Kebebasan Pers di Yogya Dinodai Aksi Kekerasan Terhadap Jurnalis

Senin, 04 Juni 2018 : 23.19
ilustrasi/net
YOGYAKARTA- Kasus kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di Yogyakarta menimpa jurnalis media online Sorot.co Edi Setyawan berupa aksi perampasan telepon gengam serta pemukulan dilakukan pelaku.

Kejadian menimpa Edi berlangsung Minggu, 3 Juni 3018 saat dirinya melakukan peliputan kerusuhan antara suporter Persija Jakarta yakni The Jack dengan suporter Persebaya Surabaya yakni Bonek di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Akibat kekerasan iu, Edi mendapatkan sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya akibat peristiwa tersebut.

Edi mengisahkan, kerusuhan antara kedua kelompok suporter tersebut terjadi, dirinya tengah melakukan kegiatan peliputan di sisi utara stadion.

Kerusuhan pecah antara Bonek dan The Jack sekitar pukul 12.30 WIB. Hujan batu dan cacian antara kedua kelompok suporter tak bisa dihindarkan lantaran ketika itu jumlah personel kepolisian tak sepadan dengan banyaknya suporter.

Ketika korban hendak mengambil gambar ketika terjadi perang batu, korban juga ikut dilempari batu.   Tak hanya itu, ia sempat dikeroyok sekitar enam orang berkaus hijau dengan syal hijau yang biasa dikenakan suporter Bonek. Ia mendapatkan pukulan di bagian punggung, pelipis serta lengan bagian kiri.

"Saya menurut ketika mereka meminta saya untuk tidak mengambil foto. Padahal saya sudah menunjukkan kartu pers. Setelah itu saya dikeroyok dan ada satu orang yang mengambil HP yang saya gunakan untuk melakukan kegiatan peliputan," cerita Edi.

AJI Yogyakarta mengecam tindakan kekerasan yang diduga dilakukan suporter Persebaya, Bonek berupa pengeroyokan dan perampasan telepon genggam yang selama ini juga digunakan sebagai alat kerja jurnalistik tersebut.

Tindakan para gerombolan pengeroyok ini  melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Undang-undang ini menegaskan, tindakan kekerasan terhadap jurnalis adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers.

Dalam Undang-Undang Pers,  kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan informasi yang didapat kepada publik dilindungi undang-undang.

Pasal 8 UU Pers dengan jelas menyatakan dalam melaksanakan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum. Pers mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial, seperti diatur Pasal 3.

“Tindakan kekerasan terhadap jurnalis akan menghalangi hak publik untuk memperoleh berita yang akurat dan benar karena jurnalis tidak bisa bekerja dengan leluasa di lapangan. Jurnalis itu bekerja untuk kepentingan publik," kata Koordinator Advokasi AJI Yogyakarta Tommy Apriando dalam rilis  Senin (6/4/2018).

Tommy menambahkan, para pelaku yang merampas alat liputan serta melakukan pemukulan terhadap jurnalis bisa dijerat Pasal 18 UU Pers karena pelaku secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi kemerdekaan pers dan kerja-kerja jurnalistik.

"Ancamannya tak main-main, hukuman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta," sambung
Koordinator Divisi Advokasi AJI Yogyakarta  ini.

Menurut Tommy, masyarakat atau suporter sepak bola seharusnya tidak main hakim sendiri. Para pelaku seharusnya belajar lagi soal hukum yang melindungi kerja-kerja jurnalis.

Bila keberatan pemberitaan di media, gunakan mekanisme protes secara beradab dengan cara melaporkan jurnalis tersebut ke media terkait, atau melaporkan perusahaan media ke Dewan Pers.

Di sisi lain, AJI Yogyakarta juga mengimbau jurnalis mentaati kode etik jurnalistik dan bekerja profesional. AJI Yogyakarta juga mendorong pemimpin redaksi dan perusahaan media memperhatikan keselamatan dan keamanan jurnalisnya yang meliput aksi massa yang berpotensi konflik dan mengancam kerja-kerja jurnalistik dan keselamatan reporternya.

Tak ada berita seharga nyawa. Perusahaan media juga harus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan keamanan jurnalisnya yang sedang bertugas.

Atas kejadian ini, AJI Yogyakarta menyampaikan pernyataan sikap :

1. Mendesak kepolisian Bantul menangkap pelaku pengeroyokan agar para pelaku diganjar hukuman setimpal.

2. Meminta para pelaku dan otoritas organisasi Suporter Persebaya alias Bonek meminta maaf kepada korban serta media yang bersangkutan terkait kejadian yang memalukan ini.

3. Meminta otoritas perusahaan media memberi perlindungan penuh kepada jurnalisnya yang bekerja di lapangan.

4. Meminta para jurnalis agar bekerja secara profesional dan beretika di lapangan sehingga tak ada pelanggaran kode etik yang dilakukan. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi