Sosok Dawam Rahardjo di Mata Akademisi Unair Dr Purnawan Basundoro

Kamis, 31 Mei 2018 : 14.06
Almarhum Prof Dawam Rahardjo/foto:suara muhammadiyah
DAWAM RAHARDJO Sebagian besar kaum intelektual, akademisi, penggiat LSM, dan aktivis mahasiswa tahun 1980-2000an pasti mengenal atau pernah mendengar nama Dawam Rahardjo.

Beliau adalah aktivis sekaligus kaum intelektual terkemuka selama periode tersebut. Nama besarnya selalu dilekatkan dengan keberadaan jurnal terkemuka PRISMA serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang menaungi penerbitan jurnal tersebut.

LP3ES bukan saja merupakan lembaga penerbitan yang menerbitkan Jurnal PRISMA dan buku-buku yang amat bermutu, namun yang lebih penting lembaga ini juga merupakan sebuah LSM yang telah menggerakan ribuan masyarakat di berbagai pelosok Indonesia selama periode 1980an sampai awal tahun 2000an. Dan di sana Bang Dawam Rahardjo adalah inti dari gerakan tersebut.

Secara pribadi saya tidak mengenal beliau secara langsung. Saya mengenal beliau dari tulisan-tulisan beliau yang dimuat di jurnal-jurnal dan berbagai buku. Saya senang dengan tulisan beliau terutama analisis ekonominya yang sering menggunakan pendekatan politik.

Kebetulan saya menulis skripsi tentang pengelolaan minyak bumi di Indonesia sejak masa kolonial sampai tahun 1960an, dan pendekatan yang saya gunakan adalah ekonomi-politik. Jadilah saya meminjam istilah dari beliau yang ditulis di buku dan di Jurnal PRISMA.

Buku penting beliau yang saya gunakan adalah yang berjudul "Pragmatisme dan Utopia, Corak Nasionalisme Ekonomi Indonesia," yang diterbitkan oleh LP3ES tahun 1992. Adapun tulisan beliau di Jurnal PRISMA yang saya acu adalah yang berjudul "Pendekatan Historis Struktural, Menemukan Format Pembangunan," yang dimuat di Jurnal tersebut nomor 10, Oktober 1986.

Dawam Rahardjo adalah seorang ekonom, namun ia sangat mempercayai ilmu sejarah sebagai basis analisis. Salah satu premis yang dikemukakan oleh Dawam Rahardjo dalam Pendekatan Historis Struktural yang kemudian saya jadikan pedoman dalam penulisan skripsi saya adalah bahwa suatu teori dalam ilmu-ilmu sosial bisa mempersenjatai ilmu sejarah dengan penglihatan yang lebih tajam dan menghasilkan makna dari hasil kajiannya.

Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Sartono Kartodirdjo yang baru diterbitkan beberapa tahun kemudian setelah tulisan Dawam Rahardjo terbit.

Dawam Rahardjo, lengkapnya Muhammad Dawam Rahardjo, lahir di Kampung Baluwerti Solo, 20 April 1942. Ayahnya bernama Zudhi Rahardjo yang berasal dari Desa Tempursari yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren “Jamsaren”. Solo.

Zudhi mengenyam pendidikan di Madrasah Mamba’ul Ulum sambil belajar di Pesantren Jamsaren. Zudhi Rahardjo kemudian menekuni wirausaha dengan membuat benang pintal yang merupakan bahan pembuat kain. Karena itulah, Zudhi menginginkan agar Dawam Rahardjo kelak meneruskan usaha yang telah digeluti selama bertahun-tahun.

 Namun nampaknya jiwa Dawam Rahardjo tidak di sana, karena sejak kecil ia amat gemar membaca buku, apalagi ayahnya tidak pernah menolak jika Dawam Rahardjo meminta uang untuk membeli buku.

Pendidikan paling awal dilakoni di Busthanul Athfal Aisyah di Kauman Solo, kemudian melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di tempat yang sama. Dawam juga masuk sekolah umum al Rabitha al-Alawiyah dikelas satu. Di sekolah itu, teman-teman sepermainannya adalah anak-anak dari keluarga keturunan Arab.

Diantara temannya adalah Abdillah Toha (pernah menjadi Ketua Partai Amanat Nasional (PAN), Anis Mustafa Hadi (Pemimpin Umum Majalah Umat) dan Nabil Makarim. Selain itu Dawam Rahardjo juga sekolah di Dawam masuk Sekolah Rakyat (SR) setingkat sekolah dasar di Loji Wetan, yang letaknya tepat dimuka “Pasar Kliwon”. Karena mendapat nilai ujian terbaik di SD, ia berhasil masuk ke SMP I (satu) yang dianggap sebagai sekolah elit setingkat SLTP di Solo. Di sekolah ini ia berada satu atap dengan Sri Edi Swasono dan Sri Bintang Pamungkas.

Sewaktu duduk dikelas 2 SMP, Dawam Rahardjo dikenal pandai mengarang dan mempunyai nilai tertinggi dalam tata bahasa Indonesia. Pada kelas 3 SMP Dawam Rahardjo sudah berminat pada kesusastraan. Dimasukinya Perkumpulan Peminat Sastra Surakarta (HPSS) yang diketuai oleh Moes PS, seorang perempuan penyair.

Dawam Rahardjo juga menjadi anggota Remaja Nasional, sebuah ruang sastra dari Harian Nasional Yogya dan disitulah sajak-sajaknya dimuat. Selepas SMP ia melanjutkan ke SMA di Manahan. Dan selepas SMA ia sempat mengikuti program AFS (American Field Service), sebuah program yang memfasilitasi pelajar-pelajar Indonesia untuk berkunjung dan tinggal di Amerika Serikat selama kurang lebih satu tahun. Pendidikan tingginya ia selesaikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, konsentrasi pada Studi Ekonomi Pembangunan. Selama studi ia banyak bergiat di dunia kemahasiswaan dengan masuk ke organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Peranannya di HMI sebagai pemikir dan idiologinya banyak dicatat oleh Ahmad Wahid dalam buku hariannya yang diterbitkan oleh LP3ES,”Pergolakan Pemikiran Islam”. Ahmad Wahid memandang sosok Dawam Rahardjo sangat menaruh minat terhadap masalah perkaderan.

Di organisasi HMI Dawam Rahardjo dan teman-temannya seperti Ahmad Wahid, Djohan Efendi, Nasrudin Razak, menggagas kelompok diskusi yang bernama Limited Group yang diketuai oleh Prof. Mukti Ali, mantan Menteri Agama, dimana mereka menjadi anggota intinya. Kelompok ini dikenal sangat dinamis dan terbuka dengan aliran-aliran modern.

Selepas kuliah di Yogyakarta ia sempat bekerja di Bank of Amarica namun tidak kerasan. Ia merasa jiwanya tidak berada di lembaga perbankan. Ia lebih nyaman menjadi aktivis, sehingga atas informasi dari Mari'e Muhammad bahwa LP3ES sedang membutuhkan tenaga, Dawam Rahardjo pun masuk lembaga tersebut.

Di lembaga itulah ia bergelut dengan berbagai pemikiran dan gerakan pemberdayaan masyarakat. Sebagian besar intelektual dan akademisi yang berkembang sejak tahun 1980an merupakan murid-murid beliau, yang menyerap ilmu beliau secara langsung maupun melalui karya-karya hebat beliau yang tersebar di berbagai buku, jurnal, maupun surat kabar.

Dan semalam saya mendapat berita yang cukup mengagetkan bahwa Bang Dawam Rahardjo telah berpulang. Selamat jalan Bang Dawam Rahardjo, semoga damai di sisi-Nya.

Oleh: Dr Purnawan Basundoro, akademisi Unair, Surabaya

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi