Lestarikan Taksu Bali, Film Horor "Nyungsang" Siap Hibur Warga Denpasar

Jumat, 16 Maret 2018 : 16.39
DENPASAR – Masyarakat penggemar film horor sebentar lagi bisa menonton suguhan Film layar lebar “Nyungsang” bergenre horor diangkat dari kisah nyata pengalaman mistis salah satu keluarga di Bali yang akan tayang perdana 29 Maret di Denpasar Cineplex.

Karya sineas muda Bali Komang Gases ini dipastikan akan menyuguhkan tontonan yang memacu andrenalin, namun sarat selipan pesan petuah. Adalah Komang Gases selaku sutradara sekaligus produser ini, yang mengaku pembuatan film yang menelan dana hampir Rp 400 juta.

Tujuan pembuatan film ini, tak lain untuk melestarikan taksu seni budaya Bali melalui pendokumentasian film.

“Kenapa kami pilih film? Karena masih sangat jarang yang mengangkat secara visual tentang kehidupan masyarakat Bali yang lekat dengan berbagai ritual budaya dan agama secara dekat dan detaii,” ujarnya kepada wartawan di Denpasar, Jumat (16/3/2018).

Pihaknya membuat film ini dengan setting dan suasana dalam film Nyungsang dengan senatural mungkin, tanpa harus mengorbankan kekuatan cerita dalam film, dengan tujuan cerita dalam film ini mudah dicerna penonton,

"Semuanya kami perhitungkan secara matang. Bahkan untuk kekuatan ceritanya, kami memadukannya dengan sastra, agar spiritnya bisa menyentuh hati para penonton,” tuturnya.

Kendati begitu, bukan berarti dalam pembuatan film yang didukung IKIP PGRI BALI, JAGIR, dan GASES BALI tidak menghadapi berbagai kendala sama sekali. Bahkan menurut Komang, sejak awal pembuatan film ini sudah menemui bermacam tantangan.

Dengan keterbatasan dana, juga pengalaman kami di bidang perfilman namun Komang mengaku puas setelah melihat apresiasi masyarakat yang sebelum antusias. "Sebelum tayang saja, tiket sudah terjual 4800 lembar. Semoga bisa tayang di seluruh Indonesia,” ucapnya bangga.

Ditegaskannya lagi, tujuan utama pembuatan film ini bukanlah untuk mengejar profit. Pihaknya ingin berkarya sekaligus membuktikan bahwa sineas muda Bali tak kalah kualitasnya dengan yang lain

Adapun lokasi syuting film di sejumlah tempat di Bali ini mengisahkan tentang keluarga tragedi yang dialami keluarga Luh Tu Nesti sehingga hanya sang nenek dan cucu yang masih tinggal hidup. Demi mempertahankan garis keturunan, akhirnya sang nenek memutuskan untuk memohon anugrah.

"Ketika anugrah terkabulkan, dia salah artikan sehingga tingkah lakunya terbalik atau nyungsang," sambungnya soal kisah film menyentuh itu. Guna mendukung keberhasilan pembuatan film, dilibatkan 150 pemain ini, pihaknya menyelipkan sejumlah pesan petuah dari warisan kearifan lokal budaya serta tradisi Bali.

"Agar setiap anugrah atau ilmu yang diperoleh, sepatutnya digunakan secara bijaksana supaya tidak nyungsang. Karena akan merugikan bisa merugikan orang lain termasuk kita sendiri," demikian Komang. (*)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi