Prajurit TNI Simak Kisah Tokoh Pewayangan dalam "Rahwono Pejah"

Sabtu, 03 Maret 2018 : 10.53
SURABAYA - Pagelaran wayang kilit kali ini nenghadirkan Lakon "Rahwono Pejah" oleh Dalang Ki Purbo Asmoro, disaksikan ribuan prajurit, PNS TNI AL wilayah Surabaya serta masyarakat umum.

Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) V Surabaya Laksamana Pertama TNI Edi Sucipto, S.E., M.M. bersama Pimpinan TNI AL turut menonton pagelaran wayang kulit bersama prajurit dan masyarakat dalam rangka malam prajurit Koarmatim yang digelar di depan Pintu Gerbang Hang Tuah Koarmatim, Ujung Surabaya, Jumat 2 Maret 2018 malam.

Acara nonton wayang dalam rangka malam prajurit Koarmatim ini diawali dengan Penampilan tari gambyong, Penyerahan pagelaran Wayang Kulit dari Asrena Kasal kepada Ki Purbo Asmoro dan Penyerahan cindera mata dari Pangarmatim kepada Kirun CS serta Penampilan Kulintang ibu Jalasenastri Koarmatim.

Ki Purbo Asmoro menampilkan tindakan Rahwana mengundang kemarahan Rama. Dengan bantuan dari raja wanara bernama Sugriwa, Rama menggempur Alengka.

Untuk mengantisipasi serangan Rama, Rahwana mengirimkan pasukan terbaik dipimpin raksasa-raksasa kuat. Serangan pertama dilakukan oleh Hanoman pada saat ia datang ke Alengka sebagai mata-mata untuk menemui Sita.

Dalam pertempuran tersebut, putra Rahwana yang bernama Aksayakumara gugur. Dalam pertempuran selanjutnya, para menteri dan kerabat Rahwana gugur satu persatu, termasuk Indrajit putra Rahwana dan Kumbakarna adik Rahwana.

Pada hari pertempuran terakhir, Rahwana maju ke medan perang sendirian dengan menaiki kereta kencana yang ditarik delapan ekor kuda terpilih. Ketika ia keluar dari Alengka, langit menjadi gelap oleh gerhana matahari yang tak terduga.

Beberapa orang berkata bahwa itu merupakan pertanda buruk bagi Rahwana yang tidak menghiraukannya sama sekali. Pertempuran terakhir antara Rama dengan Rahwana berlangsung dengan sengit.

Pada pertempuran itu, Rama menaiki kereta Indra dari sorga, yang dikemudikan oleh Matali. Setiap Rama mengirimkan senjatanya untuk menghancurkan Rahwana, raksasa tersebut selalu dapat bangkit kembali sehingga membuat Rama kewalahan.

Untuk mengakhiri riwayat Rahwana, Rama menggunakan senjata Brahmastra yang tidak biasa. Senjata tersebut menembus dada Rahwana dan merenggut nyawanya seketika.

Pangarmatim mengucapkan selamat datang kepada para tamu atas kehadirannya untuk menyaksikan pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Ki Purbo Asmoro dan judul "Rahwono Pejah".

Menurut Didik, pagelaran wayang kulit dalam rangka Malam Prajurit Koarmatim Bersama Pimpinan TNI AL dan Masyarakat ini, sudah diagendakan jauh jauh hari untuk peringatan Hari Armada 05 Desember 2017 lalu, namun karena padatnya kegiatan dijadwalkan ulang pada hari ini.

Kesenian Wayang Kulit lanjutnya, adalah warisan budaya leluhur bangsa yang harus dilestarikan layaknya sebuah maha karya agung suatu bangsa.

“Marilah kita nikmati dan budayakan menonton hiburan kesenian daerah Wayang Kulit kepada para pemuda masa kini, bila bukan kita, lalu siapa lagi yang akan melestarikan dan mengembangkan budaya leluhur bang kita ini,” imbuhnya. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi