Berkurangnya Lahan Subur, Tantangan Sektor Pertanian di Bali

Kamis, 08 Maret 2018 : 09.56
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bali Causa Iman Karana
DENPASAR - Pengembangan sektor petanian di Provinis Bali ke depan menghadapi tantangan cukup berat seiring semakin berkurangnya lahan-lahan subur. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana menyatakan hal itu, menyoal peluang dan tantangan pengembangan sektor pertanian di Pulau Seribu Pura.

Diketahui, pertanian masih memegang posisi strategis bagi perekonomian deerah Bali. Hal ini terlihat dari kontribusi sektor yang banyak menyerap tenaga kerja ini mencapai 14 persen.

“Kalau potensi yang ada bisa dikelola dengan baik maka sektor ini bisa memberikan daya dukung ekonomi yang lebih besar lagi ke depannya,” ujar Iman kepada wartawan di Denapsar, Rabu (7/3/2018).

Banyak komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi dimiliki Bali di antaranya bawang merah, kopi, kakao, jeruk dan rumput laut. Bahkan kopi Kintamani sudah sangat terkenal hingga menembus ekspor.

Hanya saja, diakui ke depannya tantangan yang dihadapi sektor pertanian cukup besar, karena makin berkurangnya lahan akibat alih fungsi ke sektor non pertanian serta jumlah petaninya yang semakin sedikit.

“Ini kendala yang harus bisa diatasi. Membuka lahan baru (ekstensifikasi lahan) memang sangat sulit karena terbatasnya lahan dan harga yang tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, menjaga kualitas produk dibarengi peningkatan produksi sangat penting dalam mengatasi tantangan ke depan. Dengan produksi yang tinggi disertai kualitas yang bagus, maka nilai jual akan menguntungkan petani,” imbuhnya.

Di pihak lain, BI KPw terus berupaya mengajak petani untuk mengembangkan usaha taninya melalui kluster di kabupaten-kabupaten di Bali. Dengan mengembangkan demplot komoditi sesuai potensi petani diharapkan pertanian akan semakin berkembang. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi