Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran

Rabu, 14 Februari 2018 : 07.12
Wisatawan domestik menikmati keindahan alam di salah satu pos puncak Gunung Api Purba Nglanggeran Gunung Kidul
YOGYAKARTA - Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyimpan banyak obyek wisata alam menarik diantaranya Gunung Api Purba dan Embung Kebun Buah Nglanggeran Kecamatan Patuk mengandalkan ekowisata unik yang mulai digandrungi wisatawan dalam dan luar negeri.

Gunung Api Purba yang pernah aktif 30 sampai 60 juta tahun lalu itu, menyediakan spot-spot indah khususnya bagi mereka yang suka berselfie hingga fotografer profesional. Keindahan yang ditawarkan bagi pengunjung, memang tidak didapat dengan mudah.

Pengunjung harus berjalan kaki, menaiki liku-liku jalan setapak nan terjal di gunung dengan ketinggian 200-700 mdpl. Bagi yang tidak memiliki stamina prima, tentu mendaki gunungapi yang berjarak 25 kilometer dari Kota Yogyakarta itu, akan terasa berat.

Rombongan jurnalis yang mengikuti Lokakarya Kehumasan dan Kebanksentralan Bank Indonesia Provinsi Bali mulai 9-11 Februari 2018, tentu tidak memanfaatkan kesempatan langka ini.

Deputi Direktur Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bali Azka Subhan juga tampak menikmati perjalanan wisata penuh tantangan dan memacu andrenalin itu.

Sebagian besar peserta dan lokakarya didampingi pemandu dan pengelola ekowisata Nglanggeran, setelah melewati lorong sumpitan, berhasil juga sampai ke Pos satu.

Sepanjang, rute pendakian, terdapat beberapa obyek foto menarik yang sayang jika dilewatkan seperti aneka macam tanaman Termas yang konon mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, gua, artefak buatan hingga Gunung Bagong.

"Wisatawan yang datang masih didominasi domestik, sebagian kecil atau 20 persen wisatawan asing," kata salah seorang pengelola wisata Sugeng Widodo.

Dijelaskan Sugeng, sejak dibuka untuk umum tahun 2015, memang obyek wisata ini dibanjiri wisatawan hanya saja, persoalan muncul karena tak sedikit pengunjung yang tidak bisa menjaga lingkungan. Banyak aksi corat-coret, hingga kerusakan lainnya akibat ulah orang tidak bertanggungjawab.

Karena itulah, kebijakan pengelola wisata yang berbasis masyarakat setempat itu, mulai dibuat dengan membatasi jumlah pengunjung agar kelestarian lingkungan terjaga. Selain lewat menaikkan tarif juga membuat aturan dan ketentuan yang mesti ditaati pengunjung.

Selain obyek wisata alam, pengunjung juga bisa melihat keberadaan kampung pitu yang berada di puncak gunung.

"Kawasan ini, hanya boleh dihuni tujuh kepala keluarga saja, kepercayaan itu sudah turun menurun dan harus ditaati sesuai pesan sesepuh pepunden Dusun Tlogo yakni Eyang Iro Dikromo," tutur Sugeng.

Embung kebun buah Nglanggeran di Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul
Yang tak kalah menariknya dari ekowisata ini adalah embung kebun buah nglanggeran seluas 0,34 hektar. Embung tempat menympan air hujan ini mampu mengairi kebun buah seluas 20 hektar untuk tanaman buah durian dan kelengkeng.

Berada sekira 1,5 kilometer arah tenggara Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba, memiliki pemandangan mengagumkan.

Belantara hutan dan hamparan perbukitan menghijau nampak menyuguhkan pemandangan indah. Sejuknya udara kawasan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki dan semilir angin membuat pengunjung betah berlama-lama di kawasan ini.

Keberadaan embung ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena mereka mendapat transfer teknologi karena ada kerja sama dengan LIPI. Kemudian masyarakat difasilitasi sehingga bisa mengolah coklat atau kakao di kawasan tersebut. Juga, menjadi salah satu binaan Bank Indonesia yang membantu peralatan produksi.

"Pasar juga masyarakat dibantu bahkan sering berkesempatan diajak pameran dan pengenalan lainnya," imbuh Aris Budiyono, pegiat ekowisata lainnya. Kawasan ini semakin memikat bagi pengunjung karena dikemas menjadi atraksi daya tarik paket wisata.

Pengembangan wisata kawasan ini, juga berbasiskan kepada pemberdayaan masyarakat. Selain tanaman coklat, durian atau kelengkeng, Warga yang memiliki fasilitas rumah homestay atau pendopo juga dipromosikan sehingga lebih dikenal wisatawan.

Wisatawan yang datang selain menikmati keindahan alam atau berlibur berakhir pekan bisa menginap di penginapan-penginapa yang disediakan penduduk. Selain itu, mereka juga bisa membeli oleh-oleh cindera mata seperti minuman coklat atau aneka macam olahan coklat yang dibuat penduduk setempat.

"Alhamdulillah sebelum panen, mereka sudah panen wisatawan sehingga pemberdayaan masyarakat bisa dirasakan," imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Deputi Direktur Kepala Bank Indonesia Bali Azka Subhan mengatakan, apa yang dilakukan masyarakat Nglanggeran, dalam memanfaatkan, mengoptimalkan sumber daya alam baik pariwisata maupun hasil perkebunan coklat, bisa menjadi perbandingan bagi para petani coklat di Bali.

"Saya kira, pemberdayaan masyarakat dengan terobosan yang dilakukan bisa dicontoh petani-petani coklat kita di Bali," sambungnya. Terobosan mulai dari proses pengolahan, produksi hingga pemasaran bisa dijadikan sharing pembelajaran positif.

Bagaimana masyarakat setempat mampu mensinergikan potensi yang dimiliki dengan berbagai sektor antara perkebunan dan pariwistaa sehingga memberi nilai tambah bagi tingkat kesejahteraan mereka. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi