Muhammadiyah dan NU Siap Perbanyak Konten Wasatiyah Islam di Internet

Rabu, 27 Juni 2018 : 19.25
DENPASAR- Kalangan organisasi kemasyarakatan Islam Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama siap untuk memperbanyak konten yang positif Wasatiyah Islam di internet.

Konten terkait wasatiyah Islam harus diperbanyak di internet, karena wasatiyah Islam mampu membendung radikalisme di berbagai belahan dunia.

Hal ini dibahas dalam diskusi selama 3,5 jam yang diadakan Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, pada Selasa 26 Juni 2018, di Aula PGK, Jalan Duren Tiga Raya No 7, Pancoran, Jakarta Selatan.

Diskusi berlangsung pukul 14.00 – 17.30 WIB ini  bertema "Strategi Mempromosikan Wasatiyah Islam Lewat Diplomasi Media Sosial".

Empat narasumber hadir yaitu: Hajriyanto Y Thohari (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020, Wakil Ketua MPR 2009 – 2014), Marbawi (Ketua Yayasan Nusadamai, Ketua Umum GNKRI), Savic Ali (Direktur Pemberitaan Nahdlatul Ulama Online, Pendiri islami.co), Tauhid Nur Azhar (Dewan Pakar Neurosains Indonesia, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung dan C-Gen Indonesia).

Direktur Nahdlatul Ulama Online yang juga pendiri islami.co Savic Ali, menuturkan, NU sudah lama mengamalkan wasatiyah Islam di darat, namun konten-konten yang diproduksi terkait wasatiyah Islam masih minim.

Sekarang alhamdulillah website http://www.nu.or.id/ dan https://islami.co/ sudah mampu bersaing dengan website-website lainnya yang dalam tanda kutip banyak memuat konten radikal.

Pihaknya mengajak siapapun, untuk menulis di kedua website tersebut.

Kata dia, dakwah itu merangkul, namun juga tidak boleh membiarkan akun-akun medsos dan website yang menyebarkan kebencian. Sebab, jika diam mereka merasa apa yang disampaikannya benar sehingga harus diberikan peringatan.

Ibarat sepakbola, kita menahan gocekan bola mereka dengan konten-konten yang baik. Meskipun banyak keterbasan, saya dan teman-teman terus keliling mengajak anak-anak muda memproduksi konten untuk keutuhan dan kemajuan NKRI ini,” ujarnya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020, Wakil Ketua MPR 20014 – 2019 Hajriyanto Y Thohari mengatakan, sama dengan NU, di Muhammadiyah juga masih sedikit produksi konten untuk media sosial terkait wasatiyah Islam.

Terkait konten seperti apa yang akan diproduksi, Hajriyanto menyarankan agar konten-konten tersebut tidak hanya sekedar kata-kata tetapi juga berisi perbuatan nyata di lapangan.

“Di lapangan, kita banyak sekali menemukan praktek-praktek wasatiyah Islam yang dilakukan masyarakat. Ini harus di videokan, ditulis dan disebarkan. Sebab, konten yang berisi teladan-teladan seperti ini lebih kuat dari sekedar kata-kata.

"Kita di Muhammadiyah juga berkomitmen untuk meningkatkan produksi konten terkait wasatiyah Islam,” imbuh Hajriyanto.

Diskusi ini dihadiri para pegiat media sosial, wartawan, humas kementerian agama. Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten mengatakan kegiatan ini bertujuan mendorong setiap orang menjadi juru bicara wasatiyah Islam dengan media sosialnya masing-masing.

“Diplomasi media sosial adalah gotong-royong yang kita lakukan untuk kepentingan nasional NKRI. Sebab, citra baik sebuah negara di mata dunia internasional tidak saja karena pidato pejabatnya di forum-forum resmi, namun juga oleh apa yang diproduksi dan disebarkan oleh warganya di media sosial,” ungkapnya.

Sebelumnya, Indonesia berinisiatif mengadakan Konsultasi Tingkat Tinggi Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada 1 – 3 Mei 2018 lalu di Bogor. Kegiatan ini dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo, dihadiri berbagai ulama dunia termasuk Grand Sheikh al-Azhar, Kairo, Ahmad Muhammad ath-Thayyib. Di akhir pertemuan itu, Din Syamsudin, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban mengatakan bahwa KTT Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada 1 – 3 Mei 2018 di Bogor, Indonesia menyepakati tujuh nilai utama wasatiyah. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi