Murni Bisnis Karaoke, Manajemen 888 KTV Bali Bantah Siapkan Layanan Plus

Rabu, 11 April 2018 : 19.51
Diwakili kuasa hukum, manajemen 888 KTV Bali berikan klarifikasi
DENPASAR- Manajemen Triple Eight KTV Bali menegaskan tidak pernah memberikan fasilitas layanan plus atau kegiatan prostitusi sebagaimana informasi dan pemberitaan yang dinilai melenceng dari fakta sehingga sangat merugikan bisnis karaoke yang dikelolanya.

Lewat kuasa hukum dari Kantor 4 Pilar Law Office, Triple Eight (888) KTV berlokasi di lantai 2 sebuah hotel di Jalan Raya, Kuta, Badung, memberikan klarifikasi dan bantahannya kepada wartawan, Rabu (11/4/2018).

"Pemberitaan yang ada dan informasi yang beredar di media sosial, jelas membunuh karakter bisnis klien kami," tegas I Wayan Puspa, salah satu kuasa hukum.

Dari pemberitaan yang muncul di media cetak dan online, dinilai telah melenceng dari fakta sebenarnya. Isi atau konten dalam berita yang muncul paska kejadian 9 April 2018, setelah dicermati tidak mengandung kebenaran.

Karena itu, pihaknya menyampaikan nota keberatan dan protes, seperti disebut telah terjadi penggerebekan di dalam karaoke, padahal faktanya peristiwa itu terjadi di kamar hotel, bukan di areal karaoke.

Yang disayangkan lagi, telah ada penghakiman dalam pemberitaan itu dengan menyebutkan 888 KTV Bali sebagai penyedia prostitusi dibuktikan dengan ditangkapnya belasan pekerja seks komersial (PSK).

"Pada kesempatan ini, kami tegaskan bahwa karaoke 888 KTV Bali, tidak pernah menyediakan prostitusi," tandas Purna.

Jika kemudian, ada pegawai atau pemandu lagu terlibat dalam praktek prostitusi sepenuhnya merupakan oknum dan tanggungjawab yang bersangkutan bukan menjadi kewenangan manajemen.

Purna lalu menjelaskan kronologis peristiwa tersebut yang sejatinya tidak ada sangkut paut secara langsung dengan pihak manajamen.

Banyak fakta yang menurutnya, penuh keganjilan hal itu diperkuat dengan keterangan dan bukti-bukti baik dari keterangan saksi pegawai dan pemandu lagu.

"Melihat peristiwanya, patut diduga sebagai jebakan, semua didesain, by design, saya tidak menuduh tetapi patut diduga karena kejanggalan kalau dilihat kronologisnya, " sambung Tjokorda Alit Budi Wijaya, kuasa hukum lainnya.

Pihaknya memandang perlu melakukan klarifikasi, agar persepsi yang muncul di masyarakat tidak semakin buruk, terhadap bisnis karaoke yang baru beroperasi sejak bulan Agustus 2018. Karaoke yang dikelola sepenuhnya murni untuk hiburan bagi keluarga seperti menikmati musik sembari minum.

"Berita yang muncul sudah menghakimi kami, terjadi pengingkaran terhadap privacy kami, sehingga patut diduga ini sebagai pembunuhan karakter bisnis klien kami," tegas Alit.

Terhadap kasusnya yang telah bergulir di jalur hukum, pihaknya mempersilakan saja dan akan taat mengikuti proses dan aturan hukum.

Di pihak lain, sebagai konsekuensi dan tanggungjawab terhadap kasus tersebut, meskipun harus merugi cukup besar, dengan pemberitaan miring itu, termasuk puluhan karyawan harus dirumahkan, manajemen 888 KTV Bali memutuskan menghentikan operasional karaoke. (rhm)











Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi