Kawula Muda di Bali Mulai Tak Berjarak dengan Langgam Keroncong

Jumat, 29 Juni 2018 : 03.00
Pentas langgam keroncong di Bali/foto:Bentara Budaya Bali
DENPASAR- Musik langgam keroncong kian digandrungi kawula muda seiring kerap dipentaskannya kesenian yang cenderung terpinggirkan oleh Bentara Budaya Bali (BBB) yang secara konsisten membuka apresiasi seluasnya bagi musik Keroncong, khususnya di Bali.

Lewat program Langgam Keroncong Bentara, yang telah diselenggarakan berkala sedari tahun 2013, diharapkan akan terbangun komunitas keroncong yang tampil secara berkelanjutan dengan langgam serupa ini.

Selain menghadirkan orkes keroncong terpilih, acara yang kini telah berlangsung hingga seri ke-20 ini, juga akan menghadirkan anak-anak muda dari berbagai genre musik.

Bukan saja sebagai sebentuk apresiasi, namun diniatkan pula untuk lebih mendekatkan publik muda dengan musik keroncong, baik sebagai penikmat maupun pelaku musik.

Langgam Keroncong Bentara merupakan sebuah program sebagai sebentuk apresiasi seraya memaknai ulang karya-karya keroncong sebagai salah satu musik kebanggaan Indonesia yang telah turut mewarnai perkembangan seni di negeri ini.

Sejumlah grup keroncong yang pernah tampil di BBB antara lain: Orkes Keroncong Raos Seni, OK Satria Purna Yudha, OK Made In Tjrong Bali, OK Gita Saraswati, OK Banyu Bening, OK Tembang Abadi, OK Remaja Dewata – Gangga Putra, OK Wirama Sisin Carik, dan banyak lagi.

Pada program Langgam Keroncong Bentara #20 yang berlangsung Jumat (22/6) , tampil grup keroncong inovatif “D’Jahitz Kroncong”, yang diawaki anak-anak muda Bali.

Kelompok yang terbentuk sedari Desember 2015 ini memang sengaja memilih jalur bermusik keroncong, dikreasikan dengan aransemen musik khas mereka sendiri. Tak saja membawakan lagu-lagu keroncong asli, namun D’Jahitz Kroncong juga memainkan lagu-lagu lintas genre dalam alunan langgam keroncong.

Salah seorang penonton Langgam Keroncong Bentara, Kadek Novi Sumariani, mengungkapkan kekagumannya mendengarkan lagu-lagu bernuansa Keroncong. “Dulu pertama kali mendengar keroncong, saya tidak begitu tertarik.

Namun begitu mendengarkan langsung alunan lagu-lagu yang dibawakan oleh D’Jahitz, saya jadi tertarik untuk meresapinya sambil ikut bernyanyi-nyanyi. Terlebih mereka juga membawakan lagu-lagu yang sudah tidak asing buat saya, seperti seperti Joni Agung (Manes-Manesin), Jun Bintang ( Jodoh), Gombloh (Kugadaikan Cintaku), A.A. Made Cakra (Bungan Sandat), Ekajaya (Selem Selem Manis) Okid Kress (Kidung Kasmaran),” ujar mahasiswi Sekolah Tinggi Desain Bali (STD)-New Media ini.

Hal senada juga diungkapkan Ambarani Sumerta Putri, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Udayana. Menurutnya, musik keroncong kini sudah tidak lagi identik dengan tembang lawas yang hanya bisa dinikmati kelompok usia tertentu. Ambarani pun tidak segan ikut bernyanyi dalam sesi open mic, membawakan lagu beraliran pop dengan diiringi alat musik keroncong.

Keroncong menjadi tidak lagi berjarak dengan generasi muda, karena kini terus bermunculan grup-grup keroncong yang juga membawakan lagu-lagu dari genre musik lain dalam alunan keroncong.

Dengan demikian, generasi muda atau kaum milenial saat ini juga dapat menikmati langgam keroncong secara lebih akrab dan dekat. Sebab lagu-lagu yang dimainkan adalah karya-karya yang cenderung sudah sering mereka dengar. Hal tersebut selaras mengenalkan juga musik keroncong asli ke telinga publik milenial.

Ke depan, program Langgam Keroncong Bentara ini akan terus diagendakan secara berkala. Bukan hanya menampilkan grup atau musisi keroncong yang telah mumpuni dan malang melintang di Bali, tetapi juga kelompok-kelompok baru yang terdiri dari anak-anak muda yang tengah berupaya menekuni langgam musik keroncong. (*)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi