Ibu Bunuh Tiga Anak di Bali, Masa Lalunya Alami Trauma dan KDRT

Selasa, 27 Maret 2018 : 00.00
DENPASAR- Tersangka Septiyani dalam kasus pembunuhan tiga anak diketahui sebelumnya mengalami berbagai tindak kekerasan seperti KDRT hingga pengucilan yang mengakibatkan dirinya kehilangan akal sehat dan trauma luar biasa.

Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI)- Bali, telah menjadi kuasa hukum dari Tersangka Septiyani dalam kasus pembunuhan terhadap 3 orang anaknya.

Nyoman Yudara dari LABHI-Bali, menyebutkan, tim kuasa hukum terdiri dari 10 orang atas permintaan dari keluarga tersangka Septyani, sebelumnya telah melakukan pendampingan terhadap Tersangka Septiyani yang pemeriksaannya, pada Jumat 2 Maret 2018.

Pada pemeriksaa kedua Senin 26 Maret 2018, dimulai pukul 10.00 sampai jam 12.35 wita.

"Dalam hasil pemeriksaan, dikemukakan fakta bahwa klien kami telah mengalami kekerasan rumah tangga secara psikis, mengalami trauma luar biasa, luka psikis yang amat dalam, dan gangguan kejiwaan,' tutur Yudara.

Adanya tindakan tersangka Septyani yang bertindak diluar akal sehat tersebut, adalah hasil dari luka psikis dan trauma luar biasa, luka psikis yang amat dalam.

 Selama hidupnya caci maki, pelecehan harga diri, kekerasan, pengkucilan, dialaminya setiap saat sebagaimana tertuang dalam BAP di kepolisian.

Kami sedang memikirkan sesegera mungkin mengungkap fakta tersebut dengan melakukan pelaporan pidana atas KDRT yang dialami Septyani.

Siapa yang diduga sebagai pelakunya kami akan sampaikan pada saat pelaporan nantinya
sebab ada dugaan tersangka adalah korban kekerasan psikis yang menyebabkan tersangka di luar kendali akal sehatnya, sebagai penyebab mengapa klien kami melakukan pembunuhan kepada anaknya.

"Beban pikiran, perubahan psikis atau kejiwaan maupun beban mental yang tersangka rasakan sebenarnya terlalu besar bahkan secara psikologis sebenarnya tidak mampu diwakili dengan kata-kata," sambungnya.

Oleh karena penyidikan masih berlanjut, pihaknya akan meminta masyarakat untuk memandang permasalahan ini secara objektif . Sebab pada dasarnya, pilihan dari tersangka itu adalah hidup mati bersama anak-anaknya.

"Kondisi hidup sekarang ini beban mental itu pastinya semakin bertambah," imbuh Yudara. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi