Catatan Fathorrahman Fadli: Dawam Rahardjo, Intellectual Par Excellent

Jumat, 01 Juni 2018 : 06.40
Prof Dawam Rahardjo/foto:suara muhammadiyah
Salah satu cara melihat orang itu besar adalah melahirkan orang-orang besar. Dan, salah satu contoh orang besar itu adalah Profesor M. Dawam Rahardjo. Dawam dikenal luas sebagai pemikir jempolan atas banyak topik dan masalah diseputar Keislaman, kemasyarakatan, politik dan ekonomi yang berpihak pada umat dan bangsa.

Nama Dawam Rahardjo sebagai pemikir, sejatinya sudah jauh menggema sejak beliau masih menjadi aktivis mahasiswa di UGM. Rentetan pemikiran Dawam terekam secara alegoris dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam yang diterbitkan oleh LP3ES. Walau buku tersebut merupakan catatan Harian Ahmad Wahid, namun terlihat jelas disana bahwa Wahib menaruh kekaguman yang khusus pada lintasan-lintasan pemikiran Dawam Rahardjo yang bernas dan melaju jauh ke masa depan. 

Sebagai intelektual, Dawam selalu terlibat dalam diskursus-diskursus yang mengetengahkan tema-tema yang berat nan filosofis. Dawam cenderung mendalami masalah dari akarnya, dan bukan dari ranting dan daunnya. Dari sana ia bisa mengerti kenapa ranting itu patah dan daunnya menguning, lalu kering lantas jatuh ke tanah.

Dawam terbiasa berfikir lateral ala Edward De Bono, dan bukan berfikir linear ala fisikawan atau matematikus. Dawam menyukai dialektika yang tumbuh dan berkembang atas masalah-masalah sosial ekonomi, politik, dan kemasyarakatan yang sedang berkembang saat itu.

Sastrawan Gunawan Muhammad dalam suatu seminar yang sempat saya hadiri di Universitas Paramadina misalnya melihat pemikiran Dawam Rahardjo selalu baru, up to date, walau terkadang tidak menarik minat semua orang. Itu karena tema-tema yang Dawam bawakan adalah tema-tema yang serius dan merupakan masalah yang mendasar yang dihadapi bangsa saat itu.

Selaku intelektual, Dawam banyak melahirkan buku, jurnal ilmiah, dan hasil riset. Beberapa bukunya antara lain, “Esei-esei Ekonomi dan Politik (Jakarta, LP3ES, 1983), Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja (Jakarta, UI Press, 1985), Perekonomian Indonesia: Pertumbuhan dan Krisis (Jakarta, LP3ES, 1986), Persepektif Deklarasi Makkah: Menuju Ekonomi Islam (Bandung, Mizan, 1993), Etika Bisnis dan Manajemen, Kapitalisme Dulu dan Sekarang (editor, Jakarta, LP3ES, 1986), Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa (Bandung, Mizan, 1992), Bumi Manusia dalam al-Quran, dalam Insan Kamil, Konsepsi Manusia Menurut Islam (Jakarta, Pustaka Grafiti, 1985).

Meski karya intelektualnya banyak menginspirasi deretan intelektual muslim Indonesia seperti Komarudin Hidayat, Fachry Ali, Bahtiar Effendi, Jimly Assiddiqie, Azyumardi Azra, Budi Munawwar Rahman, Yudi Latif, Namun Dawam lebih berwajah seorang cendekia dibanding seorang ahli. Watak kecendekiaannya itu sangat terlihat dari keberaniannya melintas batas disiplin ilmu ekonomi yang ditekuninya selama kuliah di UGM. Dawam lebih suka menjadikan ilmu ekonominya itu sebagai jembatan intelektual (intellectual bridge) untuk mengantarkan dirinya sebagai seorang cendekia yang jujur atas berbagai masalah bangsanya.

Tidak seperti para ahli yang kerapkali tunduk pada situasi dan pesanan para penguasa. Dawam leluasa berkubang dalam lembaga-lembaga nirlaba, Kampus, LSM, Pusat studi, dan aktivitas sosial keagamaan yang sepi dari kenikmatan bendawi dan pernik-pernik politik. Dari situ ia bebas memberikan kritik, gagasan, dan pendapat yang lebih independen. Dawam tidak pernah tertawan oleh situasi yang melingkupinya. Ia cenderung berkata benar dan bersikap benar serta bertindak atas apa yang ia pihaki sebagai sesuatu yang benar.

Sebagai cendekia, Dawam Rahardjo akrab dengan tema-tema Quranic yang  selalu ia dekati dengan ilmu-ilmu sosial modern. Dari situ itu ia kerapkali disalahtafsirkan sebagai liberal. Perkara liberal ini sesungguhnya bukanlah perkara baru yang merisaukannya. Sebab sejak muda ia sudah sangat akrab dengan pikiran-pikiran liberalistik bersama Djohan Effendi, Ahmad Wahib, Nurcholish Madjid, Mukti Ali, hingga Harun Nasution.

Dawam akrab dengan cara berfikir alegoris yang kerapkali menyajikan makna-makna dibalik kata, teks,  atau bahkan simbol. Pesan moral apa yang terkandung dari teks-teks Quran itulah yang menjadi konsern dari Dawam. Bagi mereka yang tidak akrab dengan tafsir alegoris seperti itu maka mereka cenderung memasukkan Dawam sebagai faksi kaum liberal.

Walaupun dalam derajat tertentu “sarung liberal” pada Dawam itu agak sedikit menganggu citranya sebagai cendekiawan muslim. Citra Dawam sebagai bagian dari kaum liberal itu biasanya muncul dari kalangan skripturalis yang seringkali menafsirkan teks Quran secara apa adanya.

Dawam berusaha mendudukkan pesan moral Islam dalam al-Quran didalam bingkai sosio kultural dan sosial politik. Mengapa? Agar pesan moralitas Quran tersebut membumi (down to earth) hingga mudah dipahami dan menjadi budaya masyarakat baru di Indonesia. Sebagaimana Nurcholish Majid, Dawam juga sepakat bahwa Umat Islam Indonesia harus dirangsang atau distimulasi dengan pemikiran-pemikiran baru yang lebih progresif agar dapat menerima kenyataan-kenyataan baru yang serba tidak menentu. Dari sinilah, pemikiran Dawam menjadi relevan untuk menjadi rujukan dari setiap aksi-aksi sosial politik dan ekonomi.

Dawam sangat rajin membahas tema-tema dasar dalam Quran dengan metode multiside perspective. Ia mampu meramu berbagai pemikiran dari pemikir timur dan barat terkait topik yang dibahasnya.

Misalnya ketika ia berusaha membahas soal “taqwa”, Dawam berusaha mengetengahkan pemikiran Prof. T. Izutsu yang karyanya banyak diminati oleh para pengarang Muslim modern di dunia. Taqwa dalam pemahaman tradisional kita dimaknai sebagai “takut kepada Tuhan” yang dilaksanakan dengan menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya.

Namun Dawam justru berani mengetengahkan pemikiran Izutsu bahwa Taqwa itu merujuk pada kondisi sosio kultural bangsa Arab yang memiliki sifat angkuh, kesombongan, agar bangsa Arab menurunkan rasa takabburnya yang dinilai berlebihan itu, hingga muncul rasa takut pada Allah.

Izutsu melihat inilah sebuah gebrakan yang diangkat oleh al-Quran dalam membangun budaya baru yang lebih beradab.

Secara sederhana, konsep taqwa itu kemudian ia letakkan dalam bingkai sosio kutural masyarakat Arab saat itu.

Tema-tema mendasar lainnya yang coba diketengahkan Dawam adalah, al Adl (keadilan), Ummat, Hanif, Fitrah, Din, Amanah, Rahmah, Islam, Ruh,, Nafs, Fasiq, Syura, Khalifah, Ulul Amri, Zhalim, Madinah, Riba, Ulul Albab, Rizq, Jihad, dan Ilmu. Semua tema-tema mendasar itu ia tafsirkan secara alegoris dalam bukunya, Ensiklopedia Al-Quran, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci.

Keberanian Dawam dalam menafsirkan tema-tema pokok dengan tafsir ilmu-ilmu sosial modern yang metodologis di atas menyebabkan Dawam dikelompokkan sebagai tokoh kaum liberal. Namun itulah resiko yang harus diterima secara lapang dada, dan harus dipahami sebagai ongkos yang harus dibayar oleh seorang pembaharu pemikiran Islam.

Selaku tokoh cendekiawan muslim, Dawam menaruh perhatian khusus akan pentingnya toleransi. Menurutnya, pluralisme merupakan sebuah jalan menuju kedamaian. Dawam menyadari bahwa toleransi menjadi kata kuncinya. Suatu saat dirinya mengaku belum bisa bersikap toleran; ia merasa harus terus-menerus membenci dan menolak segala sesuatu yang berbeda darinya. Namun setelah toleran, ia merasa mendapat kasih sayang lebih banyak. Dawam juga menyakini bahwa toleransi adalah kunci menuju kemajuan. Dawam menampik pandangan bahwa toleransi menyebabkan kita menjadi lemah. Justru dengan bersikap toleran akan memacu seorang muslim bisa memahami akidahnya dengan lebih baik.

Menurut pengakuan para kawan sejawat, sahabat dekat, junior dan para pengagumnya, Dawam Rahardjo yang akrab dipanggil Mas Dawam ini memiliki kepribadian yang terpuji. Mas Dawam dikenal luas sebagai intelektual dan cendekiawan yang sejati. Sekalipun seorang yang kutu buku, Dawam juga tidak bebas sepenuhnya dari aktivitas sosial politik. Ia juga termasuk tokoh yang ikut membidani berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim.Indonesia (ICMI), Partai Amanat Nasional (PAN) bersama Amien Rais, peneliti hingga menjabat  Direktur LP3ES.

Dawam pernah menjadi ketua dari ICMI se-Indonesia, pemimpin Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur'an, dan ketua yayasan ELSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat.

Selain itu, Dawam juga dikenal sebagai seorang sosok multidimensi, karena ia adalah seorang ahli ekonomi, pengusaha, budayawan, cendekiawan, juga aktifis LSM, pemikir Islam dan juga penafsir.

Dawam lahir di Solo  pada tanggal 20 April 1942. Dawam adalah anak sulung dari delapan bersaudara dari pasangan Muhammad Zuhdi Rahardjo dan Muthmainnah. Meski lahir di lingkungan keluarga yang sederhana, namun ia telah berprestasi sejak kecil.

Semasa kecil, ia banyak belajar mengenai ilmu-ilmu agama, seperti mengaji, menghafal beberapa surat dalam Juz 'Amma, dan juga dasar-dasar pendidikan agama seperti bahasa Arab, Tafsir, Fiqih, dan Hadis. Ia juga sempat belajar ilmu tajwid di Pesantren Krapyak selama satu bulan.

Pendidikannya dimulai di Madrasah Bustanul Athfal Muhammadiyah (setara TK) Kauman. Lalu ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Masjid Besar Solo.

Dikisahkan, ketika ia melanjutkan ke sekolah dasar di Sekolah Rakyat Logi Wetan, Dawam langsung ditempatkan di kelas 2. Pada waktu itu, ia juga masih sekolah di Madrasah Al-Islam pada sore harinya, tempat dimana Amien Rais juga menimba ilmu. Setelah lulus sekolah dasar, lantas melanjutkan pendidikannya di SMP 1 Solo dan lulus pada tahun 1957. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya di SMA Manahan dan lulus pada tahun 1961.

Lulus SMA, Dawam sempat mengikuti AFS (American Field Service) dan menjadi siswa di Borach High School, Idaho, Amerika Serikat selama satu tahun. Sepulangnya dari Amerika Serikat, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1969.

Sejak saat itu, karir akademiknya pun terus meroket. Pada tahun 1993, ia sudah menjabat sebagai Guru Besar Ekonomi Pembangunan di Universitas Muhammadiyah Malang, dan sekaligus menjadi Rektor Universitas 45 di Bekasi.

Dalam meniti karir, Dawam pernah bekerja sebagai Staf di Departemen Kredit Bank of America, Jakarta pada tahun 1969. Tapi setelah dua tahun bekerja di perusahaan tersebut, ia memutuskan berhenti. Selepas dari Bank of America, Dawam kemudian bergabung di LP3ES (Lembaga Penelitian dan Pembangunan Ekonomi-Sosial) sebagai Staf peneliti. Waktu pun berjalan, posisinya pun merangkak naik menjadi Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan hingga akhirnya menjadi direktur. Pada saat di LP3ES inilah, pengetahuan Dawam tentang ekonomi kerakyatan bertambah. Sejak itu, tulisan maupun esainya mengenai ekonomi dan politik tersebar di media massa.

Sekira 10 tahun di LP3ES, minat Dawam pada dunia LSM semakin besar. Ia pernah ikut merintis sekaligus memimpin beberapa LSM, antara lain: Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan, Lembaga Studi Pembangunan (LSP), Pusat Pengembangan Agribisnis (PPA), dan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF).

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari seorang Dawam?

Pertama, Dawam adalah sosok cendekia yang clear dalam pemikiran dan perbuatan. Ketekunannya dalam membaca dan menulis membuatnya menjadi sosok yang patut teladani oleh para generasi muda.

Kedua, Dawam memiliki pandangan ekonomi kerakyatan yang kental khas Indonesia. Pikiran-pikiran ekonominya perlu diimplementasikan menjadi tindakan nyata, agar kehidupan ekonomi umat yang terpuruk bisa bangkit sejahtera.

Ketiga, secara politik Dawam merasa perlu melahirkan partai yang reformis dan modern serta mampu meraih kepercayaan penuh dari rakyat agar bisa memimpin bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang bermartabat.

Keempat, Dawam menganjurkan pentingnya sikap toleran dikalangan umat agar mampu memacu kemajuan. Namun sayangnya, anjuran toleran tersebut masih terhenti pada sikap keberagamaan. Dawam belum sampai pada usaha meneriakkan pentingnya sikap toleransi dibidang ekonomi dari para konglomerat Tionghoa yang menguasai aset-aset ekonomi nasional secara tidak proporsional.

Lepas dari semua kehebatan dan kekurangan yang dimiliki oleh Dawam Rahardjo, ia tetaplah sosok yang layak diteladani. Kini sosok itu telah tiada, meninggalkan kita semua untuk selamanya, menghadap Ilahi Rabbi, Allah azza qa jalla. Selamat jalan Mas Dawam, semoga Allah memasukkannya ke Surga..Amiin…

Oleh Fathorrahman Fadli, wartawan senior dan kader PAN




Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi