Ketua AMSI Bali: "Nyepi Siaran" Sejatinya Upaya Memanusiakan Manusia

Minggu, 11 Maret 2018 : 17.10
ilustrasi/dok
DENPASAR - Arti Nyepi secara prinsip lebih pada upaya pengendalian panca indria. Nyepi dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian menjadi jalan bagi upaya meredakan nafsu indria yang ada dalam diri manusia.

Amati Geni memiliki makna tidak menyalakan api termasuk memasak dan berujung pada upaya melakukan puasa. Amati Karya bermakna tidak bekerja dan upaya menyepikan indria. Amati Lelungaan memiliki arti tidak bepergian dan menjadi langkah untuk mengistirahatkan badan. Terakhir, Amati Lelanguan atau tidak mencari hiburan.

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Bali, I Nengah Muliarta mengatakan pelaksanaan Nyepi di Bali setiap tahunnya kini selalu diikuti dengan pelaksanaan mematikan seluruh operasional siaran dari lembaga penyiaran radio dan TV atau yang lebih dikenal dengan Nyepi Siaran.

“Nyepi siaran menjadi sangat unik dan sejalan dengan pelaksanaan Nyepi yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali,” terangnya.

Konsultan Penyiaran di Bali itu melihat, ketika seluruh operasional siaran dari lembaga penyiaran dimatikan secara otomatis mengurangi penggunaan listrik yang juga berarti melakukan amati geni. Dengan tidak mempekerjakan karyawan saat Nyepi memiliki makna yang sama dengan melakukan amati karya.

“Dengan tidak mempekerjakan karyawan berarti lembaga penyiaran memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengistrirahatkan badan dan tidak melakukan kegiatan bepergian, sehingga sejalan dengan amati lelanguan. Dengan tidak bersiaran lembaga penyiaran juga tidak menyediakan sarana hiburan sehingga sejalan dengan konsep amati lelanguan,” jelasnya.

Jika ditelaah lebih dalam maka Nyepi siaran secara prinsip juga menjadi salah satu upaya dalam memanusiakan manusia. Dalam artian memanusiakan para pekerja di lembaga penyiaran, khususnya di Bali.

Memanusiakan manusia khususnya pekerja lembaga penyiaran yang dimaksud adalah menghargai pekerja sebagai manusia yang membutuhkan waktu untuk mengistrirahatkan badan dan pikiran.

“Memberikan waktu kepada pekerja penyiaran untuk melakukan koreksi terhadap berbagai program siaran yang selama ini dibuat. Ketika lembaga penyiaran tidak bersiaran tentu bukan saja pekerja yang umat Hindu saja yang mendapatkan kesempatan untuk mengistirahatkan badan dan pikiran tetapi juga pekerja penyiaran yang non Hindu,” terangnya. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi