Seniman Krisna Murti Berbagi Video Karya Seni Pendek

Kamis, 08 Februari 2018 : 05.48
ilustrasi karya Krisna Murti
DENPASAR - Krisna Murti, seniman bereputasi internasional dan telah melanglang buana berbagai negara akan berbagi pengalaman berkreatif dalam membuat video pendek.

Lewat program kelas Kreatif Bentara, kegiatan berlangsung selama dua hari Kamis (8/2) hingga Jumat (9/2/2018), di Bentara Budaya Bali (BBB) Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, Ketewel, Gianyar.

Krisna merupakan seniman yang kerap melakukan kolaborasi lintas bidang dan menghasilkan video art yang imajinatif serta berlapis arti.

Karyanya mulai dikenal ketika menampilkan video performance, instalasi, dan foto dalam pameran tunggalnya di tahun 1993 yang berjudul “12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai” di Studio R-66, Bandung.

Selain menguraikan pemanfaatan teknologi IT terkini, pada lokakarya ini, Krisna Murti juga akan memperdalam pengalaman mengenai proses cipta serta bagaimana video yang dapat menampilkan keutuhan visual dan pesan yang esensial, walau berdurasi 1 hingga 2 menit.

Sejumlah 30 peserta terpilih mengikuti workshop seni video pendek bersama Krisna Murti ini. Secara khusus, lokakarya mengetengahkan pembekalan teori, diskusi dan praktik pengambilan gambar di sekitar lokasi Bentara Budaya Bali, hingga penyuntingan video yang diakhiri video screening hasil workshop.

“Saya ingin membagikan kepada publik, khususnya generasi muda di Bali, perihal bagaimana strategi estetik menjadikan bahasa video yang efektif, singkat, padat, dan penuh arti,” ungkap Krisna Murti.

Kelas Kreatif tentang video pendek ini diniatkan sebagai sebuah upaya memperkenalkan ragam video tertaut kerja seni.

Penggalian wacana dalam konteks yang lebih luas, internasional, guna menemukan perspektif baru bagi generasi muda Bali kini di tengah penggunaan video dan teknologi canggih semata hanya untuk memuaskan gaya hidup dan hal-hal yang cenderung tidak kreatif.

Menurut Krisna, seni video adalah gubahan gambar bergerak yg menggunakan teknologi video. Basis pemahamannya: bayang adalah realitas, kenyataan.

“Bali sebagai salah satu basis peradaban bayang memiliki akar yang kuat dan sejatinya relevan bila ada kesediaan kembali kepada jatidirinya melalui esensi dari kultur wayang sebagai bayang,” kata Krisna.

Di sisi lain, video terbukti tidak hanya menyangkut perihal artistik, hiburan dan gaya hidup serta sumber informasi, namun juga bisa menjadi media pendorong terjadinya perubahan sosial kultural warga menuju kehidupan yang lebih terbuka.

"Ini, sekaligus juga sarana pergaulan sosial untuk membangun solidaritas," katanya. Dalam workshop di Bali ini para peserta diajak membaca peta dinamika situasi dan dinamika kultur Bali di tengah perubahan konteks dunia.

Berbagai varian ide peserta yang khas dan otentik dari individu maupun kelompok kerja didorong menjadi semacam seminar konseptual yang kemudian dilanjutkan menjadi karya karya seni video pendek,” ujar Krisna Murti.

Krisna melibatkan Ketut Sumerjana dan Asok Nagara yang telah berpengalaman sebagai pendamping dalam workshop kali ini. Selama tahun 1976-1981 Krisna mendapat pendidikan seni di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Rupa Bandung.

Krisna kemudian juga mengikuti residensi dan workshop, antara lain: residensi “Art Exchange Program” di Jepang (1999); “Workshop on Asean Art” di Singapura (1999); dan LASALLE College of Art, Singapura (2006 & 2010). (gek)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi