Perjuangan Koster dalam Bidang Pendidikan Dirasakan Pedagang di Bangli

Minggu, 25 Maret 2018 : 10.21
BANGLI- Calon Gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang terpinggirkan dengan  berempati mendengarkan kalangan buruh dan pedagang kecil seperti saat melakukan blusukan di Pasar Kidul di sela kampanyenya di Kabupaten Bangli.

Usai berkeliling, Koster mampir ke warung kopi sederhana di sudut pasar. Seperti biasa, ia selalu memesan kopi Bali kesukaannya. Sejurus kemudian, ia menyantap pisang goreng yang tersedia di warung.

Pedagang canang di Pasar Kidul Wayan Wartini yang membantu rekannya berdagang kopi kemudian memghampiri kandidat yang diusung PDIP, Hanura, PKB, PAN, PPP dan PKPI tersebut.

Dia ingin mengucapkan terima kasih kepada Koster yang pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali berpasangan dengan Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) itu.

Rupanya, perempuan asal Tegallalang, Bangli itu merasa berhutang jasa kepada Koster. Pasalnya, anak keduanya kini duduk di bangku kuliah Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Ia bisa mengenyam pendidikan tinggi berkat program Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (BIDIK MISI) yang merupakan hasil perjuangan Wayan Koster di DPR RI.

Program BIDIK MISI merupakan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi, tetapi memiliki potensi akademik.

"Saya tahu Pak Koster dari anak saya yang kuliah di ISI namanya Pande Eka. Anak saya merupakan penerima program BIDIK MISI yang merupakan hasil perjuangan Pak Koster," ungkap Wartini, Sabtu 24 Maret 2018.

Kata dia, anak keduanya itu bernasib bagus, tak seperti kakaknya yang hanya lulusan SMA. "Anak pertama tidak bisa melanjutkan kuliah. Lulus SMa saja sudah bagus, itu pun juga dari beasiswa. Anak kedua saya keinginan kuliahnya keras meski saya tidak punya uang. Untung ada program BIDIK MISI yang diperjuangkan Pak Koster," ucap dia.

Wartini percaya Koster merupakan sosok yang amat peduli terhadap masyarakat miskin. Jika berkenan, ia meminta bantuan bedah rumah, oleh karena rumahnya tak beratap yang baik.

"Saya tidak pernah mendapat prioritas bantuan baik itu bedah rumah, raskin mauoun lainnya. Saya terima kasih sama Pak Koster, kalau tidak ada beasiswa BIDIK MISI anak saya tidak bisa kuliah," ujarnya.

Harapan lain datang dari Ketut Suwidnyani asal Banjar Kawan, Kecamatan Bangli. Ia berharap ke depan kabupatennya dapat lebih baik lagi. Ia berpesan kepada Koster agar mampu memperjuangkan pemerataan. Ia juga berharap bantuan permodalan bagi pedagang.

"Ke depannya biar lebih baik Bangli. Pasarnya juga begitu. Rakyat yang punya usaha biar ada bantuan dana untuk pedagang. Biar yang kaya tidak semakin kaya, biar ada pemerataan," harap dia.

Di sisi lain, Wayan Koster bersyukur program yang diperjuangkannya di pusat bisa dinikmati masyarakat Bali. Program BIDIK MISI yang ia perjuangkan memamg diperuntukkan bagi mahasiswa miskin berprestasi.

"Semuanya ditanggun biaya pendidikannya. Kan dapat uang kos juga ya? Kalau tidak salah sekitar Rp550-600 ribu per bulan. Betul dapat ya?" tanya Koster yang dibenarkan oleh Wartini.(*)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi