Gelar Pameran Foto Tragedi Mei 1998, AJI Ingatkan Cita-cita Reformasi

Senin, 21 Mei 2018 : 22.13
JAKARTA- Foto-foto kejadian tragedi bulan Mei tahun 1998 menandai gerakan reformasi kembali dipamerkan oleh AJI Indonesia sebagai momentum untuk mengingatkan masyarakat tentang cita-cita reformasi yang belum tercapai.

Masa Orde Baru, pers mendapat tekanan dari penguasa dalam beragam bentuk, mulai dari pencabutan izin terbit, sensor pemberitaan dalam bentuk telepon dari "tangan-tangan" penguasa agar sebuah berita tidak ditebitkan/ ditayangkan.

Meski demikian sebagian media dan jurnalis yang tergerak menyampaikan informasi dan kebenaran kepada publik.

Karena itu memperingati 20 Tahun Reformasi, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan Pameran Foto Dokumentasi Reformasi 1998.

"Salah satu pekerjaan rumah Indonesia masa reformasi adalah penegakan hukum. Ia menyoroti praktik impunitas yang masih berlangsung," ujar Sekjend AJI Indonesia Revolusi Reza Zulvendri,  saat membuka pameran di LBH Jakartam Minggu 20 Mei 2018.

Polisi belum mampu menuntaskan kasus pembunuhan yang menimpa 11 jurnalis yang terjadi sejak tahun 1996.  Selain itu banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis yang telah dilaporkan ke aparat penegak hukum tidak ditangani serius.

 “Organisasi massa masih bebas membubarkan acara diskusi atau menggeruduk dan menekan ruang redaksi,” tandasnya.

“Kondisi ini membuat kebebasan pers di Indonesia di era 20 tahun reformasi masih memiliki problematika yang cukup besar,” kata Reza.

Karenanya, AJI menggelar pameran foto ini sekaligus untuk mengingatkan tujuan dari reformasi 20 tahun lalu.

“Peringatan 20 Tahun Reformasi ini kita lakukan untuk melawan lupa karena masih banyak agenda reformasi yang belum tertuntaskan hingga hari ini,” ujarnya.

Foto-foto yang dipamerkan ini adalah karya Rully Kesuma. Saat peristiwa Reformasi 1998 terjadi Rully bekerja untuk Majalah D&R, salah satu majalah politik terkenal saat itu. Rully mengatakan tidak banyak foto peristiwa reformasi yang bisa diselamatkan.

 “Ada 40 foto reformasi yang bisa diselamatkan, 20 foto dipamerkan ini di antaranya,” ujarnya saat pembukaan.

Ia mengatakan foto peristiwa seputar kejadian di bulan Mei 1998 dari kerusahan, penjarahan di Jakarta, hingga pemakaman salah satu mahasiswa Universitas Trisakti yang tertembak aparat merupakan hasil scan ulang foto ukuran 3R.

“Tidak ada lagi negatif filmnya, sehingga foto tampak pecah,” kata fotografer yang tidak lolos screening menjadi jurnalis foto di Istana Presiden karena menolak Dwi Fungsi ABRI ini.

Pameran foto ini akan berlangsung 20-22 Mei 2018 di LBH Jakarta, Jl. Diponegoro 74, Jakarta Pusat. Pameran dibuka setiap hari pukul 11.00 WIB. Pada 22 Mei, pameran foto akan akan ditutup dengan diskusi “20 Tahun Reformasi: Mengeja Peran Jurnalis” menghadirkan jurnalis Desi Anwar, Rully Kesuma dan Bina Bektiati. Mereka adalah jurnalis yang tetap idealis selama masa Orde Baru.

Foto-foto yang dipamerkan diterbitkan dalam bentuk buku elektronik. AJI dengan dukungan dari International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) menerbitkan buku foto “Dokumentasi Foto Reformasi 1998”.

Buku elektronik tersebut dapat didownload di website AJI atau mengklik tautan berikut https://bit.ly/2rXJNQL.

Senior Program Officer HAM dan Demokrasi INFID, Mugiyanto mengatakan kumpulan foto-foto peristiwa reformasi sebagai pengingat dan edukasi bagi publik.

“Khususnya generasi muda saat ini,” ujarnya, Foto-foto ini penting karena memperkaya dan memberi makna reformasi lebih dari sekedar peristiwa ataupun kronologi di dalam tulisan sejarah.

Selain menggelar kegiatan di atas, berkolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat sipil dalam Panitia Bersama #20TahunReformasi, AJI juga mengikuti Aksi 20 Tahun Reformasi yang berlangsung 21 Mei 2018. Massa dari berbagai organisasi akan berkumpul di Patung Kuda dan bergerak ke depan Istana Presiden, menyampaikan agenda reformasi yang belum tuntas. (rhm)


Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi