Desa Adat Sempidi dan Kwanji Jadi Percontohan Inovasi "Batik"

Senin, 28 Mei 2018 : 07.50
Kadis DKLH I Putu Eka Merthawan
BADUNG-  Desa Adat Sempidi dan Kwanji di Kecamatan Mengwi telah ditetapkan sebagai desa adat percontohan inovasi Badung Anti-Kantong Plastik "Batik"

Penetapan itu disampaikan Wakil Bupati Badung, Ketut Suiasa, saat peluncuran Batik di Desa Adat Sempidi, Mengwi, Badung, Minggu 27 Mei 2018.

Selain meluncurkan program Batik, Wabup Suiasa menetapkan Desa Adat Sempidi dan Desa Adat Kwanji sebagai desa adat percontohan.

"Namun, kami harapkan tentu saja kedepan seluruh desa adat di Badung bisa membuat `perarem` atau aturan tertulis agar berkesinambangan program inovasi Batik ini," katanya.

Desa Adat Sempidi dan Desa Adat Kwanji sebagai desa percontohan inovasi Batik merupakan desa pertama di Bali bahkan indonesia yang secara terintegrasi mengurangi penggunaan kantong plastik melalui berbagai komponen seperti banjar adat, PKK, Pasar Adat, sekolah, Kantor Lurah dan Puskesmas.

Dalam kesempatan itu, Kepala DLHK Badung, I Putu Eka Merthawan mengatakan, dipilihnya Desa Adat Sempidi dan Kwanji sebagai percontohan inovasi Batik telah dipertimbangkan dan bukan tanpa alasan.

"Yang pertama, secara geografis Sempidi dan Kwanji paling dekat dengan ibu Kota Badung yakni Mangupura dan Puspem Badung," sebut dia.

Dipilihnya kedua desa tersebut terutama selain alasan geografis juga karena warga Desa Adat Sempidi dan Kwanji memiliki semangat tinggi dalam merealisasikan program Batik yang sejalan dengan visi dan misi Pemkab Badung melalui konsep Tri Hita Karana.

"Konsep tersebut adalah hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan lingkungan," ungkap Merthawan

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung, Bali, meluncurkan program inovasi "Batik" (Badung Anti-Kantong Plastik) untuk melengkapi program Gotik (Gojek Sampah Plastik) guna mewujudkan Badung yang peduli lingkungan.

"Inovasi Batik merupakan program yang berbasis kearifan lokal dengan memberi ruang dan kewenangan penuh kepada desa adat untuk mengatur penggunaan kantong plastik," sambung Suiasa.

Pihaknya berharap sistem pengelolaan yang benar, maka sampah plastik tidak membahayakan lingkungan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

"Dengan begitu, inovasi Batik ini dapat memiliki manfaat yang nyata untuk mengurangi penggunaan kantong plastik," demikian Suiasa. (rhm)


Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi