinggi anak-anak (<= 5 tahun) pada 2007 dan kemudian melacak mereka pada 2014 secara berurutanuntuk mengamati dampak perilaku merokok orang tua dan konsumsi rokok pada stunting," jelas dia.

Secara mengejutkan,ditemukan anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan orang tua perokok kronis serta dengan perokok transien cenderung memilikipertumbuhan lebih lambat dalam berat dan tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di rumah tangga tanpa orang tua perokok.

Teguh menambahkan, penelitian ini menegaskan anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak merokok akan tumbuh 1,5 kglebih berat dan 0.34 cm lebih tinggi daripada mereka yang tinggal dengan orang tua perokok kronis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perokok aktif/kronis cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil. Dengan memperhitungkan faktor genetik dan lingkungan dari anak, penelitian ini menegaskan adanya bukti kuat dan konsisten secara statistik bahwa anak yang memiliki orang tua perokok kronis memiliki probabilita mengalami stunting 5.5% lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua bukan perokok.

Selain itu, kondisi stunting ini akan menyebabkan penurunan kecerdasan/kognitif anak. Temuan menarik lainnya adalah peningkatan pengeluaran rokok sebesar 1% (butir persen/percentage point) akan meningkatkan probabilitas rumah tangga menjadi miskin naik sebesar 6%.

Temuan PKJS-UI ini memberikan bukti berharga bahwa mengendalikan konsumsi rokok tidak hanya akan mengurangi prevalensi perokok tetapi juga akan membuat masa depan Indonesia lebih baik dengan menekan stunting;menjaga anak-anak lahir dengan kondisi yang baik, fisik dan kognitif.

Hal sama ditegaskan Guru Besar FKM UI, Prof. Hasbullah Thabrany, kejadian stunting adalah peristiwa penting yang harus segera ditangani pemerintah.

Pasalnya, rokok menjadi salah satu penyebabnya, maka sangat penting pemerintah segera mengambil tindakan mendesak dalam pengendalian tembakau yang juga berfungsi untuk menekan stunting.

Hasbullah mengingatkan, masyarakat dalam musim pemilihan pemimpin nanti untuk memilih pemimpin yang peduli pada masalah rokok kaitannya dengan stunting.

“Mengingat pentingnya, sudah seharusnya stunting menjadi bagian dari agenda politik oleh setiap calon pemimpin dalam berkampanye,” demikian Hasbullah.(rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi