Konjen Australia Dorong Pemberdayaan Masyarakat yang Netral Plastik

Kamis, 07 Juni 2018 : 17.08
DENPASAR- Inisiatif Waste to Wealth, Konsulat-Jenderal Australia menyelenggarakan lokakarya berjudul ‘How to become a plastic neutral community’ di kantor Konsulat pada hari Rabu 6 Juni 2018.

Lokakarya ini disampaikan oleh Louise Hardman dari Plastic Collective Australia. Kegiatan terakhir diadakan di Bali untuk inisiatif Waste to Wealth, program yang berlangsung selama seminggu yang diselenggarakan oleh Konsulat-Jenderal Australia.

Selanjutnya digelar di Lombok dari tanggal 6 – 7 Juni, termasuk kunjungan ke Selong Selo dan Zona Ekonomi Khusus Mandlika sertaseminar ‘Finding Solutions’ yang akan diadakan di Universitas Mataram.

Inisiatif Waste to Wealth bertujuan untuk mempromosikan praktik pariwisata ramah lingkungan di Bali dan Nusa Tenggara Barat.

"Dengan sekitar 56.000 penumpang yang melewati Bandara Ngurah Rai Bali setiap hari, mengelola limbah dan melindungi lingkungan bukan hanya tantangan bagi pemerintah lokal, kita, masyarakat lokal, pengunjung asing dan individu,semua memiliki andil,” ujar Konsul-Jenderal Australia, Dr Helena Studdert..

Hardman menyarankan, untuk menciptakan komunitas yang plastik-netral didasarkan pada prinsip-prinsip sederhana tentang bagaimana kita melihat plastik sebagai bahan praktis dan berguna yang harus dihargai sebagai sumber daya, tidak dibuang sebagai limbah. Plastik sekali pakai harus dikurangi dan didaur ulang untuk meminimalkan kebutuhan akan plastik baru.

Hardman adalah pengajar ilmu lingkungan Australia yang juga menemukan Shruder, mesin daur ulang plastik yang mengubah sampah plastik menjadi sumber daya praktis.

Mesin ini didesain khusus sehingga dapat dengan mudah dibawa ke komunitas terpencil yang terkena dampak polusi plastik.

Lokakarya ini dihadiri oleh sekitar 50 orang dari berbagai organisasi non-pemerintah, kelompok masyarakat dan individu, termasuk penerima Program Bantuan Langsung (DAP) dari Konsulat-Jenderal Australia,

“Kami berharap dengan mendukung dan memberdayakan komunitas lokal, LSM dan individu melalui lokakarya ini, dan keseluruhan inisiatif Waste to Wealth, kami dapat membantu mengubah sikap terhadap pengelolaan limbah dan terhadap plastik pada khususnya”, kata Dr Studdert.


Dr Studdert melihat bahwa berbagai kegiatan di minggu itu – mulai daripembersihan pantai, lokakarya Waste as Art, kegiatan-kegiatan di universitas, seminar Waste to Wealth di Alila Seminyak pada tanggal 5 Juni, dan lokakarya hari ini - telah sangat berhasil.

“Saya sangat terinspirasi oleh keterlibatan aktif semua tingkat pemerintahan, sektor swasta, masyarakat lokal, desa dan kelompok masyarakat - saya berharap ini akan menjadi awal kerjasama dan kolaborasi untuk secara efektif menangani masalah pengelolaan sampah di Bali”, tambah Dr Studdert. (mal)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi