Bangun Kesadaran Masyarakat, BNPB Terus Sosialisasikan Hari Kesiapsiagaan Bencana

Sabtu, 24 Maret 2018 : 10.37
Kepala BNPB Willem Rapangile saar sosialisasi hari kesiapsiagaan bencana (HKB) di Nusa Dua
NUSA DUA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rapangilei menegaskan penanggulangan bencana merupakan kegiatan yang kompleks, karena dampaknya sangat luar biasa.

Jika melihat fakta dan data, kejadian bencana dari tahun ke tahun tidak menunjukkan penurunan.
 
Selama tahun 2016, sebanyak 561 orang meninggal dunia. Sedangkan tahun 2017 tercatat sebanyak 377 orang meninggal dunia akibat bencana.

Dari data tersebut, jumlah korban akibat bencana memang turun secara signifikan. Namun jumlah bencananya relatif tetap dan cenderung meningkat kedepan.

Menurutnya, tantangan kedepan akan semakin meningkat dan diprediksi akan terus ada potensi baru bencana. Seperti yang sudah terjadi, titik bencana untuk gempa tahun 2010 tercatat sebanyak 185.

"Lalu, pada  tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi 295. Titik bencana gempa peningkatanya sangat drastis," ucapnya disela acara sosialisasi hari kesiapsiagaan bencana (HKB) di Nusa Dua, Jumat (23/3/2018)

Selain bencana, juga adanya perubahan iklim yang sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Belum lagi terjadinya degradasi lingkungan sehingga, banyak hal lain yang menyebabkan bahwa kedepannya penanggulangan bencana perlu dilakukan dengan serius, secara konsepsional dan diikuti oleh semua masyarakat.

"Karena kompleksnya dampak dari bencana termasuk penanganannya yang multi dimensi. Maka tidak mungkin hanya pemerintah sendiri yang melakukan upaya penanggulangan bencana. Penanggulangan bencana menjadi urusan bersama," tegasnya.

Diketahui, negara Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Oleh karena itu, maka pihaknya menginisiasi hari kesiapsiagaan bencana untuk membangun kesadaran, awareness, intuisi masyarakat dalam menghadapi bencana.

"Tujuan dari peringatan ini adalah membangun kapasitas dan kapabilitas mulai dari individu, kelompok masyarakat, pemerintah dan semua pihak bahkan stakeholder yang ada. Dengan harapan kita semua selamat dari bencana," harapnya.

Bali dipilih sebagai pusat sosialisasi ini karena Bali memiliki potensi pariwisata yang sangat tinggi dengan penduduk yang sangat padat. Selain itu, Bali juga termasuk provinsi yang rawan terhadap bencana.

"Kegiatan seperti ini juga untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat, kepada dunia bahwa Bali itu aman," sambungnya.

Apalagi nanti pada bulan Oktober mendatang, akan diadakan pertemuan IMF World Bank. Dalam hal ini, harus bisa menciptakan rasa aman dan rasa nyaman dalam penyelenggaraan IMF nanti.

Melihat aspek keamanan yang diakibatkan ulah manusia, akan ditangani oleh TNI dan Polri. Sedangkan khusus untuk bencana akan dilakukan oleh BNPB, BPBD dan masyarakat semuanya.

Skenario ancaman bencana yang paling mungkin terjadi saat itu, pertama adalah erupsi gunung, kedua gempa dan tsunami. Dua skenario itu yang akan dipertimbangkan apabila itu nanti terjadi, dan langkah apa yang harus dilakukan.

Karenanya, dari panitia IMF, meminta agar ada emergency plan, evacuation plan yang jelas. Hal itulah nanti yang akan diujicobakan pada pelaksanaan HKB tanggal 26 April mendatang.

"Prinsipnya bagaimana mewujudkan rasa aman dan rasa nyaman bagi seluruh masyarakat di Bali, khususnya untuk para tamu peserta kegiatan IMF Worl Bank," tutupnya. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi