Terbiasa Hidup Susah, Koster Siap Ngayah untuk Kesejahteraan Rakyat Bali

Sabtu, 03 Maret 2018 : 09.24
Cagub Bali I Wayan Koster saat menui warga Kabupaten Klungkung
KLUNGKUNG - Dengan latar belakang keluarga miskin setelah merengkuh kesuksesan dalam hidup kini calon Gubernur Bali I Wayan Koster ingin mengabdikan diri jiwa dan raga untuk membangun Bali dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Jika meniliki perjalanan hidup Koster, penuh dengan penderitaan dan perjuangan tak kenal menyerah. Terlahir dari keluarga miskin 20 Oktober 1962 di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, sejak kecil Koster tumbuh dalam kondisi kekurangan.

Calon Gubernur Bali nomor urut 1 itu menceritakan getir hidup yang pernah dialaminya. Tak ada rasa malu, Koster menceritakan dengan polos apa yang dialami 56 tahun silam.

Semua itu, dia ceritakan dengan blak-blakan tak ada yang ditutupi di hadapa ratusan warga Puri Akah, Kabupaten Klungkung pada acara konsolidasi partai pengusung Koster-Ace dan paket BAGIA, Jumat 2 Maret 2018.

"Saya lahir dari kemiskinan, miskin sekali, hidup serba susah. Di desa tidak punya apa-apa. Saya lahir di tanah, makan apa adanya saja" cerita bapak dua anak ini memulai kisah perjalanan hidupnya.

Kendati berlatar belakang keluarga papa, namun tidak lantas membuatnya patah arang. Berkat tempaan kemandirian dari keluarga, Koster mampu bertahan hidup dengan apa yang dimiliki.

Dengan keterbatasan dimiliki, tidak membuat Koster kecil hati dia justru terpacu untuk mengubah hidup dengan belajar dan terus belajar dan disiplin.

Dorongan kuat untuk mengubah hidupnya membuat Koster terus bertahan menjalani hidup. Kesungguhan kegigihan pria berperawakan kecil ini perlahan membuahkan hasil. Ida Sang Hyang Widhi Wasa merestui langkah Koster yang memiliki impian dan cita-cita besar suskes dalam hidup bermanfaat bagi sesama.

Koster yang memiliki semangat belajar tinggi, akhirnya menemui sang paman untuk membantu dirinya demi dapat bersekolah ke jenjang SMP. Untungnya, Sang Paman yang tinggal di Kota Singaraja, menampungnya selama ia bersekolah.

Sadar dirinya hidup menumpang, Koster membalas kebaikannya, membantu mencuci atau membersihkan rumah sang paman. Selepas tiga tahun masa pendidikan menengah di SMP Bhaktiyasa ia melanjutkan ke SMA Negeri Singaraja di tahun 1981.

Lulus SMA, Koster mencoba peruntungan mengikuti tes di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali dan Fakultas MIPA di Institut Teknologi Bandung (ITB). Koster kemudian memilih kampus ternama ITB

Pendidikan mengubah jalan hidupnya. Dia menjadi satu dari sedikit putra Bali yang berhasil tembus di kampus bergengsi Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat. Hingga kini, Koster mengaku tak pernah berhenti belajar, sebab ia meyakini belajar adalah proses yang harus ditempuh seumur hidup.

Baginya belajar tidak terbatas di bangku sekolah atau kuliah, sebab sesungguhnya berbagai hal yang dijumpai, diamati, dan dialami, dapat menjadi guru yang baik untuk lebih memanusiakan kemanusiaan seseorang.

Benar saja semangat belajar yang tak pernah kendur, meskipun sudah bekerja mapan diapun ingin meneruskan kuliah ke jenjang S2. Akhirnya Koster berhasil merampungkan studi S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) International Golden Institute Jakarta tahun 1995

Agaknya, peraih suara terbanyak dengan 260.342 suara pada Pemilu 2014 ini, ingin menuntaskan pendidikan tertinggi ke jengang doktoral atau S-3 di Universitas Negeri Jakarta dan berhasil lulus tahun 1999.

"Saya kemudian merantau ke Jakarta dan sukses. Pahit manis hidup sudah saya rasakan," tutur penyuka pepes ikan lele ini.

Ia pernah menjadi tenaga honorer sebagai peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdikbud pada tahun 1988-1994. Tahun 1995, menjadi dosen Tetap di Universitas Tarumanagara di Jakarta.

Pengalaman sebagai pengajar pernah pula dilakoni di Universitas Pelita Harapan, Jakarta, (1997–2005) dan pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2000-2002.

Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Koster banting stir masuk ke panggung politik. Pilihan politik Koster tepat sebab, akhirnya dia dipilih Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) maju sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali pada Pilkada serentak 27 Juni 2018.

Atas kepercayaan besar ini, Koster merasa momentum ini saatnya ia berbuat untuk Bali, meski semasa menjadi DPR RI banyak hal yang telah dikerjakan untuk tanah kelahirannya. Pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali, Koster siap berjuang tanpa pamrih.

"Tolong dicatat baik-baik, saya siap ngayah secara sekala dan niskala. Saya siap mewakafkan hidup saya untuk Bali, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Bali," tandas pria yang pernah menjabat Wakil Sekretaris jendral Perhimpunan Pemuda Hindu (PERADAH) Indonesia dan Sekretaris jendral DPP Prajaniti Hindu Indonesia.

Berangkat dari itu jugalah, paket yang disebut Koster-Ace itu merumuskan program kerja melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang merevitalisasi Bali secara menyeluruh.

"Alam Bali, manusia Bali dan budaya Bali kita revitalisasi secara holistik," papar dia. Ada lima program kerja prioritas dalam konsep tersebut yakni pertama, pangan sandang dan papan. Kedua kesehatan dan pendidikan.

Ketiga, jaminan sosial dan tenaga kerja. Keempat, adat istiadat, agama, seni, tradisi dan budaya. Kelima, pariwisata yang didukung infrastruktur darat, laut dan udara yang terintegrasi dan terkoneksi.

"Nangun Sat Kerthi itu memelihara dan menjaga keseimbangan serta keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang bahagia dan sejahtera, untuk mewujudkan prinsip Tri Sakti Bung Karno. Hal itu akan diwujudkan melalui program pembangunan semesta berencana," imbuhnuya. (tim)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi