Tahun Baru Imlek dan Sejarah Muslim Indonesia

Rabu, 14 Februari 2018 : 22.42
Tahun Baru Imlek/net
Tahun Baru Imlek di mana sebagian warga negara Indonesia baik etnik Tiong Hoa ataupun bukan berkumpul bersama keluarga ini, saya ingin manfaatkan untuk mengulas Imlek sebagai momen perayaan peradaban tua dan sejarahnya bagi pertumbuhan Muslim di Nusantara.

Merayakan Peradaban Manusia yang Sudah Tua
Perihal Imlek di Indonesia biasanya kerap dibahas kontroversinya karena dugaan bahwa tahun baru ini terkait dng agama Buddha atau Khonghucu. Muasal yang menyebabkan salah duga ini adalah karena Presiden Megawati pernah menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari raya agama Khonghucu.

Maklum saja, umumnya di Indonesia hari libur nasional kerap terkait hari raya agama, seperti Natal, Nyepi, Tahun Baru Hijriah, Galungan, dan lain-lain. Padahal dari penamannya saja, di dunia internasional sendiri istilahnya Chinese New Year, bukan Confusianist, Taoist, Budhist.

Dalam takaran itulah bagi Muslim yang di Indonesia, sama seperti mengucapkan selamat Tahun Baru 2018, Insya Allah tidak ada larangan dalam Islam untuk sekadar mengucapkan Gong Xi Fat Cai, selamat tahun baru Imlek 2569.

Imlek sejatinya bukan upacara agama. Ia hitungan tahun China yang sudah 2569 tahun dengan menggunakan kombinasi pola perputaran matahari dan perputaran bulan (lunisolar: lunar dan solar).

Tahun Baru Imlek jauh lebih tua dari tahun Masehi yang baru 2018 tahun, apalagi dengan tahun hijriyah Islam yang baru 1439 tahun. Jadi kita menghormatinya sebagai salah satu petanda peradaban manusia yang sudah tua.

Etnik Tiong Hoa sebagai Warga Pelabuhan
Indonesia berbeda dng banyak negara lain. Kalau negara lain umumnya negara-bangsa, sementara Indonesia adalah negara segala bangsa. Oleh sebabnya, tidak terkecuali mencakup etnik Tionghoa yang sejarahnya panjang.

Termasuk dalam sejarah berkembangnya Muslim yang agamanya dipeluk mayoritas warga Indonesia. Dalam sejarah Muslim di Indonesia terutama sejak era Majapahit, sesungguhya telah terjadi sintesa Muslim Jawa dengan Tiong Hoa

Dijumpai pegawai pelabuhan Majapahit yang Muslim. Ini terekam dalam catatan Ma Huan, juru tulis Laksamana Cheng Ho yang datang ke Majapahit era raja ke empat Wikramawardana.

Digambarkan banyak orang Muslim Tiong Hoa di Majapahit yang diangkat guna berkomunikasi bahasa Arab dan/atau Melayu dengan saudagar asing yang Muslim.

Catatan Yingya Shenglan (1416) juga menyebutkan tiga elemen warga pelabuhan: Nusantara, Arab, Tiong Hoa. Orang-orang Muslim dari Tiong Hoa yang dipimpin Cheng Ho lantas melebur dengan Muslim Tiong Hoa setempat.

Etnik Tionghoa dalam Genealogi Kerajaan Islam
Salah satu sejarah awal etnik Tionghoa dalam genealogi sejarah pemimpin-pemimpin Nusantara itu bermula dari Raja ke empat Majapahit Wikramawardana/Brawijaya III yang menikahi selir seorang Tiong Hoa yang kemudian melahirkan putra bernama Hoa Swan Liong.

Hoa Swan Liong kemudian setelah masuk Islam bernama Arya Damar/Arya Abdillah atau Jaka Dillah. Arya Damar di kemudian hari merupakan 'bapak tiri' dari Raden Patah. Arya Damar aselinya adalah paman dari Raden Patah.

Raden Patah (asal kata al-Fatah Sang Pembuka/Penakluk) mempunyai nama Tiong Hoa: Jin Bun (orang kuat) anak dari ibu berdarah Tiong Hoa putri dari Kyai Batong/ Ma Hong Fu. Ia di kemudian hari menjadi Sultan Demak yang merupakan Raja pertama kerajaan Mataram Islam.

Arya Damar /Hoa Swan Liong menjadi bapak tiri Raden Patah/Jin Bun karena Ayah dari Raden Patah, Raja Kertabhumi/ Brawijaya V menceraikan ibunya yang Tiong Hoa tsb, karena kecemburuan sang permaisuri dari Campa.

Etnik Tionghoa dalam Genealogi Ulama dan Tokoh Agama
Setelah dewasa, Raden Patah menolak menjadi penerus Arya Damar sebagai Adipati Palembang. Kemudian bersama adik tirinya (Raden Kusen) berguru ke Bong Swi Hoo yang lebih masyhur dikenal sebagai Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur.

Setelahnya, Raden kesenengan mengabdi ke Majapahit, Raden Patah membuka pesantren di hutan Glagahwangi, Jawa Tengah. Glagahwangi ini yang kemudian berubah nama menjadi Demak dengan ibukota di Bing-to-lo (ejaan Tiong Hoa untuk Bintoro).

Bong Swi Hoo/ Sunan Ampel adalah keponakan permaisuri Brawijaya V (Kertabhumi/ Kung-ta-bu-mi) yang juga adik dari ibu beliau Amarawati. Tak heran kalau kiprah Sunan Ampel di wilayah Majapahit dilindungi penuh oleh Kertabumi meski berbeda agama.

Kaum Muslim Tiong Hoa era Cheng Ho pun sempat merambah ke pulau Bali. Di Buleleng, Labuhan Haji, Desa Temukus terdapat makam kuno tokoh Muslim bernama The Kwin Lies atau dikenal Syekh Abdul Qadir Muhammad.

Makam ini juga dikenal dengan nama Keramat Karangupit. Diprediksi kedatangan beliau beberapa tahun setelah ekspedisi Cheng Ho, sekitar 1406-1430 (abad XI).

Bagi peradaban Indonesia memang fakta sejarahnya sintesa yang terjadi dalam pembentukan manusia Indonesia setingkat lebih beragam dari bangsa-peradaban lain. Maka selayaknya negeri kita terwariskan budaya apresiasi dan kebijaksanaan setingkat lebih tinggi dari negara lain. (Dr. H. Arya Sandhiyudha, S.Sos, M.Sc)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi